SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam tarawih ke-11 Ramadan 1447 H di Masjid Besar Al-Abrar berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan ruhani.
Jamaah memadati ruang utama masjid, menyambut rangkaian ibadah dengan antusiasme yang terasa kian meningkat dari malam ke malam.
Kegiatan diawali dengan laporan singkat panitia pelaksana yang disampaikan oleh remaja masjid, Achmad Sabit bin Pahlan, sebelum kemudian memasuki agenda utama: tausiah Ramadan yang dibawakan oleh Ustaz H. Ridwan Al-Bone.
Mengawali ceramahnya, sang ustaz menyapa jamaah dengan senyum khas.
“Selamat memasuki malam ke-13, ke-12, atau ke-11,” ucapnya ringan.
Serempak jamaah menjawab, “Malam ke-11, Ustaz.”
Beliau pun tersenyum, seraya mengajak jamaah memandang perbedaan penentuan malam Ramadan sebagai rahmat, bukan sumber pertentangan.
“Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan perpecahan. Karena sesungguhnya perbedaan itu adalah rahmat bagi umatku,” tuturnya menenangkan.
Beliau baru saja kembali dari Tanah Suci, suasana spiritual di jazirah Arab masih terasa kuat membekas dalam kisah-kisah yang ia bagikan.
Ia menggambarkan padatnya jamaah di Masjidil Haram, di mana shalat Jumat pukul 10 pagi pun seringkali hanya mendapat tempat di emperan toko, seiring membludaknya jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Dari sana, Ustaz Ridwan mengajak jamaah menengok kembali semangat ibadah di Masjid Al-Abrar.
“Tahun lalu, malam ke-11 jamaah hanya tersisa dua shaf. Alhamdulillah, tahun ini meningkat menjadi empat shaf,” ungkapnya penuh syukur. Sebuah kemajuan kecil yang patut disambut dengan optimisme dan komitmen berkelanjutan.
Ia lalu menuturkan kisah ringan namun sarat makna tentang permintaan seorang pengurus masjid yang memintanya mempercepat tarawih.
“Ustaz, jangan lama-lama ya,” bisik sang pengurus.
Ia mengiyakan, sembari bertanya balik, “Mau seperti di Jawa sana, 23 rakaat hanya 6–7 menit?”
Ungkapan itu disambut senyum jamaah. Namun pesan yang diselipkan sangat dalam: Ramadan bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang terapi spiritual, momentum memperbaiki kualitas kemanusiaan di hadapan Allah.
“Jadikan Ramadan ini sebagai terapi pribadi, sebab pada akhirnya kita semua akan kembali kepada-Nya,” pesannya.
Dalam alur ceramah, beliau menyinggung pengalaman mengelola pemakaman di Dusun Tea Mate, Pattalassang, Gowa. Ia membandingkannya dengan kondisi di kota besar, di mana biaya pemakaman bisa mencapai puluhan juta rupiah.
“Kalau ada yang stres, terutama pekerja kantoran, saya ajak jalan-jalan ke kuburan. Supaya sadar: ujung hidup kita adalah kematian, dan teman terbaik di alam kubur adalah Al-Qur’an.”
Sebuah kisah jenaka namun sarat hikmah pun ia tuturkan. Di salah satu masjid, pada malam ke-8 Ramadan, jamaah telah mencatat 13 kali khatam Al-Qur’an. Saat ditanya caranya, seorang jamaah menjawab polos:
“Setiap malam kami membaca surat Al-Ikhlas. Bukankah ustaz pernah bilang, membaca Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Qur’an?”
Jamaah pun tersenyum, tersipu, sekaligus tersadar akan keluasan rahmat Allah.
Menutup tausiah, Ustaz Ridwan mengajak seluruh jamaah untuk terus mentadabburi Al-Qur’an, menjadikannya sahabat setia dalam hidup.
Doa dipanjatkan agar jamaah Masjid Besar Al-Abrar senantiasa diberi umur panjang, keteguhan iman, serta istiqamah dalam ibadah.
Malam pun ditutup dengan pelaksanaan shalat tarawih dan witir berjamaah, dalam suasana tenang, damai, dan penuh pengharapan, semoga setiap rakaat yang dilangitkan menjadi saksi cinta seorang hamba kepada Rabb-nya (sdn)