SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sariun, yang mendapat tugas dari pengurus Masjid Besar Al-Abrar untuk memperbaiki suara loudspeaker yang bermasalah, mencoba memanjat menara pada hari Kamis, 29 Agustus 2024.
Namun, setibanya di puncak menara, dia dikejutkan oleh kehadiran empat ekor anak burung hantu yang masih berusia sekitar satu bulan. Anak burung ini belum memiliki bulu yang sempurna.
Menurut Sariun, ketika dia mencapai puncak menara, burung-burung tersebut mengeluarkan suara seolah memanggil induknya.
Saat dia semakin mendekat, salah satu burung nyaris mematuknya, memaksanya untuk turun dan meninggalkan tugasnya.
Di lantai atas menara, Sariun juga menemukan bangkai tikus dan pecahan telur burung hantu yang mengeluarkan bau tidak sedap.
Kondisi ini kemudian dilaporkan kepada pengurus masjid untuk mencari solusi. Diharapkan ada jamaah yang mungkin memiliki pengalaman dalam merawat burung, termasuk burung hantu, yang dapat membantu memindahkan burung-burung tersebut dari menara.
Sekilas Tentang Burung Hantu
Burung hantu adalah anggota ordo Strigiformes, yang merupakan burung buas (karnivora) dan hewan nokturnal. Ada sekitar 222 spesies burung hantu yang tersebar di seluruh dunia, kecuali di Antarktika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau terpencil.
Di dunia barat, burung hantu sering dianggap sebagai simbol kebijaksanaan. Namun, di beberapa tempat di Indonesia, burung ini sering dikaitkan dengan pratanda maut, sehingga dinamakan “burung hantu.”
Meski demikian, tidak di semua wilayah Nusantara burung ini diasosiasikan dengan kematian. Di Jawa, burung ini dikenal sebagai darès atau manuk darès tanpa konotasi negatif. Di Sulawesi Utara, burung ini disebut Manguni.
Burung hantu dikenal memiliki mata besar yang menghadap ke depan, berbeda dengan kebanyakan burung lainnya yang matanya menghadap ke samping.
Dengan paruh yang bengkok tajam seperti elang dan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan burung hantu terlihat mengesankan dan kadang menyeramkan.
Selain itu, lehernya yang lentur memungkinkan burung ini memutar kepalanya hingga 180 derajat.
Burung hantu umumnya berbulu burik, dengan warna kecoklatan atau abu-abu yang diselingi bercak-bercak hitam dan putih. Kombinasi warna bulu dan perilakunya yang cenderung diam membuat burung ini sulit terlihat, terutama saat tidur di siang hari di balik dedaunan.
Burung hantu juga memiliki ekor yang pendek namun sayapnya besar dan lebar, dengan rentang sayap yang bisa mencapai tiga kali panjang tubuhnya (sdn)



