Mozaik Kehidupan Edisi Selasa 10 Maret 2026
SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, Ramadan berjalan dengan langkah yang lembut. Hari-hari berlalu tanpa terasa, membawa kita perlahan mendekati penghujung bulan suci. Dalam perjalanan waktu yang sunyi itu, manusia seakan diajak berhenti sejenak, merenungi hidup, menimbang iman, dan menyadari betapa luas kasih sayang Tuhan yang menaungi semesta.
Ramadan sesungguhnya adalah sekolah sunyi bagi kejujuran manusia. Tidak ada kamera yang mengawasi, tidak ada atasan yang mencatat. Bahkan orang-orang terdekat pun sering kali tidak mengetahui apa yang kita lakukan. Dalam ruang sunyi itu hanya ada dua saksi: hati dan Tuhan.
Seseorang bisa saja menutup pintu rapat-rapat, meneguk seteguk air atau mencicipi sepotong makanan. Tidak ada yang melihat. Namun jutaan orang tetap memilih menahan diri. Di situlah puasa menemukan maknanya yang paling dalam: kejujuran yang lahir dari kesadaran, bukan dari pengawasan.
Puasa mengajarkan bahwa integritas tidak tumbuh di panggung ramai. Ia tumbuh di ruang-ruang sepi. Ketika lapar datang dan dahaga mengeringkan tenggorokan, manusia sedang diuji, apakah ia tetap setia pada niatnya, atau diam-diam berkhianat kepada dirinya sendiri.
Karena itu, bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan moral yang halus, yang mendidik manusia agar tidak hanya takut pada hukum, tetapi juga malu kepada nuraninya sendiri.
Andai nilai kejujuran yang dilatih sepanjang Ramadan mampu kita bawa keluar dari bulan suci, ke kantor, ke pasar, hingga ke ruang-ruang kekuasaan maka kehidupan akan terasa lebih teduh. Kepercayaan sosial tumbuh kembali, dan masyarakat menjadi lebih jernih dalam menatap masa depan.
Sebab pada akhirnya, puasa bukan hanya ibadah perut yang menahan lapar. Ia adalah ibadah hati yang menjaga kejujuran.
Pantun Ramadan
Pergi ke pasar membeli kurma
Kurma manis dari tanah Yaman
Ramadan melatih jiwa dan rasa
Agar hati jujur sepanjang zaman.
Sejenak kita membuka lembar sejarah. Tanggal 10 Maret juga mencatat sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan dunia.
Pada 10 Maret 1876, ilmuwan penemu telepon, Alexander Graham Bell, melakukan panggilan telepon pertama kepada asistennya, Thomas Watson. Kalimat sederhana yang ia ucapkan “Mr. Watson, come here, I want to see you.” menjadi tonggak lahirnya komunikasi telepon modern yang kelak menghubungkan manusia lintas benua.
Peristiwa lain tercatat pada 1959, ketika terjadi 1959 Tibetan Uprising di Kota Lhasa. Pemberontakan itu membuat pemimpin spiritual Tibet, Tenzin Gyatso, harus meninggalkan tanah kelahirannya dan mengungsi ke India. Hingga kini, tanggal tersebut diperingati oleh komunitas Tibet sebagai hari mengenang perlawanan mereka.
Dari panggung internasional, perhatian publik juga tertuju pada perkembangan politik Timur Tengah. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara itu, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan tersebut diputuskan oleh Majelis Ulama Iran yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi dalam sistem Republik Islam.
Sementara itu, kabar duka datang dari Indonesia. Longsoran sampah di TPST Bantargebang di Kota Bekasi menewaskan empat orang. Tumpukan sampah yang runtuh menimpa warung kopi dan beberapa truk yang sedang beroperasi di kawasan pengolahan sampah terbesar milik DKI Jakarta tersebut.
Di Sulawesi Selatan, suasana Ramadan menghadirkan kabar yang lebih menyejukkan. Ribuan kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam berkumpul dalam acara buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan peringatan milad ke-79 organisasi tersebut.
Kegiatan yang digelar oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam bersama Badko HMI Sulsel di Swiss Belinn Panakkukang Makassar, juga ditandai dengan penyerahan wakaf tanah dari Muhammad Dali Amiruddin untuk pengembangan organisasi.
Bagi keluarga besar HMI, wakaf itu bukan sekadar sebidang tanah. Ia adalah simbol harapan bahwa proses kaderisasi akan terus berjalan, melahirkan generasi yang berilmu, berintegritas, dan tetap setia pada nilai kejujuran.
Sementara itu, aktivitas akademik juga berlangsung di Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Senin pagi dimulai dengan ujian proposal mahasiswa bernama Nursanti yang meneliti tentang pemberdayaan petani rumput laut di Jeneponto.
Menjelang waktu zuhur, langkah berlanjut ke Masjid Ar-Rasyid untuk menunaikan salat berjamaah dengan imam Prof. Dr. Sattu Alang. Menjelang sore, koordinasi kembali dilakukan terkait rencana khatib Idul Fitri di Masjid Besar Al-Abrar Makassar yang beralamat di Jalan Sultan Alauddin, bersama Prof. Dr. Misbahuddin, M.A
Sampai jumpa pada ulasan mendatang dengan kisah dan peristiwa yang lebih beragam sebagai persembahan literasi untuk pembaca setia.
Pantun Makassar
Tau sunggua punna mayu
Nia gusung na tak rampei
I katte mayu
Mayu tulusu ki mange
Maknanya dalam bahasa Indonesia:
Jika seseorang berharta hanyut
Akan selalu ada pulau tempat singgah.
Jika si Pulan terbawa arus,
Tak ada pulau tempat bersandar.
Makna pantun ini sangat dalam: hidup adalah perjalanan. Ketika kita telah memilih jalan kebaikan, maka tempuhlah dengan keteguhan hati sampai tujuan tercapai.
Akhirnya, Ramadan kembali mengingatkan kita bahwa kejujuran tidak selalu lahir dari sorotan mata manusia, melainkan dari kesadaran terdalam di dalam hati. Di ruang sunyi antara lapar dan dahaga, manusia belajar menjadi jujur kepada dirinya sendiri, kepada sesamanya, dan kepada Tuhannya.
Jika pelajaran sunyi ini mampu kita bawa melampaui Ramadan, ke rumah, ke tempat kerja, hingga ke ruang-ruang pengabdian, maka hidup akan terasa lebih terang, dan kepercayaan akan kembali tumbuh di tengah masyarakat.
Sebab pada akhirnya, kejujuran adalah cahaya kecil dalam hati manusia yang bila dijaga, mampu menerangi perjalanan hidup hingga sampai ke tujuan.
Penulis : Syakhruddi Tagana
About the Author
syakhruddin
Administrator
Syakhruddin seorang pekerja sosial (Social Worker Indonesia) yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat


Alhamdulillah slamat menjalankan ibadah puasa smoga sehatq slalu aamiin ya rabbal alamin….
Honesty is the best policy