SYAKHRUDDIN.COM – Kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang memiliki potensi risiko yang serius, termasuk ancaman terhadap keamanan data pribadi serta potensi penggunaannya untuk meretas kata sandi.
Sebuah penelitian baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa AI dapat dengan akurat mengakses kata sandi melalui metode ‘mendengarkan’ apa yang pengguna ketik, dengan tingkat akurasi hingga 95%.
Proses ini melibatkan identifikasi pola gelombang, intensitas dan rentang waktu dari setiap tekanan tombol, sebagaimana dilansir Berita Satu Jakarta.
Tim peneliti dari Universitas Cornell menggunakan rekaman audio dari orang-orang yang sedang mengetik untuk melatih model kecerdasan buatan. Model ini dapat mengenali variasi suara yang dihasilkan oleh setiap tombol yang ditekan.
Eksperimen ini diujicoba dengan menggunakan mikrofon terintegrasi pada ponsel yang ditempatkan dekat dengan keyboard MacBook Pro.
Hasilnya, model AI berhasil mengidentifikasi tombol yang ditekan dengan akurasi mencapai 95%, tanpa terpengaruh oleh tingkat kebisingan keyboard.
Kecerdasan buatan bekerja dengan cara mengenali pola gelombang, intensitas, dan waktu dari tekanan tombol.
Misalnya, AI dapat mengenali bahwa pola mengetik seseorang cenderung menghasilkan tekanan tombol dalam rentang waktu tertentu, yang berbeda dari tombol lainnya.
Namun, perlu diingat bahwa potensi risiko dari AI telah menjadi topik perbincangan selama beberapa waktu. Center for AI Safety (CAIS) dan tokoh besar dalam industri AI, seperti Sam Altman dari OpenAI yang menciptakan ChatGPT, telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi dampak berbahaya dari AI, termasuk kemungkinan perang nuklir dan pandemi global.
Salah satu risiko utama adalah kemampuan AI untuk keluar dari kendali penciptanya. Meskipun sistem AI saat ini tidak memiliki kesadaran, namun mereka diciptakan untuk meniru kecerdasan manusia dalam berbagai tugas.
Misalnya, ChatGPT diciptakan untuk memberikan pengalaman percakapan dengan manusia. Para ahli juga berpendapat bahwa definisi AI perlu diklarifikasi, namun pada umumnya sepakat bahwa teknologi ini perlu diteliti dan diatur dengan cermat untuk menghindari potensi risiko serius.
Misalnya, dalam konteks persaingan militer antarnegara, ada risiko bahwa sistem AI yang lebih pintar daripada manusia dapat kehilangan kendali dan berpotensi berdampak buruk, bahkan berujung pada penggunaan yang merugikan manusia (sdn/bersat)
