Semangat pagi, selamat bersua kembali di blog.syakhruddin,com, sebuah sarana informasi yang teranyar, dipersembahkan khusus buat Anda, sembari menikmati secangkir kopi di pagi hari Kamis, 23 Februari 2023, selamat menikmati !!!
SYAKHRUDDIN.COM – Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDIP, Nasyirul Falah Amru, menjelaskan maksud pernyataan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang merasa heran dengan ibu-ibu yang senang mengikuti pengajian.
Menurut Falah, Megawati tidak pernah melarang para ibu untuk mengikuti pengajian. Pernyataan tersebut merupakan respons Falah terhadap pidato Megawati dalam acara Kick Off Pancasila dalam Tindakan “Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting” yang diadakan oleh BKKBN pekan lalu.
Falah menjelaskan bahwa Megawati hanya meminta agar para ibu bisa seimbang antara mengaji dan mengurus anak.
Bagi Megawati, mengaji dan mengurus anak sama-sama penting untuk kepentingan dunia dan akhirat, sehingga perlu dilakukan dengan seimbang. Pesan ini ingin menghindari terjadinya stunting dan masalah kesehatan lainnya.
Falah juga menjelaskan, bahwa sebelum mengutarakan pernyataan tersebut, Megawati sudah memohon maaf, untuk menghindari salah tafsir terhadap maksudnya.
Oleh karena itu, Falah berharap agar semua pihak tidak memperkeruh situasi dengan memutarbalikkan makna pernyataan Megawati (Namanya juga politik, semua bisa diputarbalikkan)
Sebuah video menunjukkan seorang pria Warga Negara Asing (WNA) asal India yang menangis sedih telah menjadi viral di media sosial.
Pria tersebut datang dari India dengan harapan untuk melamar gadis pujaannya di Desa Watanrumpia, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Namun, usaha cinta yang diupayakan dari India ke Indonesia tersebut harus berakhir dengan pahit. Pria India bernama Asib Ali Bhore (32) itu sebenarnya hendak melamar gadis pujaannya yang dikenalnya melalui media sosial.
Gadis Wajo bernama Syarifa Haerunnisa ternyata telah dijodohkan oleh orang tuanya.
Kasat Intelkam Polres Wajo, AKP Amdia membenarkan bahwa pria asal India itu telah datang ke Desa Watanrumpia, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo untuk melamar gadis pujaannya.
“Pria tersebut telah menjalin hubungan melalui media sosial dengan gadis pujaannya selama dua tahun terakhir,” katanya.
Menurut Amdia, selama menjalin hubungan jarak jauh, pria India tersebut juga mengirimkan uang sebesar Rp9 juta kepada kekasihnya. Namun, untuk datang melamar ke Indonesia, pria India tersebut harus mengeluarkan uang sekitar Rp56 juta. (Ini namanya, cinta ditolak calon mertua)
Berikutnya tentang, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengungkapkan kemarahannya dalam sebuah pertemuan dengan anggota jajaran Polda Metro Jaya, terkait video viral yang menunjukkan seorang anggota polisi, dibentak oleh seorang debt collector saat berusaha menghentikan penarikan paksa mobil milik selebgram Clara Shinta.
Fadil menyatakan bahwa ia tidak bisa tidur karena peristiwa memalukan tersebut dan meminta jajaran polisi untuk mengambil tindakan tegas, terhadap aksi premanisme oleh para debt collector.
Ia menegaskan bahwa anggota kepolisian tidak boleh takut pada para debt collector dan meminta agar aksi premanisme yang merajalela di Jakarta ditumpas. Video pernyataannya disampaikan melalui media sosial pribadinya pada Selasa, 21 Februari 2023 (Kapolda geram dengan premanisme di Jakarta, Sikat kata Sambo)
Selanjutnya pada hari Rabu, 22 Februari 2023 pagi ini, Bharada Richard Eliezer terlihat hadir pada sidang dugaan pelanggaran etik terkait kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Dia terlihat menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH) Polri dan topi dinas seorang anggota kepolisian.
Sidang tersebut diadakan di Gedung TNCC dan dipimpin oleh Sekretaris Biro Penanggungjawab Profesi Propam Polri Kombes Sakeus Ginting, diikuti oleh Irbidjemen SDM I Itwil V Itwasum Polri Kombes Imam Thobroni dan Kabagsumda Rorenmin Bareskrim Polri Kombes Hengky Widjaja, sebagaimana dilansir dilaman CNN Jakarta.
Bharada E sebelumnya divonis 1,5 tahun penjara dalam kasus pembunuhan Brigadir J, namun dalam sidang etik kali ini dia tidak menggunakan seragam tahanan.
Pada seragam PDH yang dia kenakan, tidak terlihat lambang Korps Brimob pada bagian lengan kirinya, dan dia tampak mengenakan lambang kesatuan Yanma Polri di bagian lengannya (Bharada E kembali memakai seragam kebesarannya, sebelum menjalani hukumannya di tahanan)
Kali ini tentang Gacek, seekor kucing jalanan dengan bulu campuran warna hitam dan putih telah menjadi ikon lokal di kota pelabuhan laut yang cukup besar, Szczecin, Polandia.
Kucing tersebut telah hidup di Jalan Kaszubska di pusat kota Szczecin selama kurang lebih 10 tahun, dan telah membuat banyak orang mengunjungi kota tersebut.
Kucing yang dikenal sebagai “Raja Jalan Kaszubska” ini bahkan menjadi objek wisata dan ada kurang lebih 2.500 ulasan online tentangnya dengan skor hampir sempurna 4,9 dari 5.
Meski berstatus kucing jalanan dan tanpa pemilik, Gacek tinggal di sebuah kotak kayu beratap di luar sebuah toko di Jalan Kaszubska dan para pemilik toko bertindak sebagai pengurusnya.
Ada tanda di luar rumahnya yang mempersilahkan orang yang lewat untuk meninggalkan makanan apa pun yang mereka miliki untuk kucing tersebut.
Namun, perhatian dan suguhan yang berlebihan dari para pengagumnya menyebabkan tempat penampungan hewan di kota mendesak orang-orang untuk tidak memberinya makan (Kucing membawa nikmat)
Selanjutnya kami mengajak anda ke kampus hijau Samata, Ketika Laboratorium Radio diminta untuk dipindahkan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi ke Universitas, para Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (pada masanya) turun gunung, untuk memberikan kontribusi pemikiran kepada Dekan FDK , DR Firdaus Muhammad, MA
Pada prinsipnya, mereka tidak rela Laboratorium Radio diambil alih pengelolaannya oleh pihak Universitas, karena memiliki nilai sejarah dan perjuangan yang panjang dan melelahkan.
Beberapa komentar/rujukan dari para Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi terkait hal ini telah dituliskan di grup WA dan penulis hanya rangkum dalam naskah berikut ini.
Nama-nama para Dekan tidak disebutkan, karena komentar tersebut telah terpasang di grup WhatsApp Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Radio merupakan kebanggaan dari Laboratorium Dakwah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), yang memerlukan energi pikiran yang luar biasa untuk mewujudkannya.
Meskipun alat radio yang digunakan dahulu hanya bisa dirasa lengkap setiap bulan bahkan setiap tahun, tetapi dengan adanya antena yang menjulang sebagai simbol ketinggian FDK, radio ini menjadi semakin istimewa.
Namun, merealisasikan radio ini memerlukan banyak anggaran sehingga seringkali ditunda-tunda.
Bahkan saat itu, ada tawaran untuk menjadikan radio sebagai milik universitas, tetapi tidak setuju dengan alasan tertentu.
Selain itu, berkat laboratorium ini, banyak mahasiswa terlibat sebagai MC, penyiar radio, dan TV. Oleh karena itu, hal ini seharusnya dipertimbangkan dan yakin hanya FDK yang memahami tentang hal ini.
Selanjutnya sangat disayangkan, jika perjalanan panjang FDK UINAM tidak dipertimbangkan dalam kebijakan baru yang diambil.
Lebih menyedihkan lagi, jika pihak yang akan mengambil kebijakan tersebut mengabaikan sejarah panjang dan melelahkan ini.
Awal pekerjaan pengembangan FDK, sangat menarik dan penting untuk diingat kembali. Menurut para pelaku sejarah, ikut mendampingi para senior seperti Bu Prof Muli, Pak Arif, Pak Mahmuddin dan tokoh lain dalam inisiasi, konseptualisasi, dan institusionalisasi FDK dan Laboratoriumnya.
Sejak 1997 hingga 2000, beberapa Fakultas Dakwah di Indonesia (Alauddin bekerja sama dengan Sunan Kalijaga Jogja) telah berupaya mempersiapkan segala perangkat yang diperlukan, termasuk pengembangan sarana fisik dan nonfisik.
Fakultas Dakwah melengkapi diri dengan laboratorium dakwah di bawah FDK sendiri, dengan kelengkapan sarana program siaran televisi, studio radio (radio siaran dakwah), grafika (sablon, fotografi, dan desain grafis komputerisasi), Biro Konseling, hingga Tagana.
Semua ini dimaksudkan untuk mempersiapkan agar alumni Fakultas Dakwah tidak gagap teknologi dan siap menghadapi era milenium.
Oleh sebab itu, para mantan dekan turun gunung dan memohon agar kembali ke khittah awal, dengan memperkuat LABDA FDK yang diinisiasi di Ujung Pandang, Makassar oleh Pak Amrullah Ahmad sebagai narasumber selama satu pekan pelatihan LABDA.
Waktu itu, LABDA diundang oleh almarhum HM. Amir Said setelah kesepakatan Forum Dekan Fakultas Dakwah tentang keilmuan dakwah di Parapat Medan, Sumatera Utara.
Sebelumnya, dilakukan studi banding oleh Yayasan Salahuddin tentang laboratorium radio di Yogyakarta yang dikelola oleh Pak Prof Amin Rais.
Insya Allah, dengan kita berharap kepada Pak Dekan, memiliki niat baik untuk menghidupkan Laboratorium Dakwah. Radio ini digunakan untuk praktikum prodi Jurnalistik, KPI, IKOM, dan lainnya, sedangkan Tagana digunakan oleh Prodi Kessos dan hasilnya telah dimanfaatkan oleh Institusi Kementerian Sosial RI.
Terakhir mari kita membuka lembaran sejarah, Apa yang terjadi pada penanggalan 23 Februari dalam lintasan sejarah !!! Berikut ini adalah beberapa kejadian penting dalam lintasan sejarah yang terjadi pada tanggal 23 Februari di masa lalu diantaranya ;
1455 – Perang Tiga Kerajaan dimulai di Inggris antara pasukan York dan Lancaster.
1778 – Baron von Steuben bergabung dengan pasukan Amerika Serikat selama Revolusi Amerika dan membantu melatih tentara George Washington.
1836 – Alamo jatuh ke tangan pasukan Meksiko selama Revolusi Texas.
1905 – Revolusi Rusia dimulai dengan protes buruh di St. Petersburg.
1945 – Pasukan Amerika Serikat mengambil Pulau Iwo Jima dari tentara Jepang selama Perang Dunia II.
1981 – Pengadilan Militer di Polandia memutuskan untuk mengeksekusi negarawan anti-komunis Jerzy Popiełuszko.
1991 – Perang Teluk dimulai ketika koalisi pimpinan Amerika Serikat mulai menyerang pasukan Irak di Kuwait.
2023 – Dua orang Mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang sedang melaksanakan KKN di Kabupaten Majene, dimakamkan keluarganya, setelah insiden motor viar hitam yang digunakannya di lokasi KKN menabrak pohon dalam suatu kecelakaan tunggal, keduanya adalah Almarhumah Ismah Nur Afi’ah Syam (Jurusan Perbankan Syariah Angkatan 2019) dari Aeng Batu-Batu Galesong Takalar dan almarhum Agung Darmawan Jurusan Studi Agama-Agama angkatan 2019 dari Kabupaten Bulukumba), Innalillahi wa Innailahi rajiun.
Akhirnya, sampai disini dahulu jumpa kita, kita akan kembali bersua dalam tulisan mendatang dengan satu pesan, bila anda senang menerima kumpulan peristiwa yang dikemukakan dalam blog ini, sudilah mengisi kolom komentar atau memberi tanda LIKE atau Jempol yang tentunya akan menjadi energi bagi penulis dalam melaksanakan pengabdiannya kepada masyarakat pembaca, salamaki.
Penulis Syakhruddin.DN
(suka mendengar radio)





Thank you Lintas Kawasannya
Apapun kata Falah ttg komentar mbak Mega bahwa maksudnya adalah agar ibu-ibu menyeimbangkan antara pengajian dan ngurus anak.
Yg jelas masyarakat tdk semudah itu memahami bahwa ooo begitu ya maksudnya mbak Mega.
Saya sendiri beranggapan bahwa mbak Mega kurang respon dgn ibu-ibu yg pergi pengajian.
Sepakat dan lanjutkan protes kepada Nenek Lampir