SYAKHRUDDINNEWS.COM — “Kita kehabisan waktu!” seru Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO Telegram, dalam unggahannya di platform X pada hari ulang tahunnya, Kamis (10/10/2025). Pendiri aplikasi pesan instan pesaing WhatsApp itu memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi masa kritis dalam mempertahankan kebebasan internet.
“Saya akan berusia 41 tahun, tetapi saya tidak ingin merayakannya. Generasi kita kehabisan waktu untuk menyelamatkan internet gratis yang dibangun oleh para pendahulu kita,” tulis Durov dalam akun resminya, @durov.
Menurutnya, pemerintah di berbagai negara kini mulai menjadikan internet bukan lagi sebagai ruang pertukaran informasi, melainkan alat pengendali masyarakat. Ia mencontohkan kebijakan kartu identitas digital di Inggris, pemeriksaan usia daring di Australia, dan pemindaian pesan pribadi di Uni Eropa sebagai tanda kemunduran kebebasan digital.
“Negara-negara yang dulunya bebas kini memperkenalkan langkah-langkah distopia,” ujarnya. Durov juga menuding Jerman menindak warga yang mengkritik pejabat publik di dunia maya, sementara Inggris disebut telah memenjarakan ribuan orang karena unggahan media sosial. Ia pun menyinggung Prancis yang disebutnya mengkriminalisasi pemimpin teknologi yang membela privasi digital.
Dari Saint Petersburg ke Dubai
Pavel Valeryevich Durov lahir di Saint Petersburg, Rusia, pada 10 Oktober 1984. Ia dikenal sebagai “Russian Zuckerberg” setelah mendirikan jejaring sosial VKontakte (VK) pada 2006 saat berusia 22 tahun.
Namun, pada 2014 ia mundur dari VK setelah menolak tekanan pemerintah Rusia untuk menutup akun kelompok oposisi. Tahun berikutnya, ia bersama sang adik Nikolai Durov meluncurkan Telegram, aplikasi pesan yang menonjolkan keamanan dan privasi pengguna.
Pada 2017, Durov memindahkan markas Telegram ke Dubai, Uni Emirat Arab, demi menghindari tekanan politik. Telegram kini telah memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif di seluruh dunia dan mulai menghasilkan keuntungan dari layanan premium, bagi hasil iklan, dan toko aplikasi mini.
Tersandung Kasus di Prancis
Nama Durov kembali menjadi sorotan pada Agustus 2024, ketika ia ditahan di Prancis sesaat setelah mendarat dari Azerbaijan. Ia dituduh terlibat dalam penyebaran konten ilegal di Telegram, termasuk pornografi anak dan perangkat lunak peretasan. Setelah seminggu ditahan, Durov dibebaskan bersyarat dengan jaminan 5 juta euro (sekitar Rp96 miliar).
Selama penahanannya, Telegram melakukan berbagai pembenahan, termasuk memperkuat moderasi konten. Ironisnya, langkah ini justru bertentangan dengan prinsip awal Durov yang menolak segala bentuk penyensoran pemerintah.
Disiplin Digital dan Hidup Minimalis
Meski menjadi miliarder dengan kekayaan mencapai US$17,1 miliar atau sekitar Rp284 triliun, Durov dikenal dengan gaya hidup minimalis. Ia menghindari penggunaan ponsel secara berlebihan, tidak membuka media sosial di pagi atau malam hari, dan membatasi akses informasi demi menjaga fokus serta kreativitas.
“Begitu Anda memegang ponsel setelah bangun tidur, Anda seperti robot yang diberi tahu apa yang harus dipikirkan sepanjang hari,” ujarnya dalam wawancara bersama ilmuwan komputer Lex Fridman.
Durov mengaku sering mendapat ide-ide terbaik saat berbaring di tempat tidur, baik larut malam maupun dini hari, tanpa gangguan notifikasi atau berita digital.
Mewariskan Harta kepada Ratusan Anak
Kehidupan pribadi Durov tak kalah menarik. Ia dikabarkan berencana mewariskan kekayaannya kepada lebih dari 100 anak biologisnya, sebagian besar lahir melalui donasi sperma, dan hanya enam di antaranya dari hubungan pribadi dengan tiga perempuan.
Semua anak itu, menurutnya, memiliki hak waris yang sama. Ia bahkan telah menyiapkan wasiat resmi untuk menghindari konflik setelah dirinya tiada.
Peringatan untuk Dunia Digital
Lewat pernyataannya, Durov menegaskan kembali perjuangannya untuk mempertahankan internet yang bebas, aman, dan terbuka. Ia menilai, jika masyarakat tidak segera bertindak, generasi mendatang mungkin tidak lagi mengenal dunia maya tanpa batas seperti saat ini.
“Generasi kita bisa jadi yang terakhir yang menikmati internet bebas,” tulisnya, mengakhiri pesannya dengan nada pesimistis namun sarat peringatan bagi masa depan digital dunia (sdn)