Agam Rinjani, anak Antang yang tabah,
Tumbuh dari tanah Makassar yang ramah,
Jebolan Mapala Unhas penuh semangat,
Langkahnya mantap, menembus kabut dan berat.
Di lereng Rinjani ia bersahabat dengan sunyi,
Angin gunung adalah nyanyian hati,
Bukan hanya puncak yang dikejar,
Tapi nyawa, harapan, dan tangis yang gentar.
Jenazah Juliana, dari Brazil jauh di sana,
Dipeluk bumi, dijemput dengan cinta,
Agam hadir, dalam sunyi ia bersaksi,
Bahwa kemanusiaan tak kenal batas negeri.
Vidionya melayang, menembus dunia,
Menyentuh nurani, menggetarkan jiwa,
Agam, sang relawan yang bekerja tanpa suara,
Namamu kini dijaga langit dan samudera.
Sudah 413 kali kau sapa puncak,
Namun hatimu tak pernah beranjak,
Rinjani bukan sekadar tempat bernaung,
Ia adalah rumah bagi cinta dan junjung.
Impianmu naik Kalimanjaro naik motor,
Menjejak bumi, menembus batas umur,
Menanam pohon di Rinjani sebagai janji,
Mewariskan cinta, bukan hanya jejak kaki.
Pengalamanmu bukan sekadar cerita,
Bule Israel, kini Brazilia,
Engkau tetap setia dalam sunyi,
Menjadi pelita bagi yang sepi.
Agam Rinjani,
Cinta yang lebih dalam dari jurang,
Langkahmu abadi dalam petualang,
Namamu terpatri di nadi alam —
Sebagai penjaga langit,
Penyambung harap,
Dan peluk hangat
Untuk mereka yang gugur dalam diam.
Makassar, 2 Juli 2025
Salam Takzim : Syakhruddin Makassar
