SYAKHRUDDIN.COM – Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial (Kessos) Univeristas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr.H.Muh.Ilham,M.Pd menggagas seminar sehari, menampilkan dua pembicara, masing-masing Suarni Dg Caya dari Yayasan Sakura Al-Jamaan Pusat Bogor Jawa Barat dan Syamsuddin Saido,M.Si,Ph.D dari Balai Besar Pendidikan & Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional Sulawesi, Sabtu 29 April 2023.
Seminar kali ini mengusung tema, Optimalisasi perlindungan anak dan sosialisasi sertifikasi pekerja sosial”
Dalam seminar sehari di Kampus UIN Alauddin Makassar, Suarni Dg Caya di depan mahasiswa Kesos UIN mengatakan, sebelum membahas secara mendalam tentang perdagangan orang sebagai sebuah fenomena global.
Maka sebagai aktifis pekerja sosial (Social worker), semula Suarni Dg Caya kelahiran Sinjai Sulawesi Selatan, mengaku mengimpikan untuk menjadi seorang pramugari yang akan terbang kesana kemari.
Sayang katanya, kondisi fisiknya tidak memenuhi syarat, karena Semampai artinya tingginya tidak sampai semester, ujarnya disambut geer, di kalangan peserta seminar.
Belum selesai canda tawa, dilanjutnya bahwa kalau anak Kessos putus cinta, dia akan berkata : “Putus satu tumbuh seribu, kalau mahasiswa lainnya, putus cinta dunia kiamat, ujarnya di depan peserta seminar yang terdiri mahasiswa semester VI, alumni dan dosen, baik yang mengikuti secara langsung di kampus bermartabat, maupun melalui link zoom meeting, yang dikoordinasi dengan Dosen Haeruddin.
Menurut Suarni Dg Caya yang telah melamglamhbuana pada 27 negara, dalam penanganan perdagangan orang, menjelaskan bahwa Indonesia merupakan rangking II dalam pengawasan.
Karenanya, keterlibatan pemerintah, masyarakat kampus, media massa dan semua pihak, sangat diharapkan peran sertanya, ungkap Suarni Dg Caya di depan peserta.
Dikatakan, dalam hal perdagangan orang, Indonesia berada pada tiga posisi yaitu sebagai pengirim, sebagai pelaku dan sekaligus korban perdagangan orang (trafiking).
Sebagai pelaku perdagangan orang, merupakan suatu aktifitas eksploitasi, karenanya Yayasan Sakura Al-Jamaan yang dirintisnya sejak tahun 2017, konsen dalam hal anti terhadap perdagangan orang.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap sekolah perikanan, yaitu SMK Perikanan, ternyata para peserta di tempat pengelolaan ikan, bukan melakukan praktikum, melainkan di pekerjakan oleh perusahaan, karen itu perlu terus meneruskan melakukan pengawasan.
Dikisahkan, satu ketika pernah melakukan penelitian, bagaimana para korban trafiking yang dipekerjakan sebagai pekerja salon di Jawa Barat.
Para gadis-gadis cantik itu, harus menerima kenyataan pahit, setelah mereka jatuh ke tangan perdagangan orang.
Demikian halnya ketika di Malaysia, orang-orang yang mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia dan menjualnya kepada para cukong disana. Sehingga muncul istilah “Bugis Jual Bugis”.
Anda bisa bayangkan, kalau yang mendatangkan dari Indonesia, dengan jalan mengiming-iming pekerjaan yang menghasilkan pendapatan besar, padahal setelah tiba di tempat tujuan.
Mereka di jual lagi kepada para pengerah tenaga kerja yang juga orang dari Indonesia, Orang Bugis lagi, dan lebih seru lagi dari Sinjai lagi, ucapnya miris.
Berbagai kasus-kasus perdagangan orang yang telah ditangani, baik lokal maupun internasional dan ikut tergabung dalam tim yang menangani perdagangan orang pada 17 negara di dunia.
Termasuk saudara kita dari Afganistan, dari Timur Tengah yang mencari suaka dan sementara di tampung di Indonesia, semua ini menjadi bagian dari aktifitas penanganannya oleh Yayasan Sakura yang dibinanya.
Dari paparan yang disampaikan dengan gaya khasnya, Suarni Dg Caya membuat peserta seminar terkagum-kagum terhadap profesi pekerjaan sosial yang digeluti dengan penuh antusias.
Dikatakan, sejak zaman Nabi sudah ada perbudakan, karena itu Islam hadir untuk menghapuskan masalah perbudakan.
Dijelaskan, dalam penanganan sebuah kasus perdagangan orang, maka minimal kita dapat menghukum tujuh orang yang terlibat.
Dalam melakukan aktifitas di lembaganya, juga bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Berbagai kasus-kasus perdagangan orang seperti pada kasus, Ayah Sejuta Anak, Kasus Sandra Wowuruntu di Manado semua menjadi arena pengabdiannya.
Kata kunci bahwa anak dan perempuan sangat rentan dalam perdagangan orang, baik dalam negeri maupun antarnegara, ujarnya.
Ketika kasus pandemi Copid-19 melanda dunia, kasus-kasus anak dan perempuan via online, banyak ibu muda dan bapak yang bercerai, karena janji-janji manis.
Kasus Aila, yaitu anak yang dilacurkan pada sebuah diskotik di Jakarta. Dikatakan dirinya juga mahir bermain bilyar, semua ini karena tuntutan pekerjaan.
Untuk masuk ke sebuah diskotik, sambal bermain bilyar, kemudian wawancara dengan gadis-gadis yang melayani, sembari dengan gaya pendekatan seorang pekerja sosial, akhirnya menemukan mangsa bahwa dia terpaksa bekerja pada diskotik, karena orang tuanya terjerak utang.
Kasus-kasus lain yang ditemui selama dalam pengembaraannya dibidang perdagangan orang, ada yang berawal dari kekerasan dalam rumah tangga, ada pula karena pengaruh norma sosial berdampak pada tingginya tenaga kerja wanita dimasa lalu.
Menurut pengakuan narsumber, yang lahir dan mendapatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Tarutung di Kabupaten Sinjai.
Salah seorang sahabatnya telah dibawa merantau ke Malaysia, di saat masih duduk di Kelas V Sekolah Dasar di Sinjai.
Nama sahabatnya itu bernama Nurbaya, dia dibawa ke Malaysia oleh tantenya. Kenangan itu tak dapat dilupakan, karena setiap kawannya di bawa oleh kerabat dekatnya merantau dari Sinjai, dia bernyanyi satu kelas :
Oh Baya
Selamat tinggal Baya
Semoga sehat-sehat di Malaysia
(Suasana kebatinan itulah yang selalu mengusik masa kecilnya) untuk terjun di dunia perdagangan orang dengan berbekal pengetahuan di bidang pekerjaan sosial sejak dari Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial, lanjut ke STKS Bandung kemudian Universitas Indonesia Jurusan Kessos, hingga berbagai pendidikan dan pelatihan profesi di luar negeri.
Mengunci pembahasan dihadapan peserta seminar, Suarni Dg Caya mengingatkan kepada adik-adik mahasiswa untuk senantiasa waspada, karena berbagai cara untuk menjadikan perdagangan orang, seperti adopsi anak, pengantin pesanan, akibat mahalnya uang mahar, kawin paksa.
Kesemuanya itu perlu diwaspadai, agar jangan lagi ada lagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban perdagangan orang.
Kepada adik-adik mahasiswa, banggalah sebagai seorang calon peksos dan jangan berhenti belajar, termasuk belajar Bahasa Inggeris, sebagai modal dasar untuk dapat bekerja badan-badan internasional dan anda akan dibayar dengan dollar.
Kepada adik-adik di Kampus UIN Alauddin Makassar, jangan cepat puas dengan hanya gelar sarjana, tapi kejar mimpimu semaksimal mungkin, karena hari esok adalah milikmu, ungkap Suarni Dg Caya menutup paparannya.
Memasuki sesi kedua, menampilkan pembicara, Syamsuddin Saido, M.Si, Ph.D dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional V Sulawesi, di Jalan Perintis Kemerdekan Km 14 Makassar.
Dalam paparannya dihadapan peserta seminar, mengharapkan agar memanfaatkan peluang untuk sertifikasi yang akan digagas pihak BBPPKS Regional V Makassar.
Para peserta dapat mendaftarkan diri secara perorangan maupun grup atau perkampus, termasuk mereka yang sedang menytusun skripsi, untuk selanjutnya mengikuti kegiatan sosialisasi selama dua hari dan selanjutnya ujian tertulis, guna mendapatkan sertifikasi kompetensi, sebagai seorang pekerja sosial.
Ke depan seorang peksos harus bersertifikasi dan terdaftar dalam organisasi Ikatan Pekerja Sosial Profesi Indonesia, yang kebetulan I di Sulsel, Bapak DR. Syamsuddin. AB, M.Pd dari UIN Alauddin Makassar.
Menjawab tantangan masa depan, predikat sebagai social worker tidak ada kehilangan lapangan pekerjaan, karena pada gilirannya nanti profesi ini akan selalu dibutuhkan, ungkap Syamsuddin yang pernah menjabat selaku Pimpinan Sentra Kreasi ATENSI di Balai Rehabilitasi Sosial Lansia “Minaula” Kendari, Sulawesi Tenggara dan saat ini kembali ke BBPPKS Regional Makassar.
Dari pelaksanaan kegiatan seminar di Kampus Bermartabat yang digagas Prodi Kessos UIN Alauddin, diharapkan untuk terus dikembangkan dengan mendayagunakan pilar-pilar Atensi milik Kementerian Sosial yang berkedudukan di Provinsi Sulawesi Selatan, ungkap Hj. Nadiah manaf yang kini menjabat sebagai Koordinator Sakura di Kabupaten Gowa (sdn)
Berikut dokumentasi kegiatan by syakhruddin dn HP 081 2424 5938






