SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad datang membawa suasana yang berbeda. Setelah enam hari bergelut dengan kesibukan, hari ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, berkumpul bersama keluarga, dan mensyukuri perjalanan hidup yang telah dilalui.
Ahad bukan sekadar nama sebuah hari, tetapi kesempatan untuk mengembalikan tenaga, menata hati, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi hari esok.
Dalam suasana Ahad yang teduh, kita boleh menikmati secangkir kopi, berbincang bersama keluarga, beribadah dengan lebih tenang, atau sekadar duduk menikmati pagi tanpa harus terburu-buru.
Sebab hidup bukan hanya tentang mengejar sesuatu, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus berhenti untuk menikmati apa yang telah dimiliki.
Ahad juga menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Setelah matahari terbenam nanti, Senin akan mengetuk pintu kehidupan. Rutinitas kembali dimulai, pekerjaan menanti, tanggung jawab kembali dipikul.
Karena itu, manfaatkan Ahad sebaik-baiknya: istirahatkan tubuh, tenangkan pikiran, kuatkan doa, dan siapkan semangat.
Catatan sejarah; Setiap tanggal memiliki cerita. 30 Agustus juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah dunia.
Pada 30 Agustus 1963, Amerika Serikat dan Uni Soviet membuka jalur komunikasi langsung antara Washington dan Moskwa yang kemudian dikenal sebagai “hotline”, sebagai salah satu upaya mengurangi risiko salah komunikasi di tengah ketegangan Perang Dingin.
Tanggal yang sama pada 1918 juga dikenang karena terjadinya percobaan pembunuhan terhadap pemimpin Revolusi Rusia, Vladimir Lenin, di Moskwa. Sementara itu, pada 30 Agustus 1991, Azerbaijan memproklamasikan kemerdekaannya dari Uni Soviet.
Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa sebuah tanggal bukan sekadar angka dalam kalender, tetapi kumpulan jejak manusia—tentang perjuangan, ketegangan, perubahan, dan harapan.
Maka Ahad, 30 Agustus 2026, biarlah menjadi satu halaman kecil dalam sejarah kehidupan kita. Tidak harus diisi dengan peristiwa besar.
Cukup dengan kebaikan sederhana: menyapa keluarga, berbagi senyum, memperbanyak syukur, dan menyiapkan hati untuk menjalani hari-hari berikutnya.
Pantun Ahad Pagi Ahad memetik melati, Harumnya semerbak di halaman rumah. Hari ini waktunya menata hati, Esok Senin kembali melangkah penuh semangat.
Sulsel Dalam Bayangan Narkoba; Sulawesi Selatan dikenal sebagai tanah yang kaya—kaya budaya, kaya tradisi, kaya sumber daya, dan kaya manusia yang memiliki semangat untuk maju.
Tetapi di balik wajah itu, kini ada kabar yang membuat kita patut menundukkan kepala: narkoba semakin menjadi ancaman serius di Sulawesi Selatan.
Data BNN yang dikutip sejumlah media bahkan menempatkan Sulsel dalam jajaran teratas secara nasional dalam persoalan penyalahgunaan dan kasus narkotika.
Yang lebih menyedihkan, narkoba tidak lagi sekadar cerita tentang lorong-lorong gelap dan dunia kriminal. Ia bisa mengetuk pintu rumah, menyusup ke lingkungan pergaulan, bahkan mendekati anak-anak muda yang seharusnya sedang menyiapkan masa depan.
Karena itu, persoalan narkoba bukan hanya urusan polisi dan BNN. Ini adalah urusan keluarga, sekolah, kampus, tokoh agama, pemerintah, dan seluruh masyarakat.
Upaya pencegahan bahkan mulai diarahkan ke sekolah-sekolah, seperti Program Sekolah Bersinar yang melibatkan 37 SMA di Luwu Timur.
Maka viralnya kabar tentang Sulsel di peringkat kelima jangan hanya dijadikan angka untuk diperbincangkan. Jadikan ia sebagai alarm yang membangunkan kita.
Sebab satu angka di atas kertas bisa berarti satu anak kehilangan masa depan, satu keluarga kehilangan harapan, dan satu generasi kehilangan arah.
Sulsel tidak boleh dikenal karena tingginya angka narkoba; Sulsel harus dikenal sebagai daerah yang bangkit melawan narkoba.
Sunni Dan Syiah Berbeda Di Jalan, Bersua Dalam Kemanusiaan; Ahad pagi selalu datang dengan wajah yang lebih tenang.
Jalanan belum sepenuhnya ramai, matahari perlahan menumpahkan cahaya, sementara sebagian manusia memilih beristirahat setelah enam hari mengejar waktu.
Pada suasana seperti inilah kita layak bertanya: mengapa perbedaan yang seharusnya menjadi warna kehidupan, terkadang justru berubah menjadi tembok pemisah?
Pertanyaan itu membawa kita kepada sejarah panjang Sunni dan Syiah. Dua tradisi besar dalam dunia Islam, yang memiliki perbedaan dalam sejumlah persoalan keagamaan dan sejarah, tetapi sama-sama hidup dalam bentangan umat yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Sejarah telah mencatat, perbedaan itu tidak selalu berjalan dengan tenang. Ada masa ketika perbedaan menjadi perdebatan, perdebatan berubah menjadi kecurigaan, dan kecurigaan akhirnya melahirkan permusuhan.
Betapa mahal harga yang harus dibayar ketika perbedaan kehilangan kebijaksanaan. Tetapi hari ini, suara yang menyerukan persatuan kembali terdengar dari berbagai penjuru dunia Islam.
Bukan persatuan yang memaksa seseorang meninggalkan keyakinannya, bukan pula upaya menghapus identitas mazhab, melainkan ajakan untuk menemukan ruang bersama.
Sebab seorang Sunni tidak harus menjadi Syiah agar dapat menghormati seorang Syiah; demikian pula seorang Syiah tidak harus menjadi Sunni untuk dapat hidup berdampingan dengan saudaranya.
Bukankah ada sesuatu yang lebih besar daripada perbedaan itu sendiri? Kemanusiaan. Ketika seorang anak kehilangan rumah karena perang, ia tidak lebih dahulu bertanya apakah tangan yang menolongnya Sunni atau Syiah.
Ketika seorang ibu menangis kehilangan anaknya, air matanya tidak mengenal mazhab. Dan ketika manusia menghadap Tuhan, tidak ada seorang pun yang membawa sertifikat kemenangan karena berhasil mengalahkan saudaranya dalam perdebatan.
Maka Ahad mengajarkan kita untuk menurunkan suara, membuka hati dan mengingat kembali: perbedaan boleh tinggal di kepala, tetapi persaudaraan harus tetap tinggal di hati.
Mungkin Sunni dan Syiah belum benar-benar menjadi satu dalam seluruh persoalan. Dan mungkin perbedaan itu akan tetap ada sampai waktu yang panjang.
Tetapi bukankah kedamaian tidak selalu membutuhkan keseragaman? Bunga-bunga di taman tidak pernah bertanya mengapa warna mereka berbeda.
Mereka hanya mekar, memberi keindahan kepada siapa saja yang memandang. Demikian pula umat manusia. Kita tidak harus memiliki warna yang sama untuk menghadirkan keindahan bersama.
Yang perlu kita lawan bukan saudara yang berbeda, melainkan kebencian yang membuat kita lupa bahwa di balik perbedaan itu, kita sama-sama manusia.
Ahad pun perlahan bergerak menuju petang. Esok Senin, kehidupan kembali mengetuk pintu dengan segala kesibukannya.
Semoga sebelum kita melangkah ke hari baru, kita telah belajar satu perkara: jangan wariskan kebencian kepada generasi berikutnya hanya karena kita gagal berdamai dengan perbedaan.
Biarkan anak-anak kita mengenal Islam bukan dari suara saling mencaci, tetapi dari tangan yang saling menolong, hati yang saling menghormati, dan kehidupan yang menghadirkan rahmat.
Sampai di sini jumpa kita hari ini. Semoga esok, Senin 31 Agustus 2026, kita kembali dipertemukan dalam keadaan sehat, bahagia, dan penuh semangat untuk menjalani hari-hari yang telah menanti.
Senin esok juga menjadi penghujung bulan Agustus. Pada sore harinya, setelah selama sebulan penuh Sang Merah Putih berkibar di depan rumah kita, tibalah saatnya bendera itu diturunkan dengan penuh penghormatan.
Bukan karena semangat kemerdekaan telah berakhir, tetapi karena kita sedang menutup satu lembar perjalanan untuk membuka lembaran berikutnya.
Dan ketika malam tiba, Agustus akan meninggalkan kita, disusul datangnya 1 September 2026. Kalender berganti, hari terus berjalan, sementara kehidupan mengajarkan satu hal: waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Karena itu, mari kita tutup Agustus dengan rasa syukur dan membuka September dengan harapan. Semoga hari-hari yang akan datang membawa kesehatan, ketenteraman, rezeki yang berkah, serta kesempatan untuk terus berbuat baik kepada sesama.
Pembaca MoKa yang setia, selamat berbahagia. Sampai jumpa esok hari dalam lembaran MoKa berikutnya.
Tetaplah bersama kami, karena setiap hari selalu menyimpan cerita dan setiap cerita selalu menghadirkan makna.
Pantun Ahad: Burung merpati terbang beriring,
Hinggap sejenak di pohon delima.
Beda mazhab bukan alasan berpaling,
Persaudaraan jangan pernah sirna.