SYAKHRUDDIN.COM – Tulisan Rektor UIN yang berjudul “Perdaman di Tengah Pandemi” mendapat respon balik dari Mantan Dekan FDK, Prof DR H Abd Rasyid Masri, M.Pd, MM, M.Si.
Berikut tanggapan beliau ; Menarik tulisan pak rektor judul ‘peradaban di tengah pandemic ‘ namun kontentnya lari …mirip …pertanggungjawaban akhir masa bakti kepemimpinan seorang rektor mengungkap capaian kepemimpinan dan menjalankan tahun ke 3 kepemimpinan.
“Sebagai senator yang punya hak tanya dan memberi saran pimpinan UINAM”, laporan dlm tulisan tersebut, untuk satu sisi fisik lingkungan yang kecil kecil membuat taman bunga sudah bagus ‘ t
Tapi sepanjang rektor-rektor di IAIN dan UIN belum ada rektor yg selalu memuji -muji prestasi sendiri dan mengungkap ke publik, menilai kesuksesan sendiri dan menulis ke publik sendiri.
Mestinya, tidak perlu, biarkan itu urusan senat yg menilai nanti, tidak usaha selalu di publikasi ke ruang ruang publik masyarakat luas , karena nanti publik ikut menyoroti dan mengkritisi UINAM.
Setelah mendapat masukan, kritik dan protes … lalu bertanya, kenapa dikritisi, kenapa di protes … jelas karena rektor sendiri yang minta di beri penilaian, ruang ke publik karena kita tidak tahu, tiap-tiap dosen, apalagi senator punya penilaian masing masing.
Apalagi mahasiswa dan masyarakat, cukup banyak yang bisa dikritisi publik, terutama penggunaan anggaran yang cukup besar di sektor BLU berorientasi pisik ..satu contoh saja, anggaran clearning service di UIN Alauddin terlalu membengkak, dari sebelumnya hanya maksimal 2 milyar, kontrak dengan pihak ke tiga … itupun sudah mencakup kebersihan semua ruang kelas setiap hari dan lingkungan luar kampus.
Sekarang bengkak, boros 5 miliyar dan tak ada aktivitas di kelas setiap saat , coba bandingkan, belum lagi kalau diaudit penggunaan anggaran-anggaran fisik kampus lainnya, cukup besar memakai dana BLU hasil SPP mahasiswa seperti perbaikan jalan kita apresiasi perbaikan jalan, tapi kalau pakai dana BLU kurang pas.
Mestinya anggaran APBN atau hasil bantuan luar kampus, sebab kalau yang idealnya, pembagunan fisik kampus itu, di alokasikan anggaran APBN pemerintah atau hibah bantuan luar, bukan mengandalkan dana penerimaan BLU dari SPP mahasiswa di pakai untuk infrastruktur.
Sebab filosofis fungsi dana BLU itu, bukan untuk fisik lingkungan kampus yg besar besar, walaupun boleh saja secara terbatas , tapi dana BLU itu dana untuk Kesejahteraan dosen, pelatihan dan peningkatan kinerja staf, seperti peningkatan kesejahtraan remunerasi dosen, peningkatan kualitas SDM dosen, penguatan lembaga kemahasiswaan, penelitian dan dana untuk pengabdian masyarakat dan staff serta perbaikan sistem tata kelola akademik dan keuangan, penguatan prodi-prodi dan seterusnya.
Indikator keberhasilan dapat di bandingkan anggaran saldo BLU periode sebelumnya lebih dari 100miliyar di tinggalkan rektor sebelumnya, di terima diawal kepemimpinan dan indikator keberhasilan, tentu di lihat nanti dari rasio anggaran, apakah akan ada peningkatan saldo penerimaan saldo BLU di akhir kepemimpinan atau justeru menghabiskan atau menurun.
Itu jadi indikator utama dan seterusnya sampai kepada indeks kesejahetraan fakultas fakultas dan jurusan jurusan dst…
Saran saya kepada pak rektor, belum waktunya mengungkap prestasi dan mempublikasikan sendiri ke ruang publik, karena konsekuensinya siap dikritisi publik
yang memiliki hak berpendapat, apalagi senator yang fungsi utamanya dalam statuta mengawasi dan memberi masukan kpd rektor.
Jadi saran saya sebagai senator UINAM … mungkin hal hal yg berkaitan dengan laporan kinerja dan pertanggungjawaban anggaran, cukup sementara di forum senator, dilaporkan sebagai wadah resmi.
Kalau sering di tulis rana publik, tentu memiliki implikasi eksternal …biarkan publik menilai sendiri soal. Demikian tks.
Tanggapan Prof Rasyid diatas, dimuat utuh pada blog : Syakhruddin.Com sebagai bahan berfikir cerdas bagi insan akademis dan para penggiat pendidikan di Kampus Bermartabat, Samata Kabupaten Gowa (***)
