Di pagi yang mestinya tenang berseri,
Tiba suara yang merobek langit dan bumi,
Dari Sagara, tanah sunyi bersaksi,
Tiga belas jiwa terbang tanpa janji.
Tak sempat kata pamit terucap ringan,
Tak ada peluk terakhir sebagai kenangan,
Ledakan menggulung harapan dan badan,
Meninggalkan senyap di hati seisi kampung halaman.
Pameungpeuk berselimut kabut duka,
IGD bukan tempat harapan lagi terbuka,
“Semua telah tiada,” kata dokter dengan mata luka,
Tak satu pun selamat, tak satu pun terluka.
Mereka yang hilang, bukan sekadar angka,
Adalah ayah, anak, saudara, dan warga,
Tiap nama yang gugur, kini jadi cerita,
Tentang tanggung jawab, dan nyawa yang tak kembali jua.
Sagara menangis dalam debu dan bara,
Garut berkabung dalam peluk luka negara,
Dan kita yang hidup harus mengingat selama,
Bahwa kehati-hatian bukan sekadar wacana.
Selamat jalan, kalian yang gugur di pagi pilu,
Doa kami mengiringi, air mata ini tak pernah kering,
Dalam duka kami berikrar penuh restu,
Bahwa kalian takkan pernah jadi angka yang bisu.
Makassar, 12 Mei 2025
by.syakhruddin tagana
