SYAKHRUDDINNEWS.COM – Membaca, Menulis, dan Usia yang Tetap Muda
Pagi ini, Rabu 18 Februari 2026, sebagian umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, menyambut 1 Ramadan 1447 H. Sementara saudara-saudara dari kalangan NU dan Pemerintah akan memulainya esok hari, Kamis, menanti hilal yang setia pada perjalanannya di langit.
Perbedaan ini bukan alasan untuk saling menjauh. Ia justru mengajarkan kita tentang keluasan rahmat dan kearifan beragama. Ramadan tidak mengajarkan kita untuk sibuk memperdebatkan waktu, melainkan memuliakan makna.
Sebab Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya, manusia belajar menata hati, menahan nafsu, memurnikan niat, serta menumbuhkan empati. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan panjang mengendalikan diri dan memperindah akhlak.
Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, doa mengetuk pintu langit, dan Lailatul Qadar menyimpan janji keabadian pahala.
Ramadan mengajak kita kembali pada kesunyian yang penuh makna.
Di sela-sela kesunyian itu, membaca dan menulis menemukan rumahnya.
Dua kebiasaan sederhana yang diam-diam menyelamatkan masa depan. Sebuah studi menyebutkan, membaca dan menulis mampu menurunkan risiko demensia hingga 40 persen.
Angka kecil yang menyimpan harapan besar: tetap waras di usia senja, tetap jernih di tengah menua.
Membaca membuat pikiran bergerak, menulis menjaga ingatan agar tak lekang. Di antara huruf-huruf itu, manusia menabung kejernihan, merawat akal, dan memelihara kebijaksanaan.
Sebab menua adalah takdir, tetapi kehilangan kejernihan bukanlah keharusan.
Pesan Mozaik: Rawatlah akal sebelum usia memintanya. Sebab akal sehat adalah anugerah paling mahal dalam hidup.
Ketika Seragam Tak Lagi Menjaga Nurani
Di sebuah rumah sederhana, sunyi menggantung seperti doa yang tak sempat terucap. Di sanalah sebuah rahasia terkuak:
bungkusan kecil berisi serbuk putih, dititipkan oleh seorang perwira menengah, AKBP Didik kepada Anita, seorang polwan muda.
Seragam, yang semestinya menjadi simbol keteladanan, justru dijadikan tameng. Didik menyangka rumah sesama aparat adalah ruang paling aman. Ia lupa satu hal: nurani tak pernah bisa dibungkam oleh jabatan.
Anita terperangkap di antara perintah dan kehormatan. Dalam diam, ia memikul beban yang akhirnya menjelma badai. Penyelidikan menembus sunyi. Nama Didik terucap. Dan seketika, seragam kehilangan cahaya.
Kasus ini mengguncang kepercayaan publik. Sebab ketika hukum justru bersekutu dengan pelanggaran, masyarakat kehilangan pegangan.
Namun, di balik getir itu, harapan tetap menyala: bahwa keadilan masih berani menegakkan dirinya.
Sebab institusi hanya akan kokoh bila ditopang manusia-manusia yang setia menjaga nuraninya.
Pesan Bijak Mozaik Kehidupan: Seragam hanyalah kain, pangkat hanyalah simbol, namun nurani adalah mahkota sejati manusia. Saat nurani runtuh, runtuh pula seluruh kehormatan.
Memasuki 1 Ramadan 1447 H, mari kita sucikan hati dan perbarui niat. Jadikan puasa sebagai madrasah menundukkan hawa nafsu, bukan sekadar ritual menahan lapar.
Perbanyak ampunan, sedekah, dan ukhuwah, agar setiap detik Ramadan benar-benar bernilai ibadah.
Doa Menyambut Awal Ramadan
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمَقْبُولِينَ.
Latin:
Allahumma ballighnaa Ramadhan, wa a‘innaa fiihi ‘alash-shiyaami wal-qiyaami wa tilaawatil Qur’aan, waj‘alnaa fiihi minal maqbuuliin.
Artinya:
Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadan. Tolonglah kami di dalamnya untuk berpuasa, menegakkan salat malam, membaca Al-Qur’an, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau terima amalnya
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ramadan ini mengubah kita menjadi insan yang lebih jernih, lebih sabar, dan lebih bermakna.
Dengan penuh hormat, berikut pantun penutup Mozaik Kehidupan – Edisi 1 Ramadan 1447 H: Pantun Mozaik Kehidupan
Pergi ke taman memetik melati,
Melati putih disimpan di dada.
Ramadan datang menyucikan hati,
Menjahit luka, menumbuhkan doa.
Membaca aksara, menulis nurani,
Merawat akal sepanjang usia.
Puasa mengajar rendah hati,
Agar hidup kian bermakna.
Selamat menyambut Ramadan, semoga setiap huruf yang ditulis menjadi amal yang mengalir.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana

