SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hujan turun perlahan di sepanjang Jalan Sultan Alauddin, malam itu. Langit Makassar seolah menumpahkan rindu, membasuh kota dengan gerimis yang tak kunjung reda.
Namun, hujan tak pernah menjadi alasan bagi langkah-langkah yang menuju cahaya. Dari berbagai arah, jamaah tetap berdatangan ke Masjid Besar Al-Abrar, menunaikan sholat Isya dan Tarawih berjamaah.
Di dalam masjid, suasana hangat terasa. Lampu-lampu menyinari wajah-wajah penuh harap, sementara lantunan ayat suci menggema lembut, memeluk setiap hati yang hadir.
Ramadan benar-benar hidup di sini, di antara sajadah basah oleh doa, dan rindu yang terurai dalam sujud.
Malam itu, kegiatan ibadah berpadu dengan aksi kemanusiaan. Di lantai dua masjid, UPTD Transfusi Darah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menggelar donor darah.
Seolah mengingatkan, bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang memberi kehidupan.
Mengawali rangkaian kegiatan, protokol masjid, Syukur Nawing anak menantu Imam Masjid Al-Abrar, menyampaikan laporan kondisi keuangan masjid.
Dengan suara tenang, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para jamaah, khususnya ibu-ibu yang telah menghadirkan kue-kue penuh cinta untuk buka puasa sore tadi.
Ucapan sederhana, namun sarat makna kebersamaan.
Dari mimbar, Ustaz Mursalim Madjid, SE, M.Ph, mengalirkan tausiah bertema Motivasi Ramadan.
Kata-katanya sederhana, tetapi mengetuk kesadaran. Ia mengingatkan, bahwa pintu ampunan Allah justru terbuka lebar di malam-malam dan di penghujung Ramadan.
“Jangan sampai goyah dalam beribadah,” tuturnya lirih namun tegas. “Mari kita manfaatkan sebulan ini sebaik-baiknya.”
Ia lalu mengisahkan sebuah riwayat menyentuh: tentang dua sahabat, salah satunya bernama Talhah. Dalam mimpi, sahabat yang malas beribadah justru duluan masuk surga.
Sementara yang tampak rajin masuk belakangan. Kisah itu membawa mereka mengadu kepada Rasulullah. Jawabannya menenangkan:
Sahabat yang ‘malas’ diberi umur panjang untuk kembali bertemu Ramadan, sementara yang satu gugur sebagai syahid.
Pesannya jelas: umur adalah kesempatan. Ramadan adalah anugerah.
“Anggapki ini Ramadan terakhir- ta,” ucapnya. “Supaya kita sungguh-sungguh beribadah. Sekarang banyak orang meninggal mendadak.
Ada yang belum sempat masuk Ramadan, ada yang di jalan, ada yang karena banjir dan hujan.” Nada suaranya mengalir, menyentuh nurani.
Ia mengajak jamaah memilih hobi yang mendekatkan diri kepada Allah. Bukan semata berkutat di warung kopi, larut dalam gawai, atau terbuai hiburan semu.
“Jangan malas beribadah, dan jangan pula tinggi kalasi – ta,” tutupnya dengan senyum hangat, disambut anggukan jamaah.
Sholat Tarawih dan Witir pun ditunaikan, dipimpin oleh Ustaz Habibi, S.Pd.I. Barisan rapi, doa-doa terpanjat, dan keheningan menjadi saksi percakapan batin antara hamba dan Tuhannya.
Selepas doa, langkah jamaah beralih ke lantai dasar. Di sana, jarum-jarum medis, meja pemeriksaan, dan senyum para petugas kesehatan menunggu.
Donor darah dimulai. Yang pertama merebahkan diri adalah Nurdin Daeng Siajang. Tangannya terulur ikhlas, darahnya mengalir perlahan, sebuah persembahan sunyi bagi kehidupan orang lain yang mungkin tak pernah ia kenal.
Satu per satu jamaah menyusul. Lima tempat tidur terisi, suasana penuh keikhlasan. Tak ada sorak, tak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah ketulusan, dan keyakinan bahwa setetes darah di bulan suci bernilai pahala berlipat.
Malam pun kian larut. Hujan masih setia menemani. Di Masjid Besar Al-Abrar, Ramadan bukan sekadar ritual, melainkan denyut kehidupan, tempat doa dan kepedulian bertaut, menenun mozaik indah bernama kemanusiaan (sdn)