SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca Mozaik Kehidupan yang berbahagia, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ramadan kini tinggal sebelas hari lagi menuju gerbang kemenangan 1 Syawal 1447 Hijriah.
Di sisa hari yang kian menipis ini, semoga kita masih diberi kesempatan untuk memperbanyak tadabbur Al-Qur’an, membaca, menghayati, dan menanamkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab di situlah letak kelezatan beragama: ketika ayat-ayat langit benar-benar hadir dalam perilaku manusia di bumi.
Sabtu siang kemarin, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Kota Makassar diguyur hujan. Langit yang muram menumpahkan airnya ke jalan-jalan kota. Beberapa ruas jalan tergenang, kendaraan bergerak perlahan, dan warga pun menyesuaikan langkahnya dengan cuaca.
Namun hujan yang kita rasakan di kota ini masih dapat kita syukuri. Di belahan bumi lain, khususnya di kawasan Timur Tengah, sebagian saudara kita menjalani puasa Ramadan di tengah suara sirene dan gemuruh pesawat tempur.
Ketika sebagian manusia menengadahkan tangan untuk berdoa, sebagian lainnya harus berlindung dari ancaman bom dan rudal yang mematikan.
Mengawali perjumpaan kita di Ahad yang teduh ini, kami petikkan sebait pantun pembuka:
Pergi berlayar menuju seberang,
Angin timur membawa awan.
Ramadan hadir membawa terang,
Mengajarkan damai bagi sesama insan.
Di tengah ketegangan global, perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah memasuki hari kedelapan. Rudal dan drone masih saling diluncurkan dari kedua belah pihak. Serangan balasan bahkan menyasar kapal tanker Amerika di lepas pantai Kuwait hingga fasilitas minyak di Bahrain.
Di tengah konflik itu, Israel menyatakan bahwa penargetan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dianggap sebagai bagian dari operasi militer yang menurut mereka, berada dalam kerangka hukum konflik bersenjata internasional. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani.
Namun di balik bahasa diplomasi dan strategi militer, dunia tetap menyaksikan kenyataan yang sama: perang selalu meninggalkan luka kemanusiaan.
Sementara itu di tanah air, suasana Ramadan juga diwarnai kebersamaan para relawan. Di Kabupaten Gowa, kegiatan buka puasa bersama dilaksanakan oleh Keluarga Besar Tagana. Kegiatan itu diprakarsai oleh Muhammad Jufri Tubarani dan berlangsung di Markas Tagana Gowa.
Penulis sebenarnya mendapat undangan untuk hadir. Namun waktu yang sama juga bersamaan dengan buka puasa keluarga yang digelar oleh adik di Kompleks Perumahan Dg Tata III Makassar. Dalam Ramadan, kadang pilihan sederhana seperti itu pun terasa hangat: antara panggilan organisasi dan kehangatan keluarga.
Di saat sebagian orang menikmati hari libur bersama keluarga, ada sekelompok manusia yang justru bersiap meninggalkan rumah. Mereka bukan pejabat, bukan pula orang-orang yang mengejar sorotan kamera. Mereka adalah relawan kemanusiaan, orang-orang yang selalu datang ketika kabar duka mengetuk pintu kehidupan.
Ketika banjir merendam rumah warga, ketika angin kencang menerbangkan atap rumah, atau ketika tanah bergerak mengguncang desa, relawan adalah di antara yang pertama tiba.
Dengan langkah cepat dan hati yang tergerak, mereka membantu mengevakuasi, menenangkan yang panik, serta menguatkan mereka yang kehilangan.
Bagi relawan, kemanusiaan tidak mengenal hari libur. Panggilan untuk menolong selalu lebih kuat daripada keinginan untuk beristirahat. Mereka bekerja dalam sunyi, sering tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, bahkan kadang tanpa dikenal oleh mereka yang ditolong.
Sementara itu, Dunia hiburan Indonesia juga diliputi kabar duka. Penyanyi Vidi Aldiano dikabarkan meninggal dunia setelah bertahun-tahun berjuang melawan kanker.
Kabar wafatnya disampaikan sejumlah tokoh publik, termasuk Deddy Corbuzier dan musisi Andi Rianto, melalui media sosial mereka.
Ungkapan duka mengalir dari berbagai kalangan. Kepergian seorang seniman sering kali meninggalkan kenangan tentang suara, karya, dan semangat hidup yang pernah ia bagikan kepada dunia.
Di tengah dinamika global tersebut, Panglima TNI Agus Subiyanto juga menginstruksikan kesiapsiagaan kepada seluruh prajurit TNI. Melalui telegram resmi, jajaran TNI diminta meningkatkan status kesiagaan sebagai respons terhadap perkembangan situasi internasional dan dinamika keamanan dalam negeri.
Sementara di Makassar, hujan yang turun deras tidak menghalangi langkah para pegiat sosial. Rombongan Yayasan Rumah Mama tetap datang ke Shelter Warga di Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, Jalan Andi Tonro I Makassar.
Ketua Shelter Warga, Ir. Zainuddin, bersama sekretarisnya H. Syakhruddin DN dan para pengurus menyambut kedatangan Direktur Yayasan Rumah Mama, Lusia Papulungan.
Tak lama kemudian, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3A Kota Makassar, Hj. Hafidah Djalante, turut hadir menembus hujan yang masih mengguyur kota.
Pertemuan yang diberi tajuk “Diskusi Kampung” itu menjadi ruang berbagi pengalaman para relawan shelter warga, Orang-orang yang setiap hari berada di garis depan penanganan kasus sosial di tingkat kelurahan.
Sarpiah, misalnya, menuturkan pengalamannya menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap anak yang kini sering bermula dari penggunaan gawai.
Andi Sukmawati mengisahkan kasus seorang ayah yang melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri setelah menikah lagi, kisah pahit yang menggambarkan betapa rumitnya persoalan keluarga.
Sementara Erniyati menceritakan pengalamannya mendampingi korban hingga pukul tiga dini hari di Polrestabes Makassar. Bagi relawan seperti dirinya, mendampingi korban bukan sekadar tugas administratif, tetapi panggilan kemanusiaan.
Diskusi juga menyinggung pentingnya memperkuat koordinasi antar pihak di lapangan. Para relawan berharap sinergi antara berbagai unsur, mulai dari pemerintah hingga aparat keamanan, dapat semakin responsif demi mempercepat penanganan kasus.
Kini Ramadan telah sampai pada malam ke-18. Sebuah malam yang seolah berbisik lembut kepada setiap hati bahwa perjalanan ibadah telah memasuki separuh akhir. Waktu berjalan cepat, sementara amal sering terasa belum seberapa.
Di malam yang teduh ini manusia diajak menundukkan hati, merenungi dosa yang lalu, memperbaiki niat yang mungkin sempat pudar, dan kembali mendekat kepada Allah dengan doa yang lebih tulus.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan jiwa agar lebih sabar, lebih lembut, dan lebih peduli kepada sesama.
Jika di hari-hari sebelumnya langkah kita masih tertatih, maka malam ini adalah kesempatan untuk memperkuat tekad. Sebab di ujung Ramadan nanti, setiap hati berharap pulang dalam keadaan lebih bersih daripada saat ia datang.
Sebagai penutup Mozaik Kehidupan edisi Ahad ini, kami persembahkan pantun sederhana:
Pergi ke taman memetik melati,
Melati putih harum baunya.
Ramadan hampir pergi dari hati,
Jangan biarkan amal sia-sia waktunya.
Semoga Ahad ini menjadi hari yang penuh keberkahan bagi kita semua, salam takzim : syakhruddin tagana