SYAKHRUDDIN.COM – Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan.Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.Seperti terjadinya tawuran pelajar yang sudah menunjukkan indikasi tindak kriminal (membawa senjata tajam, dan benda-benda lain yang mematikan), tidak sepenuhnya kesalahan pendidik.
Berdasarkan perspektif pekerjaan sosial, perilaku seseorang yang cenderung agresif dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.Faktor internal berasal dari dalam diri remaja itu sendiri, yaitu adanya gangguan pada kepribadian atau mentalitas remaja.Kemudian, faktor eksternal berasal dari keluarga, lingkungan sosial dan kebijakan negara/pemerintah.Disorganisasi sosial dalam keluarga dan lemahnya kontrol sosial lingkungan, merupakan situasi sosial yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perilaku agresif remaja.
Di dalam profesi pekerjaan sosial, ada salah cabang keahlian yang khusus memberikan pelayanan bagi para siswa di sekolah, yaitu pekerjaan sosial di lembaga pendidikan (School of Social Work).Di negara maju, profesi ini sudah menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan.Tugasnya memberikan pelayanan konseling kepada para siswa yang mengalami problema, baik di sekolah maupun di rumah.Sebaliknya, di Indonesia belum banyak yang mengenalnya.
Pekerjaan sosial sekolah sendiri merupakan salah satu bidang praktek pekerjaan sosial, yang antara lain memberikan pelayanan konseling penyesuaian diri di sekolah (school adjustment counseling), tes kemampuan pendidikan (educational testing), konseling keluarga (family counseling) dan pengelolaan perilaku (behavior management).Pekerjaan sosial sekolah juga merespon perwujudan hak-hak semua anak untuk mendapatkan pendidikan termasuk bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (anak penyandang cacat)serta keluarganya.
Awal dari munculnya pekerja sosial di bidang industri sendiri dimulai pada abad IX dan awal abad XX di Amerika, dimana terjadi peningkatan industrialisasi yang menyebabkan sebagian besar anak bekerja dan tidak bersekolah → anak buta huruf.Lalu, awal tahun 1900an, keluar UU wajib sekolah gratis dan diberlakukan di beberapa negara bagian di US.UU ini memberikan Hak-hak kepada anak untuk mendapatkan pendidikan minimum dan tanggung jawab negara untuk memenuhinya.Namun, UU tidak mampu mengakomodir pentingnya pendidikan bagi anak karena bersinggungan dengan kebiasaan praktek mempekerjakan anak.Maka mulai timbul berbagai masalah, seperti : populasi anak meningkat, fasilitas sekolah buruk dan tidak memadai, anak banyak bolos sekolah dan buta huruf, dan lain-lain. Pada tahun 1906-1907 di New York, Boston dan Harford, dilakukan praktek pekerjaan sosial sekolah yang awalnya dilakukan di luar sekolah. Tahun 1913, Rochester menjadi sistem sekolah umum pertama yg memberikan pelayanan pekerjaan sosial sekolah. Sehingga 1920an semakin berkembang dibeberapa kota. Tahun 1921 kenakalan remaja menjadi topik utama perhatian pekerjaan sosial sekolah, yang dianggap memegang peranan kunci untuk mencegah kenakalan tersebut.Commonwealth fund of New York kemudian memberikan bantuan kepada pekerja sosial sekolah untuk menjalankan program penanganan kenakalan remaja dimasyarakat.Pekerja sosial sekolah kemudian menambah seting pelayanan di luar sekolah.Pada tahun 1920 gerakan kesehatan mental.Peksos sekolah merubah fokus kepada masalah therapeutik casework kepada anak2 yg mengalami gangguan perilaku dan emosional.Timbul Depresi besar di tahun 1930, dimana pelayanan peksos sekolah berubah kepada kondisi sosial yg merugikan. Namun, perkembangan hukum dan keputusan pengadilan antara tahun 1950, 1960, 1970 telah membawa perubahan dan pengembangan pelayanan peksos sekolah.Literatur peksos sekolah memperbaharui fokus kepada tanggung jawab untuk membantu merubah kebijakan dan kondisi sekolah yg berdampak buruk bagi siswa.Memasukan teori sistem dan pendekatan ekologi, dan groupwork, disamping casework.
- Rumusan Masalah
- Bagaimana sejarah perkembangan pekerja sosial pendidikan?
- Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pekerja sosial pendidikan?
- Bagaimana praktik pekerja sosial pendidikan?
- Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui sejarah perkembangan pekerja sosial di dalam bidang pendidikan.
- Untuk pengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pekerja sosial pendidikan di dalam bidang pendidikan.
- Untuk mengetahui praktik pekerjaan sosial pendidikan di dalam bidang pendidikan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pembukaan
Sejarah dari pekerja sosial sekolah sangat menarik dan kaya. Kondisi sosial pada tahun 1906, kehidupan pekerja dan pertumbuhan populasi imigran menjadi faktor yang mendukung perkembangan dan penyebaran pendidikan, yang pada akhirnya, pekerja sosial sekolah.Sebagai pendidikan menjadi semakin dianggap sebagai hak bagi setiap anak, pentingnya menghubungkan sekolah dan masyarakat mengambil peran lebih penting. Ia selama periode ini bahwa pekerja sosial sekolah (dikenal sebagai pengajar berkunjung) mengakui bahwa peran mereka harus lebih selaras dengan kondisi sosial dan gerakan sosial dan mencari perubahan dalam kebijakan sekolah yang berdampak buruk terhadap kehidupan anak-anak. Pada dasarnya, mereka menjabat sebagai penghubung antara sekolah dan rumah.
Sayangnya, bidang ini praktek tumbuh, peran penghubung kurang mendapat penekanan. Pekerja sosial sekolah, prihatin tentang identitas mereka, mencari peran yang lebih khusus, yang mereka percaya akan menghubungkan effots mereka lebih dekat ke tujuan utama pendidikan.
2.1.1 Pembentukan Pekerja Sosial Sekolah
Pekerjaan sosial Sekolah dimulai pada waktu yang sama (selama tahun ajaran 1906-1907), meskipun secara mandiri, di tiga kota: New York, Boston, dan Hartford.
Di kota New York, pekerja penyelesaian dari Hartley House dan Greenich rumah berpikir bahwa itu adalah penting untuk mengetahui guru anak-anak yang datang pada penyelesaian, dan mereka memberikan dua pekerja untuk mengunjungi sekolah dan rumah untuk bekerja lebih erat dengan sekolah dan kelompok masyarakat , untuk tujuan mempromosikan pemahaman dan komunikasi (lide, 1959). Di Boston, perkembangan serupa mengambil tempat. Tempat Asosiasi Pendidikan Perempuan pengajar berkunjung di sekolah untuk tujuan membawa tentang lebih harmonis antara sekolah dan rumah, untuk membuat pendidikan anak lebih efektif.
Direktur thr Psychological Clinic di Hartford memulai program pengajar berkunjung pertama di daerah itu. Direktur klinik mengakui bantuan yang bisa diperoleh dari program seperti itu. Orang ini akan membantu psikolog dalam mengamankan sejarah anak-anak yang melaksanakanpengobatan klinik berencana sebuahrekomendasi. Ia tidak sampai 1913, di Rochester, New York, papan pertama dari pendidikan dimulai dan membiayai sebuah “program pengajar berkunjung”. The Rochester Dewan Pendidikan mengambil peran aktif dalam pengembangan layanan, tempat papan pengajar berkunjung di département khusus sekolah, di bawah administrasi dan arah pengawas sekolah. Pengaturan ini menunjuk ke atas dengan necressity menghindari pemisahan pekerja sosial sekolah dari sistem sekolahsecara keseluruhan dan masyarakat.
2.2 Pengaruh Awal
Awal abad duapuluh adalah masa subur untuk pengembangan pekerjaan sosial sekolah. Pengaruh penting dalam perkembangan awal perusahaan adalah:
- Lintas hukum kehadiran di sekolah dengan paksaan
Perhatian untuk buta huruf dari anak imigran dan buta huruf dari anak-anak Amerika yang lahir membawa perhatian ke anak untuk setidaknya pendidikan minimal, dan tanggung jawab negara-negara untuk mengamankan ini untuk semua anak dan memberikan dukungan untuk berlakunya wajib hadir statuta beberapa negara. Namun, undang-undang sering dihindari baik olehorang tua yang ingin anak-anak mereka untuk bekerja untuk menambah upah dewasa yang tidak memadai dan oleh pemilik pabrik yang ingin menggunakan tenaga kerja murah dari anak-anak.. Situasi ini diperburuk dengan kegagalan distrik sekolah untuk menyediakan fasilitas bagi anak-anak yang siap dan bersedia untuk bersekolah.
- Berwawasan perbedaan individu
Sebagai lingkup hukum wajib belajar diperluas, negara dipaksa untuk memberikan pengalaman pendidikan untuk berbagai anak-anak. Secara bersamaan, pengetahuan baru tentang perbedaan individual antara anak-anak dan kapasitas mereka untuk merespon peningkatan kondisi dipaksa pribadi sekolah untuk melihat kebidang lain untuk memahami perbedaan-perbedaan ini. Sebelumnya tidak pernah ada kekhawatiran nyata tentang apakah anak-anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda; mereka yang disajikan tantangan yang tidak terdaftar. UU tentang wajib hadir mengubah situasi ini sangat cepat. Guru yang bersangkutan tentang ini” dan atau dikecualikan berbeda” anak-anak mencari pengetahuan tentang perbedaan individu sehingga mereka akan lebih siap untuk mengatasi pendidikan.
- Realisasi posisi strategis pendidikan
Pekerja sosial dari awal abad kedua puluh yang sadar ditempat strategis sekolah dan pendidikan dalam kehidupananak-anak dan pemuda, dan terkesan dengan peluang. Disampaikanke sekolah S.P. Breckiniridge, Asosiasi PendidikanNasionalpada tahun 1914, menyatakan:
Untuk pekerja sosial sekolah muncul sebagai alat, tidak hanya untuk menyampaikan kepada generasi berikutnya dengan budaya, tapi untuk menguji hubungan sosial sekarang dan untuk mengamankan perbaikan kondisi sosial. (Breckinridge, 1914) Dia memohon untuk pemeriksaan lebih dekat dan studi kegagalan sekolah dan kerugian konsekuen dalam kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan kebahagiaan masa depan mereka.
- Kepedulian untuk relevansi pendidikan
Secara bersamaan, pekerja sosial di rumah-rumah pemukiman yang mengungkapkan perlunya sekolah untuk menghubungkan dirinya lebih dekat dengan kehidupan sekarang dan masa depan anak-anak. Oppenheimer(9125) mencatat bahwa selama awal abad ke dua puluh mempengaruhi penyelesaian sosial pada perkembangan pekerja sosial sekolah sangat kuat, “baik sehubungan denganjenis metode-metode yang digunakan dan sehubungan dengan pengembangan pusat sosial disekolah” (Oppenheimer, 1925, halaman 2). Pekerja sosial di pemukiman menyatakan keprihatinan tentang “terbatasnya jumlah pengajar yang berkunjung untuk ke sekolah dan rumah” (Lide, 1959, halaman 109).
2.2.1 Definisi-definisi Awal
Pada tahun 1916, Jane Culbert mendefinisikan peran pekerja sosial sekolah sebagai berikut:
Menafsirkan ke sekolah kehidupan anak yang keluar dari sekolah ;melengkapi pengetahuan guru tentang anak sehingga dia mungkin dapat mengajarkan seluruh anak untuk mengenal kehidupan lingkungan, agar dapat melatih anak-anak untuk kehidupan yang mereka harapkan. Kedua, pengajar berkunjung menafsirkan kepada orang tuatuntutan sekolah dan menjelaskan kesulitan dan kebutuhan anak tertentu. (Culbert, 1916, hal.595). Kegiatan utama dalam pekerjaan sosial sekolah terus menjadi sebagai penghubung rumah-sekolah-masyarakat. Pada tahun 1925, Julius Oppenheimer melakukan studi untuk mendapatkan daftar yang lebih rinci mengenai tugas-tugas daripada yang telahdi gambarkan pada tahun 1916 tentang definisi fungsi. Penelitian ini menyangkut 300 analisis laporan kasus; yaitu menghasilkan daftar 32 fungsi inti dari layanan pengajar berkunjung. Sebuah penilaian dari sifat tugas-tugas ini menegaskan penekanan pada hubungan sekolah-keluarga-masyarakat sebagai bagian utama dari aktivitas pekerja sosial sekolah. Tidak ditemukan dalam penelitian ini adalah tugas yang melibatkan satu-ke-satu, pada hubungan pengajar berkunjung dengan masing-masing anak akan membantu mereka dengan masalah pribadi mereka. Salah satu fungsi yang paling penting dari pekerja sosial sekolah, Oppenheimer menyatakan, “adalah untuk membantu dalam reorganisasi administrasi sekolah dan praktek sekolah dengan menyediakan bukti kondisi yang tidak menguntungkan yang mendasari kesulitan sekolah anak-anak dan dengan menunjukkan perubahan yang diperlukan” (Oppenheimer, 1925). Menurut Oppenheimer, guru mengunjungi adalah satu-satunya orang di sekolah yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan di luar dan lingkungan sosial anak.
2.2.2 Ekspansi pada Tahun 1920
Jumlah pekerja sosial sekolah meningkat, terutama sebagai akibat dari serangkaian demonstrasi tiga tahun,di bawah naungan Commonwealth Fund of NewYork, yang ditujukan untuk pencegahan kenakalan remaja (Oppenheimer, 1925). The Commonwealth Fund memberikan Komite Nasional Guru pengunjung dukungan keuangan untuk demonstrasi county wide dan untuk eksperimen di bidang pekerjaan sosial sekolah. Tiga puluh pekerja sosial sekolah ditempatkan di 30 komunitas yang berbeda, baik di pedesaan maupunperkotaan, di seluruh negeri untuk proyek percontohan.
Setiap masyarakat setempat bersama dalam pembayaran gaji para guru pengunjung. Ketika The Fund memberikan dukungan pada tahun 1930, 21 dari komunitas yang pernah menjabat sebagai situs demonstrasi melanjutkan program. Sementara itu, kota-kota lain yang sibuk melaksanakan program pengajar pengunjung mereka. Pada saat ini, ada sekitar 244 pekerja sosial sekolah di 31 negara.
Itu adalah proyek demonstrasi besar-besaran yang diprakarsai oleh Commenwealth Fund yang memberikan layanan sosial di sekolah visibilitas. Dewan pendidikan, tidak ada nilai layanan, menanggapi dengan mengunjungi program guru di komunitas lain. Pada gilirannya, National Association of Visiting Teacher tumbuh dan berfokus pada upaya membangun standars profesional dan arah untuk ikut keanggotaan.
Sekolah dipandang sebagai pusat strategis pekerja social anak, menghubungkan anak-anak dan keluarga mereka dengan sumber daya, sehingga pembelajaran dan pertumbuhan tidak akan terhambat.
2.2.3 Pengaruh Gerakan Anak Mental
Literatur dari tahun 1920 mencerminkan awal dari peran terapi bagi para pekerja sosial sekolah disekolah umum. Gerakan mental anak membawa peningkatan penekanan pada mengobati individu anak. Menurut LelaCostin, Meningkatnya pengakuan perbedaan individual antara anak-anak dan pada bagian dari menta anak dalam memahami masalah perilaku menyebabkan upaya pada bagian dari mengunjungi guru untuk mengembangkan teknik untuk mencegah ketidakmampuan menyesuaikan dirisosial. (Costin, hal.4).
Klinik kesehatan mental bermunculan dihampir setiap komunitas. Tujuan utama mereka adalah untuk mendiagnosa dan mengobati anak-anak yang gugup dan sulit seperti “Bagaimana kita dapat membantu anakterganggu secara emosional dari pengalaman sekolah?” dan “Bagaimana kita dapat membantu semua anakuntuk menemukan dalam kehidupan mereka di sekolah yang emosional memperkaya dan menstabilkan pengalaman? “dipandu kedua pekerja sosial sekolah saat ini.
JessieTaftmenulis:
Satu-satunya cara praktis dan efektif untuk meningkatkan mental anak bangsa adalah pola pikir sistem sekolahnya dan akses rumah. Sekolah memiliki waktu untuk anak dan kekuatan untuk melakukan pekerjaan. Hal ini bagi kita yang mewakili mental anak dan aplikasi pikir kerja kasus sosial untuk membantu sekolah dan guru untuk melihat tanggung jawab mereka untuk pendidikan yang artinya penyesuaian pribadi individu pikir kegiatan kelompok. (Taft, 1923, hal. 398).
2.2.4 Pergeseran Tujuan dari Tahun 1930-an
Pengembangan layanan pekerjaan sosial di sekolah-sekolah itu sangat terbelakang selama tahun 1930-an, seperti program layanan sosial lainnya bagi anak-anak. Layanan yang diberikan oleh pengajar berkunjung yang baik dihapuskan atau serius mengurangi volume(Areson, 1923, hal.398). Pemberian makanan, selter dan pakaian sibuk banyak dari kegiatan yang ada. Sebagai depresi memburuk, bantuan federal dibuat tersedia untuk keluarga yang ditekan keras. Pada saat ini para pengajar berkunjung mulai melihat peran mereka yang berbeda. Citra awal penegak hukum dan petugas kehadiran pada dasarnya digantikan oleh peran petugas sosial. Meninggalkan komitmen mereka sebelumnya untuk mengubah kondisi burukdi sekolah dan menghubungkan rumah, sekolah, dan masyarakat, pekerja sosial sekolah mencari peran yang lebih khusus memberikan dukungan emosional bagi anak-anak bermasalah(Hall, 1936).
Banyak dari pekerja ini sangat ingin meningkatkan citra mereka. Peran petugas kehadiran tidak dipandang sebagai “profesional”. Selanjutnya, karena beberapa sedang digunakan sebagai “tugas anak laki-laki,” pekerja sosial sekolah sangat ingin memiliki peran yang lebih didefinisikan dengan baik satu dengan keterampilan yang lebih khusus dan kurang stigma.
Gladys Hall dan Edith Everett melihat peran utama guru berkunjung mendukung”anak sehat”. Hall mencatat bahwa peran pekerja sosial sekolah berubah dari satu sekolah penghubung masyarakat untuk pencegahan mental anak yang buruk di kalangan anak-anak, tugas yang kemudian menjadi terkait dengan kerja kasus sosial. Everett menyatakan:
Perasaan saya sendiri sebagai hasil dari bertahun-tahun yang baik pengalaman sehubungan dengan sistem sekolah kota adalah bahwa kita dapat sangat membantu dengan membatasi tanggung jawab profesional kami untuk melakukan serta kita secara manusiawi bisa kerja kasus kami dalam sekolah itu sendiri. (Everett, 1938, hal.58)
Everett lanjut berbicara menentang praktek beberapa guru mengunjungi yang mengambil pada masyarakat tanggung jawab luar bidang kerja kasus.
Di sisi lain, Bertha Reynolds adalah salah satu yang pertama untuk mengenali bahwa tidak semua masalah yang dialami oleh “anak bermasalah” yang melekat dalamnya kepribadian atau latar belakang dan sekolah bisa menjadi sumber masalah anak.
Ini jelas bahwa kontribusi kerja kasus sosial untuk melengkapi administrator publik dasar, tidak berjuang untuk menebus kesalahan yang miskin. Jika kurikulum sekolah fakultas yang menyebabkan setiap tahun ribuan kegagalan sekolah, akan bodoh untuk terlibat mengunjungi guru untuk bekerja secara individual dengan anak yang berhasil. Mengapa tidak mengubah kurikulum dan menghapus masalah itu di satu percobaan?(Reynolds,1935,p.238).
Lainnya, seperti CharlotteTowle, kekhawatiran yang sama, mendesak pekerja sosial sekolah untuk melihat potensi kerja kasus sosial dari perspektif sosial yang luas. Dia menulis: Kami datang tidak hanya untuk mengenali kegagalan tetap melakukan dalam situasi yang berada di luar ruang lingkup bantuan kerja kasus,tetapi juga untuk mewujudkan tanggung jawab sosial kami untuk mengungkapkan kekurangan pekerjaan sosial dalam hal ini, agarkepentingan dan usaha dapat diarahkan aksi sosial. (Towle, 1936).
2.2.5Penekanan pada Case Worker 1940-1960
Pada tahun 1940, sekolah peran pekerja sosial sebagai penghubung sekolah rumah dan petugas kehadiran telah hampir meninggalkan lagi peran yang lebih khusus. Literatur, yang telah tumbuh nyata selama periode ini, meminta perhatian “fungsi yang tepat” kerja kasus sosial. Tidak lagi adalah perubahan dan lingkungan kondisi sosial dipandang sebagai target intervensi. Sebaliknya, profesis ekarangmemilikiorientasiklinis. Kebutuhan kepribadian individu anak mengambil perhatian utama.
Ruthsmalley menggambarkan peran pekerja sosial sekolah sebagai sebuah” khusus dari kerja kasus sosial, metode membantu anak menggunakan apa yang ditawarkan sekolah” (Smalley, 1947, hal.22). Swithun Bowers menggambarkan kerja kasussosial sebagai” seni di mana pengetahuan tentang ilmu hubungan manusia dan keterampilan dalam hubungan digunakan untuk memobilisasi kapasitas dalam individu” (Bowers, 1949P.417). Joseph Hourihan, dalam studi tugas dan tanggung jawab pengajar berkunjung di Michigan, dianjurkan membatasi pekerjaan kepada tugas mereka dan tanggung jawab yang terkait dengan membantu secara individu emosional anak yang tidak dapat menyesuaikan diri(Hourihan,1952).
Sebuah buku yang berjudul Membantu Masalah Anak Sekolah: pustaka di Sekolah Pekerjaan Sosial, 1935-1955, ditangani secara menyeluruh dengan penyediaan layanan kerja kasus sosial untuk kelompok yang berbeda dari anak-anak. “Metode kerja kasus: Anak di Sekolah Dasar” dan”Anak itu dan petugas kesejahteraan sosial di Sekolah” adalah judul khas dari bab yang ada di buku ini. Pengenalan tentang praktek pekerjaan sosial sekolah dimulai:
Lebih dan lebih sistem local negara bagian dan pendidikan menyediakan layanan kerja kasus khusus untuk anak-anak yang menunjukkan kegagalan mereka untuk menggunakan pengalaman sekolah efektif bahwa mereka memiliki kesulitan sosial dan emotional. Ini adalah metode yang terampil bekerja dengan masing-masing anak dan keluarga mereka…pekerja sosial sekolah bertanggung jawab untuk anak-anak yangmenunjukkan bahwa mereka membutuhkan jenis tambahan dan berbeda dari bantuan dari yang tersedia di kelas. Melalui keterampilan kerja kasus pekerja mengembangkan hubungan dengan anak individu yang akan dapat diaktifkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dirinya, situasi sekolah, dan masalah dia yang menggunakan pengalaman sekolah untuk kapasitas potensialnya. (Lee, 1959, hal. 231).
Dalam volume yang sama, poole (1949) menulis:
Social case work dengan anak di sekolah memiliki karakteristik tertentu yang khusus untuk pengaturan dan yang harus dipahami dan terkait dengan prinsip-prinsip umum dari proses kerja kasus sosial. Sekolah adalah pengaturan yang, pada anak, sangat banyak sendiri dan satu di mana be sangat banyak sendiri. Dia menganggap bagian utama dari tanggung jawab untuk penggunaan yang ia akan membuat pengalaman sekolahnya. Ketika ia menemukan beberapa kesulitan dalam pengaturan ini, pekerja membantu dia untuk mengambil tanggung jawab untuk memecahkan masalah tersebut. Dia membantu dia untuk memahami kesulitan seperti yang muncul untuk schooland untuk memperjelas masalah seperti yang ada baginya (poole, 1949, p.456).
Ruth smalley menulis
Dasar psikologis untuk pekerjaan sosial ditemukan dalam penghargaan pekerja sosial dalm kekuatan pengorganisasian psiko-biologis yang menjadi ciri dan merupakan inti dari setiap makhluk hidup … metode pekerja sosial telah dikembangkan untuk memenuhi tanggung jawabnya adalah metode kerja kasus, sebagai keterampilan, dan dibuat tersedia dan dapat digunakan, dengan hubungan individu dengan individu. (smalley, 1955)
Studi Mildered sikkema murah dari jenis arahan dibuat untuk pekerja sosial sekolah menegaskan bahwa, dalam semua studi masyarakat, perilaku atau kepribadian masalah jauh kalah jenis lainnya arahan (sikkema, 1953). Sebaliknya, Jane Culbert menemukan bahwa jumlah terbesar dari reverals berasal dari ketidakmampuan menyesuaikan diri di beasiswa dan kekurangan pelajaran (Culbert, 1923, hal.28) .suatu sastra tahun 1950-an juga menegaskan bahwa memang transisi telah terjadi. Deskripsi praktek kerja kasus menyebabkan pembaca untuk percaya bahwa transisi telah selesai dan bahwa era baru telah muncul.
Selain kerja kasus dengan metode kerja kasus, metode lain pekerjaan sosial digunakan di sekolah adalah terapi kelompok. Paul Simon melakukan studi pada asumsi.
Bekerja dengan orang lain untuk mempromosikan tujuan-tujuan kerja kasus sosial. Pekerja sosial mengakui bahwa pendekatan kerja kasus diandalkan komunikasi dengan orang tua dari anak-anak kesulitan.Sejumlah bervariasi kerja kasus dihabiskan dengan orang tua, dengan maksud membantu orang tua untuk melihat dan berbagi kepedulian sekolah dan untuk mendukung hubungan kerja kasus anak.Anna braustein menyatakan bahwa “tujuan pekerja sosial dalam wawancara orang tua adalah untuk memahami anak dan perilakunya untuk mempelajari kemungkinan penyebab itu.Dia kemudian dapat menawarkan bantuan dalam memberikan kondisi yang lebih baik bagi anak “(Braunstein, 1959, p.268).juga, potensi bekerja dengan kelompok orang tua itu diakui oleh auerbach aline (auerbach, 1955). Tujuan dari sesi kelompok ini adalah untuk orang tua dididik tentang anak-anak mereka, sekolah, dan berbagai perilaku pembangunan.
Pada tahun 1940 dan 1950-an, pekerja sosial berkonsultasi dengan guru sering menafsirkan kesulitan emosional anak dan untuk membantu mereka dalam pengakuan awal kesulitan kepribadian Alderson, 1952). Sosial tenaga kerja sama dengan personil sekolah lainnya mengenai perubahan dalam program pendidikan mendapat perhatian minimal dalam literatur; pentingnya membedakan relathionship kerja kasus dari relathionship interprofessional menekankan untuk beberapa derajat. Sikkema attemped untuk memperluas basis kolaborasi dengan menekankan titik bahwa socialworker sekolah bisa membantu personil sekolah lainnya dalam memahami perilaku manusia dan kemudian menerjemahkannya ke dalam praktek dalam perencanaan kurikulum (sikkema, 1949). Jhon Nebocited satu contoh di mana pekerja sosial sekolah, setelah dua tahun konferensi, berperan dalam mengubah praktek administrasi yang tidak sehat yang memungkinkan polisi kurang informasi untuk datang ke sekolah dan membawa anak-anak ke kantor polisi untuk diinterogasi tanpa persetujuan dari orang tua mereka. Namun, harus dipahami bahwa pekerjaan sosial bukan “kegiatan profesional khas” (Nebo, 1955).
Masih kita menemukan keprihatinan yang diungkapkan tentang siapa pekerja sosial sekolah itu.
2.2.6 Mengubah Tujuan Dan Metode Pada 1960-an
Sekolah umum berada di bawah serangan dari semua penjuru selama 1960-an. ada orang-orang yang berpendapat bahwa pendidikan umum tidak mendidik siswa. Selanjutnya, ada diskusi yang cukup tentang perlunya perubahan di sekolah umum serta perubahan dalam praktek berbagai staf personalia murid: socialworkers dan pembimbing. Beberapa penelitian pendidikan publik didokumentasikan kebijakan sekolah yang merugikan. Itu menyatakan bahwa inquality dalam kesempatan pendidikan exixted sebagai akibat dari pemisahan; bahwa sekolah-sekolah umum yang memperkuat mitos bahwa anak-anak minoritas dan orang-orang pemuda dari latar belakang berpenghasilan rendah tidak bisa melakukan serta rekan-rekan kelas menengah mereka putih, dengan hasil bahwa tenaga kependidikan diharapkan miskin pada dasarnya lembaga represif, menghambat perkembangan kreativitas dan keinginan pada bagian dari beberapa murid untuk Leran. Beberapa orang tua mengaku bahwa mereka merasa terasing dari sekolah dan topi mereka ingin lebih suara dalam pendidikan anak-anak mereka (lide, 1959).
Di tengah semua ini isu kritis yang dihadapi pendidikan publik, pekerja sosial di sekolah banyak bercokol dalam penekanan kerja mereka masing-masing dengan anak-anak yang terganggu emosinya, acara meskipun literatur saat ini menyerukan pandangan yang lebih luas tentang peran sekolah , dan layanan pekerjaan sosial; sekolah sebagai “sistem sosial” yang banyak dibahas dalam tulisan-tulisan pendidik serta orang-orang dari beberapa pekerja sosial (wessenich, 1972; Willis, 1969).
Beberapa eksperimen dengan metode yang berbeda dari pekerjaan sosial juga dikutip dalam literatur.Virginia Crowthers berbicara keras dalam mendukung “pekerja sosial sekolah menggunakan kerja kelompok untuk orang tua dan siswa, menekankan pentingnya memahami individu dan perilakunya dalam hubungan dengan kelompok” (crowthers, 1963).Dalam laporan kemajuan penelitian, Robert Vinter dan Rosemary Sarri menjelaskan penggunaan efektif kerja kelompok dalam menangani masalah sekolah seperti putus sekolah tinggi, prestasi, dan kegagalan akademis.Menurut para penulis ini, murid yang tidak dapat memberikan kemampuan belajar adalah hasil dari kedua karakteristik murid dan kondisi sekolah. Laporan ini menyebabkan para peneliti menyimpulkan sekolah itu dan tidak membatasi upaya mereka untuk kontak dengan pupis; bahwa daerah pekerja sosial sekolah pada posisi yang strategis untuk mengidentifikasi daerah pekerja sekolah dalam posisi strategis untuk mengidentifikasi kebijakan dan pengaturan yang mempengaruhi anak-anak sekolah; dan bahwa pekerja sosial di sekolah harus memiliki doa fungsi-mereka harus membantu individu-individu tertentu dan sekaligus menangani sumber difficulities murid di sekolah (Vinter & Sarri, 1965). Mendampingi minat dalam penggunaan kerja kelompok di Scholls adalah memperhatikan cara baru untuk bekerja dengan masyarakat. Semacam yang lebih luas dari pekerjaan masyarakat diakui, ditujukan untuk membawa komunitas sekolah dan masyarakat geografis lebih dekat bersama-sama.Hourihan, dalam menggambarkan pekerjaan masyarakat di Detroit, menekankan “dua – cara komunikasi yang dibentuk oleh hubungan tersebut dalam membantu anak-anak bermasalah” (Hourihan, 1965). Sebuah proyek di sekolah-sekolah umum Detroit, yang disponsori oleh yayasan ford, juga memberikan bukti bahwa masyarakat telah mengambil lebih penting. Dorongan dari proyek ini adalah untuk membawa masyarakat dalam kota dan sekolah lebih dekat bersama-sama. Karena anak-anak dalam kota tidak mencapai, dan bahkan jauh di belakang siswa lain, agen sekolah-masyarakat yang ditunjuk yang tugasnya adalah untuk menghubungkan sekolah dan masyarakat sebagai mitra dalam pendidikan (Deshler & Erlich, 1972).
Beberapa eksperimen dengan metode yang berbeda dari pekerjaan sosial juga dikutip dalam literatur.Virginia Crowthers berbicara keras dalam mendukung “pekerja sosial sekolah menggunakan kerja kelompok untuk orang tua dan siswa, menekankan pentingnya memahami individu dan perilakunya dalam hubungan dengan kelompok” (crowthers, 1963).Dalam laporan kemajuan penelitian, Robert Vinter dan Rosemary Sarri menjelaskan penggunaan efektif kerja kelompok dalam menangani masalah sekolah seperti putus sekolah tinggi, prestasi, dan kegagalan akademis.Menurut para penulis ini, murid yang tidak dapat memberikan kemampuan belajar adalah hasil dari kedua karakteristik murid dan kondisi sekolah. Laporan ini menyebabkan para peneliti menyimpulkan sekolah itu dan tidak membatasi upaya mereka untuk kontak dengan pupis; bahwa daerah pekerja sosial sekolah pada posisi yang strategis untuk mengidentifikasi daerah pekerja sekolah dalam posisi strategis untuk mengidentifikasi kebijakan dan pengaturan yang mempengaruhi anak-anak sekolah; dan bahwa pekerja sosial di sekolah harus memiliki doa fungsi-mereka harus membantu individu-individu tertentu dan sekaligus menangani sumber difficulities murid di sekolah (Vinter & Sarri, 1965). Mendampingi minat dalam penggunaan kerja kelompok di Scholls adalah memperhatikan cara baru untuk bekerja dengan masyarakat. Semacam yang lebih luas dari pekerjaan masyarakat diakui, ditujukan untuk membawa komunitas sekolah dan masyarakat geografis lebih dekat bersama-sama.Hourihan, dalam menggambarkan pekerjaan masyarakat di Detroit, menekankan “dua – cara komunikasi yang dibentuk oleh hubungan tersebut dalam membantu anak-anak bermasalah” (Hourihan, 1965). Sebuah proyek di sekolah-sekolah umum Detroit, yang disponsori oleh yayasan ford, juga memberikan bukti bahwa masyarakat telah mengambil lebih penting. Dorongan dari proyek ini adalah untuk membawa masyarakat dalam kota dan sekolah lebih dekat bersama-sama. Karena anak-anak dalam kota tidak mencapai, dan bahkan jauh di belakang siswa lain, agen sekolah-masyarakat yang ditunjuk yang tugasnya adalah untuk menghubungkan sekolah dan masyarakat sebagai mitra dalam pendidikan (Deshler & Erlich, 1972).
Karena ketidakmampuan pribadi profesional yang bekerja di klinik dan personil sekolah untuk bekerja sama dengan satu sama lain. Hanya anak sangat termotivasi dan orang tua akan bersedia untuk blunder througt kurangnya komunikasi dan koordinasi (Anderson, 1968). Pada tahun 1969, Costin berpantat pentingnya bahwa sampel nasional pekerja sosial sekolah yang melekat pada tugas tertentu dan berusaha untuk menentukan apakah praktek mereka selaras dengan perubahan kondisi sosial dan masalah yang mempengaruhi sekolah umum dan pemuda (Costin, 1969a). Temuan itu mengungkapkan bahwa pekerjaan sosial mencerminkan orientasi klinis literatur pekerjaan sosial dari tahun 1940-an dan 1950-an, menunjukkan sedikit tanggapan terhadap keprihatinan yang diungkapkan dalam pendidikan dan sastra pekerjaan sosial, dan kepemimpinan / tugas kebijakan peringkat paling important.furthermore, praktisi ini tidak bersedia untuk mendelegasikan tugas kerja sosial sekolah untuk individu dengan kurang dan / atau tingkat pendidikan yang berbeda dan pelatihan dari mereka sendiri. Berdasarkan data tersebut dan pembahasan tentang permasalahan dalam pendidikan, Costin kemudian menyatakan:
Hal ini jelas bahwa pekerja sosial ISF di sekolah ini adalah untuk memenuhi kewajiban profesional mereka dan menjelaskan klaim mereka pada sumber daya pendidikan, maka mereka harus bergerak dengan kecepatan untuk memberikan bagian dari obat untuk masalah sekolah dan murid-nya.Langkah pertama adalah untuk menilai kembali tujuan dari jasa pekerja sosial sekolah … di hari ini dunia fokus pekerjaan sosial dengan murid harus bergeser dari penekanan utama pada emosi, motivasi, dan kepribadian.
John Alderson dan Curtis Kirshef mengambil bagian dari replikasi dari studi Costin, meminta populasi dari sekolah pekerjaan sosial di Florida yang mana telah memiliki tingkat pelatihan profesional yang bervariasi dan memiliki persiapan untuk menunjukkan pentingnya tugas pekerjaan sosial dan kesediaan untuk mendelegasikan mereka (Alderson dan Kirshef, 1973).Populasi ini mengatur kepemimpinan dan pembuat kebijakan menjadi yang pertama maupun kedua.Dalam studi Costin, pemimpin dan pembuat kebijakan telah memiliki peringkat paling penting. Juga, grup ini mempertunjukkan kesiagaan untuk bereksperimen dengan pola staff yang berbeda, mengusulkan sebuah pergerakan positif tidak dibuktikan dalam studi Costin. Bagaimanapun, keberhati – hatian harus digunakan dalam membandingkan apa yang dipelajarinya: Costin menganalisa sampel acak dari pekerja sosial dengan gelar master, Alderson dan Kirshef menganalisa profesional dengan latar dan level yang berbeda dari suatu pelatihan di sebuah daerah.
Robert Bruce William menginvestigasi tingkatan tingkah laku dari sekolah pekerjaan sosial yang mana direfleksikan dengan suasana sekolah individual dan aksi profesional dari sekolah pekerjaan sosial dalam keharmonisan maupun ketidak harmonisan sekolah (William,1970). Penelitian ini didasarkan oleh asumsi pokok terutama ditentukan oleh administrasi kebijakan dan praktek dari masing masing sekolah dan demikian dimainkan sebuah peran kunci dalam menentukan praktek pekerjaan sosial.Hasil dari penelitian ini diusulkan bahwa penampilan maupun bukan penampilan pekerja sosial telah menunjukkan aspek sikap dan perilaku dari relasi pekerja sosial dan kepala sekolah.
John P. Flynn mempelajari bagaimana personel sekolah lain merasakan tugas pekerjaan sosial (Flynn, 1976). Personil pekerja pelayanan, guru – guru, kepala sekolah, dan spesialis instruksional diminta untuk menilai kepentingan dan penampilan dari 107 tugas sekolah pekerjaan sosial. Dan hasilnya adalah :
- Tiap kelompok profesional memiliki perbedaan dalam mempersepsi kepentingan tugas dan penampilan tugas.
- Hanya sedikit tugas yang dipandang/ dibagikan dengan kelompok lain, salah satunya secara terminologis dari kepentingan tugas dan penampilan tugas.
- Kelompok juga menilai bahwa pekerjaan sosial individu dan pelayanan klinis sebagai sesuatu yang sangat penting and peran pembuat kebijakan sangatlah penting.
Ekspansi tahun 1970:
Panggilan untuk Pimpinan.
Tahun 1970 merupakan masa ekspansi besar. Angka dari sekolah pekerjaan sosial meningkat dan lebih menekankan untuk ditempatkan pada keluarga, komunitas, kelompok dengan pekerja di sekolah lain yang mengutamakan kedisiplinan, dan murid yang memiliki keterbatasan. Kondisi sosial juga mengalami perubahan dengan cepat.
Sebuah dokumen yang dengan mantap mempengaruhi edukasi publik dalam waktu itu yaitu Kerner Report ( National Advisory Committe on Civil Disorder, 1968). Dokumen tersebut menganalisis kekerasan rasial pada tahun 1960. Laporan tersebut merekomendasikan tentang pemisahan rasial dalam sekolah negeri bisa dihapuskan dan kesempatan bagi orangtua dan partisipasi komunitas dalam warga sekolah akan diperluas.
“Social Change and School Social Work In the 1970s” merupakan tema dari seminar nasional yang diadakan oleh University of Pennsilvania pada bulan Juni 1969. Dorongan dari seminar tersebut adalah untuk menstimulasi inovasi dan perubahan dalam sekolah pekerjaan sosial di seluruh US dan untuk mendorong sekolah pekerjaan sosial untuk menerima peran kepemimpinan (Sarri &Maple ,1972). Hasil dari pertemuan nasional dan regional tersebut kemudian disatukan dalam buku yang berjudul “The School in The Community).
Linda Wessenich, Helen Nieberl, and Betty Deshler juga John Erlich adalah orang orang yang berkontribusi dalam The School in The Community.Wessenich mempelajari sistem analisis bedasarkan dari teori sistem untuk menyelesaikan masalah.Nieberl lebih memfokuskan pada kromosom individual untuk dunia yang lebih luas tentang sekolah dan komunitas.Deshler and Erlich melaporkan dalam proyek demonstrasi di Detroit yang mana pekerja sosial menjadi agen yang memperluas jaringan antara sekolah dan komunitas (Deshler and Erlich, 1972).
Benjamin Gottlieb and Lois Gottlieb menyebutkan essensialnya ada 3 keterpaksaan yang menghambat praktek.
- Persiapan edukasional sekolah pekerjaan sosial terlalu fokus pada pekerjaan sosial terhadap individual dan sebuah metode orientasi.
- Pelatihan bedasarkan orientasi medis, yang mana lebih berfokus pada faktor intafisik daripada kondisi lingkungannya.
- Dugaan tradisional yang diselenggarakan oleh administrator pendidikan yang didukung oleh praktisioner untuk menjadi pengurus orang orang yang melakukan
tindakan menyimpang (Gottlieb & Gottlieb, 1971).
2.3 Model Praktek
Sebagaimana meningkatnya sekolah praktek pekerjaan sosial, maka terdapat praktek model yang berbeda. Praktek model bisa didefinisikan sebagai “representasi atau pernyataan dari fakta yang esensial, ide – ide pokok dan konsep juga interelasi mereka dalam domain yang mapan pada model pemberian penjelasan.Membangun penyederhanaan pada fenomena kompleks yang mana bisa dirasakan” (Johnson, 1972). Peter Kettner mengidentifikasi beberapa komponen untuk menganalisa dan membandingkan model-model, penyokong teoritis, level level intervensi, target kelompok atau sistem, peran peran dan tanggung jawab pekerja, tujuan dan objektif, metode metode asesmen, strategi pekerjaan dan sedikit istilah (Kettner, 1975). Model – model dikembangkan untuk melengkapi keterangan kebutuhan praktek, yang mana tentu saja dalam konteks yang berhubungan dengan kondisi pada saat itu.
Alderson telah mempertimbangkan bekerja dalam area ini dan telah menawarkan 4 model sekolah praktek pekerjaan sosial: model klinis tradisional, model sekolah perubahan, model interaksi sosial, dan model komunitas sekolah (Alderson, 1972). Model yang paling dikenal dan digunakan secara luas adalah model klinis tradisional, yang mana memfokuskan pada individu siswa dengan masalah sosial dan emosional yang mana potensinya bisa dipelajari.Model ini menggunakan psikoanalitik dan ego psikologi sebagai dasar teori. Asumsi pokok dari model ini adalah bahwa individu anak ( dan atau dengan keluarga anak tersebut) mengalami disfungsional dan mengalami pengalaman pengalaman yang sulit. Jadi, sekolah pekerjaan sosial menyediakan servis casework pada anak atau keluarganya.
Tabel 2.1 Model Praktek Sekolah Pekerjaan Sosial Alderson
| Model Tradisional Klinis | Model Perubahan Sekolah | Model Komunitas Sekolah | Model Interaksi Sosial | |
| Fokus | Siswa yang teridentifikasi membunyai kesulitan sosial atau emosional. | Lingkungan sekolah terutama norma dan kondisi sekolah. | Kekurangan dan kerugian kominitasyang tidak paham dan tidak mempercayai sekolah | Interaksi timbal balik antara murid dan sekolah, mengidentifikasi masalah dalam interaksi. |
| Tujuan | Memungkinkan siswa mengenal kesulitan dalam relasi sosial dan emosional di sekolah agar mampu berfungsi secara efektif | Merubah ketidakberfungsian norma dan kondisi sekolah. | Mengembangkan pemahaman dan support komunitas, mengembangkan program sekolah untuk membantu siswa yang menjadi korban kemiskinan, meredakan kondisi kekurangannya. | Membantu mengembangkan sistem pertolongan bersama. Menghilangkan rintangan interaksi timbal balik. |
| Sistem Target | Siswa dan orangtuanya | Seluruh Sekolah | Komunitas dan sekolah menjadi target maupun sistem lainnya. | Bidang interaksi. |
| Pandangan dari sumber kesulitan | Kesulitan fisik maupun emosional anak, penggalian utama dari keluarga, khususnya masalah anak dan orangtua | Tidak berfungsinya norma dan kondisi sekolah. | Kemiskinan dan kondisi sosial lainnya, personel sekolah tidak mengerti perbedaan budaya dan efek kemiskinan. | Kesulitan siswa dan berbagai sistem termasuk yang mana menjadi interaksi sosial, untuk di komunikasikan dan untuk bersama sama dibantu. |
| Tugas dan aktivitas pekerja | Casework, terutama pada siswa dan orangtuanya, beberapa pekerjaan dengan beberapa kelompok dan keluarga dalam suatu kelompok, fungsi liaison antara siswa, murid dan staf pendidik termasuk guru gurunya. | Mengidentifikasi norma dan kondisi sekolah yang tidak berfungsi secara baik, beberapa bekerja dengan memberikan arahan pada siswa, konsultasi dengan guru dan administrator secara individual dan kelompok. | Melibatkan diri dalam aktivitas komunitas, memungkinkan komunitas untuk menjawab pertanyaan dan mengangkat isu, membantu komunitas untuk memahami sekolah dan sebaliknya, menganjurkan komunitas untuk melibatkan diri pada program sekolah. | Mengidentifikasi dan menyoroti penggunaan komponen yang sama, membentuk pertolongan dalam berkomunikasi, membentuk sistem bantuan bersama, bekerja secara langsung dengan individu, kelompok maupun komunitas.
|
| Peran Utama Pekerja | Membentuk kolaborasi dan konsultasi yang bersifat dukungan | Advokasi, negoisasi, konsultasi, mediasi | Mediasi, advokasi, dan outreach. | Mediasi, konsultasi, pemungkin. |
| Dasar conseptual dan teori | Psikoanalisis, psikososial, ego psikologi, teori dan metodologi casework. | Teori pengetahuan sosial, khususnya teori tentang penyimpangan, teori organisasi | Konsep komunitas sekolah, teori komunikasi. | Teori sistem, teori pengetahuan sosial, teori komunikasi. |
Pengasuhan sekolah terlibat dalam proses penilaian hanya untuk berbagi perspektif mereka dan wawasan sebuah anak bagaimana thw beroperasi di sekolah.
Model kedua diidentifikasi oleh alderson adalah model perbahan.Target dari model ini adalah sekolah dan instituational kebijakan dan praktek; sekolah secara keseluruhan – semua orang dan meliputi bagian dari kelompok – dipandang sebagai klien.Model ini mendorong perubahan dalam kebijakan internasional yang terlihat seperti menyebabkan malperformance siswa.
Model ketiga, model sekolah komunitas, memfokuskan terutama pada mayarakat yang memiliki kekurangan atau kurang beruntung, sekolah tersebut telah menawarkan, untuk mengatur dukungan untuk sekolah dan program, dan untuk menjelaskan ke sekolah dinamika masyarakat dan faktor-faktor sosial operant
Model keempat, yaitu model interaksi social, penekanan yang memiliki sebagai pengaruh timbal balik dari riwayat individu dan kelompok.Target intervensi jenis dan kualitas pertukaran antara pihak ( anak, kelompok anak-anak, keluarga, sekolah, dan masyarakat). Pekerja sosial sebagai mediator, membantu menjelaskan, dan fasilitor dari pemahaman yang lebih baik di antara para pihak.
2.3.1 Costin Model
Model ini menekankan yang komplektifitas dari interaksi antar siswa, sekolah, dan masyarakat, ( lihat tabel 2,2 ). Tujuannya adalah untuk membawa perubahan dalam interaksi.Perhatian diberikan ke karakteristik dari kelompok murid dan sekolah mereka. Fokusnya adalah pada situasi kelompok siswa, bukan di pengembangan pribadi dari individu kelompok anggota.
Sekolah pekerja sosial dapat menyediakan casework, kelompok, intervensi krisis dan atas nama anak-anak individu yang adalah anggota dari sebuah target tertentu grup. Namun, casework sosial bukanlah tugas pekerjaan sosial utama sesuai untuk model ini.Malah, sekolah pekerja sosial mungkin membantu dalam pengembangan program baru, berkonsultasi dan bekerjasama secara sekolah dengan resmi kebijakan mengenai dan praktik yang berkontribusi untuk malperformance, dan bekerja dengan badan-badan masyarakat untuk menyediakan layanan untuk murid dan kaum-kaum mereka.
Tabel 2.2 Sekolah costin’s -komunitas- model hubungan murid
| Fokus: di sekolah, masyarakat yang memiliki kekurangan dan sistem tertentu karakteristik yang seperti itulah yang berinteraksi dengan karakteristik dari murid di berbagai titik stess di siklus kehidupan mereka.
goal: untuk membawa perubahan dalam hubungan sekolah-komunitas-murid yang akan mengurangi stres pada kelompok target murid.
Prosedur penilaian: belajar dan mengevaluasi karakteristik murid dan sekolah dan kondisi masyarakat yang mempengaruhi kesetaraan kesempatan pendidikan untuk target group murid; menilai kebutuhan masalah dan mengidentifikasi situasi yang membentuk masalah kompleks; berkonsultasi dengan administrators, guru, sekolah personel lainnya, dan terpengaruh kelompok murid dan orang tua mereka.
Pembangunan rencana pelayanan: memerlukan melanjutkan konsultasi dengan administrasi, guru personel sekolah lain, dan dengan individu; pengajuan ditulis berencana kepada administrator dan orang lain yang mendukung; perjanjian time-limited kontrak untuk layanan; dan kontrol dari mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakan layanan rencana.
Tugas pekerja dan kegiatan: membantu mendiagnosis dan mengartikulatif masalah sekelompok siswa yang mereka lihat sebagai kritis dalam sekolah mereka; sebagai individu atau kelompok, bagi para keluhan pelajar ; mengatur kelompok informal guru, siswa, dan administrator, menyuarakan keprihatinan dan menyelesaikan konflik; bentuk change-agent atau pemecahan masalah tim; bertindak sebagai advokat, konsultan, mediator, dan negosiator dengan guru, administrator, keluarga, dan lembaga; alamat kondisi sekolah daripada membatasi upaya kontak dengan guru dan siswa; membantu administrator dalam mengidentifikasi praktek dan pengaturan mereka Perkembangan personil: membangun self esteem dari murid; mempertahankan fleksibilitas dalam tim untuk memungkinkan untuk diferensiasi dari keterampilan, tapi mengimplementasikan suatu kesatuan yang pendekatan terhadap dan tim pemecahan masalah yang telah otoritas; menekankan membuka berbagi informasi dan ide-ide di antara anggota tim yang dan orang lain yang bisa membantu.
Mendukung teori: belajar sosial teori; systems teori dan beberapa turunannya (organization pengembangan, teori, situasi klasifikasi dari peran, masalah dan sistem).
|
Faktor analisis data menghasilkan tujuh faktor.Dalam peringkat urutan kepentingan, ini adalah: menjelaskan anak dengan masalah; menilai masalah anak; memfasilitasi hubungan sekolah-komunitas-murid; pendidikan penyuluhan dengan anak dan orang tua; memfasilitasi pemanfaatan sumber daya komunikasi; dan kepemimpinan dan pembuatan kebijakan.Lima rangking tertinngi menyebabkan faktor kesimpulan sekolah itu praktik kerja sosial berada di transisi, jauh dari mayoritas pendekatan casework klinis ditemukan dalam costin’s belajar untuk satu dari rumah-sekolah-komunitas dan pendidikan penghubung penyuluhan dengan anak-anak dan orang tua mereka.Namun, kepemimpinan dan pembuatan kebijakan masih dianggap paling penting.
Kesimpulan ini jatuh antara casework tradisional pendekatan dan perubahan sistem model atau yang melibatkan hubungan sekolah dengan komunitas. Mereka tidak menunjukkan kenaikan kuat mengidentifikasi target penekanan pada kelompok anak-anak, mengubah kondisi yang buruk dan masyarakat, sekolah atau menanggapi krisis di sekolah-sekolah.Praktisi ini juga tetap enggan untuk mendelegasikan dan menetapkan tugas, tampaknya mempertahankan bahwa mereka adalah satu-satunya profesional dalam sistem sekolah yang bisa melakukan fungsi ini sebuah hasil yang pertentangan dengan sastra temuan bahwa didukung eksperimentasi dengan bekerja sama.
Studi NASW. Sosial NASW bekerja di sekolah-sekolah ditemukan untuk pertama kalinya pada tahun 1973 dan diidentifikasi banyak menghadapi isu sekolah pekerja sosial.Sejak inflasi dan pemotongan anggaran sedang mengancam pendidikan publik dan personil sekolah lainnya adalah peran mengklaim yang mirip dengan orang-orang menyediakan oleh sekolah pekerja sosial, itu menjadi penting untuk dewan. Status untuk membawa perhatian terhadap masalah ini dan untuk mengamankan pendapat orang praktisi dewan terbuka mempublikasikan sebuah terakhir isu-isu dalam sebuah dari nasw berita, sekolah mengundang pekerja sosial untuk berbagi persepsi mereka ( waston, tahun 1975). Kemudian dalam tahun 1974 dewan yang dibuat sebuah laporan untuk midwest conference on sosial. Di pertemuan ini itu menjadi jelas bahwa standar nasional diperlukan untuk memperjelas sifat pelayanan dan untuk menjelaskan jasa kepada personil di dalam social lainnya.
Sebelum menandai tugas ini, dewan yang mencari informasi tambahan pada status dari praktek, para persiapan pendidikan sekolah pekerja sosial, dan struktur sistem pekerjaan sosial di seluruh amerika serikat. Survei tersebut dilakukan pada musim panas tahun 1975.Perwakilan dari masing-masing dari 50 negara bagian departemen pendidikan diwawancarai; questionnaires sedang dikirim ke sampel sekolah pekerja sosial dan untuk lulus dan departemen sarjana sekolah pekerjaan social.
Hampir semua sekolah pekerja sosial yang disurvei di waktu ( 88,4 persen ) yang digunakan oleh sebuah sekolah di lingkungan kabupaten, dan posisi mereka tersebut didanai oleh negara atau lokal lembaga atau kombinasi dari keduanya ( ringkasan laporan awal pada hasil survei pekerja sosial di sekolah-sekolah, tahun 1978 ).Paling ( 88.8 persen ) telah master sarjana dalam pekerjaan sosial ( msw ) dan yang memenuhi syarat untuk kepemilikan dan tawar-menawar. Seperlima kolektif melaporkan bahwa mereka langsung bertanggung jawab kepada sebuah supervisor, dan sekitar 90 persen merupakan anggota tim. dari berbagai disiplin ilmu. Masalah khas mereka relation-ship orangtua dan anak melibatkan emosional terganggu siswa. Hampir setengah dari anak-anak ini berasal dari daerah berpenghasilan rendah, dan diantaranya berkulit putih.Yang paling sering diidentifikasi relasi kerja masalah terlalu banyak perujukan, kasus beban, berlebihan personil dan sekolah yang tidak memahami pekerja sosial peran dan fungsi
Lima puluh serikat dilaporkan sekolah itu pekerja yang dikerahkan sosial yang dipekerjakan oleh sekolah distrik, tetapi hanya enam serikat yang dibutuhkan pekerjaan sekolah pekerja sosial.
Pada tingkat sarjana ( 230 sekolah-sekolah ) kurang dari sepertiga dari pihak sekolah yang ditawarkan sebuah kurikulum khusus di sekolah pekerjaan sosial, tetapi pengaturan pihak sekolah adalah sering digunakan sebagai sebuah penelitian lapangan. Hampir semua melaporkan bahwa di sana masih kecil kolaborasi antara mereka dan departemen pendidikan pada yang sama kampus.
Di master- sarjana tingkat, hanya delapan dari perkuliahan melaporkan kurikulum khusus di sekolah sosial juga dan 19 menawarkan beberapa program pascasarjana di sekolah pekerjaan sosial.Sebagai di tingkat sarjana, departemen pendidikan dan pihak sekolah telah kecil.
Ketika temuan dari studi nasw itu dibandingkan dengan allen meares studi, beberapa kesamaan menjadi jelas.Keduanya menemukan bahwa praktek itu digambarkan berfokus pada individu anak dan kedua orangtuanya bukan pada membantu target kelompok anak-anak atau mengubah kebijakan dan praktek pendidikan yang merugikan, meskipun allen meares menemukan bahwa praktek itu sedang dalam transisi.1980.
2.3.2 Antarmuka Dari Pekerjaan Sosial Dan Pendidikan
Sekolah Pekerjaan Sosial: Praktek Dan Penelitian Perspektif ( Constable dan Flynn, 1982 menangkap tekanan dari layanan di tahun 1980 dan beberapa usaha penelitian dan isu pendidikan penting masa depan.representatif topik adalah: perspektif ekologis pada pekerjaan sosial di sekolah, praktek pekerjaan sosial di sekolah dan p.l. 94-142, Implikasi dari perintah hukum yang sah untuk sekolah dan kebijakan sosial, pekerjaan sosial di pendidikan regular dan pendidikan khusus, sekolah sebagai sebuah organisasi, proses penelitian untuk perubahan sistem, pendekatan praktis untuk melakukan dan menggunakan penelitian di sekolah, dan progran evaluasi dan sekolah pekerjaan sosial.
Sebuah konten analisis karya ilmiah di sekolah pekerjaan sosial pada periode 1968-1978 menunjukkan beberapa pergeseran penting dalam praktek. Pekerjaan sosial sekolah berfokus pada kelompok murid ( khususnya anak-anak cacat ) dan bekerja dengan sivitas sekolah. Peran penghubung menekankan, sebagai peran mempromosikan perubahan kebijakan sekolah ( allen meares dan lane, 1982 ). Proyek penelitian lain membenarkan temuan ini. Proyek ini mencari informasi tentang persepsi pekerja sosial di sekolah dari p.l. 94-192 dan dampaknya pada praktek mereka.Konsultasi, belajar, mendiagnosis kondisi cacat, adalah sebuah pengalihan dari pengobatan klinis jangka panjang dan sebuah peran organisasi yang membantu sekolah untuk melakukan fungsi utamanya yaitu menemukan ( timberlake, sabatino dan hooper, 1982 ).
Yang menarik, buku ini mencerminkan dampak perubahan yang baik dalam pekerjaan sosial di bidang pendidikan.Saat ini dalam pekerjaan sosial ada dorongan kuat untuk mengadopsi sebuah perspektif ekologis dari praktek pekerjaan sosial.Dan evaluasi dari praktek ini telah dianjurkan ( constable dan flynn, 1982, germain, tahun 1979, tripodi dan epstein, 1980winters dan easton, 1983 ).Selama tahun 1980, sekolah pekerja sosial tumbuh pesat, dan juga asosiasi negara mereka. Terkait pertumbuhan tersebut, nasw telah mengadakansejumlah konferensi khusus untuk mengatasi kebutuhan kelompok ini. Misalnya, pada tahun 1988 konferensi pekerjaan sosial di sekolah diadakan di philadelphia dan pada tahun 1990 sebuah pencarian khusus pekerja sosial sekolah digelar sebagai bagian dari rapat tahunan nasw.Konferensi khusus ini terutama difokuskan pada perluasan peran ( misalnya, bekerja dengan balita, peran pekerja sosial sekolah pendidikan khusus pada anak usia dini, reformasi sekolah dan bagaimana pekerja sosial sekolah dapat meningkatkan keragaman budaya, dan mengutamakan anak-anak dengan kemampuan khusus), populasi baru ( misalnya, bayi yang sakit dan pemuda terjangkit aids ), dan bagaimana untuk merespon peningkatan jumlah anak terlantar dan keluarga mereka.Sebagai reaksi, kebutuhan penelitian tentang praktek meningkat. Pelayanan Pekerjaan Sosial di Sekolah yang diterbitkan pada tahun 1986, adalah teks komprehensif yang pertama yang ditangani dengan subjek permasalahan ini ( allen meares, washington dan welsh, 1986 ). Beberapa asosiasi pekerja sosial negara mempublikasikan jurnal dan laporan mereka sendiri.
Legislasi pendidikan terus memainkan satu peran penting dalam membentuk dan memperluas pelayanan sekolah dan pekerjaan sosial. Misalnya, sekolah pekerja sosial itu dimasukkan sebagai syarat personil di bagian H dari pendidikan amendement tindakan cacat dari tahun 1986, intervensi awal untuk bayi cacat dan toodlers, p.l. 100-297, perbaikan amendements sekolah dasar dan sekolah menengah 1988, dikenal sebagai individu dengan disabilitas pendidikan.
Debat tentang kualitas pendidikan dan challange untuk mereformasi sistem yang dipimpin untuk sebuah studi nasional dari negara kantor pendidikan dan tantangan untuk mereformasi sistem yang dipimpin untuk sebuah studi nasional dari negara kantor pendidikan untuk memastikan reformasi inisiatif dan kondisi yang ada hambatan untuk keunggulan.Allen meares ( 1987 ) menyatakan bahwa dorongan untuk studi juga envolved dari kekhawatiran tentang erosi dukungan federal untuk kesejahteraan sosial programms untuk anak-anak dan keluarga mereka ( allen meares 1987 ).
Panggilan untuk keunggulan dalam pendidikan mengabaikan seperti hambatan seperti kemiskinan, perawatan kesehatan yang tidak memadai, ras dan jender diskriminasi, dan interaksi mereka dengan sekolah.Dia belajar ditemukan keunggulan didefinisikan oleh memiliki sekolah yang efektif administrator, mempertahankan harapan besar untuk pelajar dan staf, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar, dan pemberantasan sekolah masalah.Inisiatif itu, reformasi menunjuk biru pita komite, tekanan legislatif untuk meningkatkan dana, meningkatkan cholastic reqruitments bagi guru dan siswa, dan memberikan perhatian untuk tikar dan ilmu pengetahuan.Hambatan untuk excelence di bidang pendidikan yang sudah ada, ketidakpedulian orangtua kemiskinan, penyiksaan anak dan mengabaikan, keluarga krisis, orangtua miskin keterampilan, economis kekurangan, hubungan, parent-teacher miskin kurangnya putus sekolah program pencegahan dan kerja tim di antara personel, dan kurangnya daya keuangan.
2.3.3 1990-Sekarang
Pada 1994 ( dikenal sebagai satu tahun pendidikan reformasi ) sekolah pekerja sosial sekali lagi termasuk di major bagian dari legislasi amerika pendidikan bertindak, p.l. , 103-227.Undang-undang ini ditandatangani menjadi uu pada 31 maret 1994. Delapan tujuan nasional itu termasuk.Tujuan utama dari tindakan itu untuk mempromosikan reasearch, konsensus bangunan, dan perubahan sistemik untuk memastikan kesetaraan kesempatan pendidikan untuk semua siswa. Meskipun besar ini bagian dari legislasi targets reformasi inisiatif untuk sekolah, tertentu , sosial utama teknologi, dan perubahan ekonomi yang lebih luas di masyarakat dapat mencegah dari mencapai saham dalam kesempatan pendidikan. Misalnya, peningkatan jumlah anak-anak dan female-headed hoseholds hidup dalam kemiskinan ( danziger dan gottchalk, 1993 ), kemajuan teknologi yang lebih canggih memerlukan tenaga kerja, reformasi di kesejahteraan dan healthcare masih topik debat tanpa perusahaan proposal pada perubahan nyata, ada panggilan untuk lebih masyarakat kontrol sekolah, Dan kekerasan di masyarakat dan di sekolah adalah di seluruh waktu tinggi. Merupakan hal yang penting untuk mengaitkan ini keadaan ke bingkai konseptual bekerja dengan buku ini. Sekolah adalah berdampak pada oleh komunitas yang besar dan serta konteks. Jika dukungan sosial yang tidak hadir untuk anak-anak dan keluarga mereka untuk penyangga konsekuensi dari kemiskinan dan masalah lain, bahkan dengan pelaksanaan reformasi sekolah usulan, keberhasilan pendidikan adalah sangat tidak mungkin.
2.3.4 Pertumbuhan Negara Asosiasi Pekerja Sosial Yang Baru Sekolah Dan Organisasi Nasional
Sejak awal 1970-an, jumlah negara asosiasi sekolah pekerja sosial telah meningkat. Banyak nasw bab-bab sekarang memiliki sekolah pekerjaan sosial komite. Ada empat sekolah: midwest legistasi daerah kerja bakti dewan, dibentuk hampir tiga deacades lalu, sekolah selatan konferensi kerja bakti aliansi barat, dan timur laut aliansi.Pada 1994, spearheaded oleh sekolah pekerjaan sosial kepemimpinan, Sebuah asosiasi nasional pekerja sosial tersebut dibentuk independet dari nasw ( national association of pekerja sosial pada pendidikan, commission tahun 1991 ).
Di banyak negara kantor pendidikan ada orang yang menganggap administrasi sosial untuk sekolah responsibilty bekerja layanan.Orang-orang ini yang dikenal sebagai sekolah pekerjaan sosial negara konsultan di sekolah pekerjaan sosial.,
negara ini regional, dan organisasi nasional yang menyediakan anggota mereka dengan kesempatan pendidikan untuk profesional pertumbuhan, lokakarya, tahunan jaringan kerja, melanjutkan pendidikan kredit, dan advokasi. legislatifSebagai negara asosiasi meningkatkan dan mengembangkan, itu akan menjadi penting bagi mereka untuk membentuk hubungan dengan nasw school-based progresif dan lainnya terkait dengan kelompok.Itu akan merugikan profesi kelompok independen jika ini terisolasi diri dari keanggotaan organisasi nasional. Pada 1994, nasw diidentifikasi sekolah sosial bekerja sebagai bagian pertama di bawah yang kemudian baru diselenggarakan struktur.Yang nasw shool pekerjaan sosial bagian telah dirayakan beberapa anniversaries.Bagian menyediakan anggota dengan natioal kepemimpinan pekerja sosial untuk sekolah, newsletter, peluang pembangunan profesional di national conference, lobi di tingkat nasional dan memberikan komentar tentang pendidikan federal undang-undang dan peraturan, dan advokasi kebijakan. untuk mempengaruhi relevanBagian itu menghasilkan serangkaian minipublications di sekolah pekerjaan sosial efektivitas ( nasw panitia, 1997 ).
2.3.5 Sekolah Pekerjaan Sosial Credential
Amerika Serikat yang sekarang mengambil peran yang lebih aktif dalam menentukan pendidikan reqruitments untuk latihan di sekolah. Misalnya, di illinois, praktisi mencari sertifikasi harus menyelesaikan sosial yang disetujui melakukan program pascasarjana coursework di sekolah khusus yang mencakup kerja bakti ( misalnya undang-undang, pendidikan anak-anak, luar biasa model dari praktek, Dan negara bagian dan sekolah hukum ) dan mengambil dua ujian khusus ( uji pengetahuan khusus untuk sekolah pekerjaan sosial dan sebuah test of basic skills di math, membaca, dll ). Bagi para praktisi coursework mereka yang selesai sebelum pelaksanaan reqruitments, ini prosedur yang ada di tempat untuk menyatakan mereka. Sejak jadi banyak negara yang mengadopsi credentialing prosedur untuk semua karyawan sekolah sebagai cara untuk memperbaiki kualitas personel, nasw, dalam konsultasi dengan allen meares dan pendidikan yang pengujian layanan, priceton, new jersey, mengembangkan pertama sekolah pekerjaan sosial credential uasbn.Ujian ini diberikan pada 1992. Sekolah pekerjaan sosial spesialis ( ssws ) credential adalah, pada satu waktu, sukarela dan tidak diperlukan untuk negara pekerjaan sosial cartification. Ini diakui sekolah credential kerja bakti yang telah:
- bertemu secara nasional standar yang ditetapkan dari pengetahuan dan praktek oleh mencapai lewat skor pada uasbn guru nasional ( nte ) sekolah pekerja sosial khusus yang menguji
- menunjukkan dua tahun dari dibayar posting msw pekerjaan sosial pengalaman dan pengawasan profesional di sekolah pengaturan
- disediakan profesional evaluasi dari sebuah pekerjaan sosial yang supervisor dan referensi dari rekan kerja saya.
Namun, pada 1999 uasbn guru nasional memutuskan untuk menghapus pekerjaan sosial yang unik dari uasbn karena penurunan bunga.Sejak guru nasional ujian yang merupakan salah satu program sosial untuk sekolah reqruitments bekerja credential, nasw menanggapi dengan menciptakan sekolah yang bersertifikat kerja bakti spesialis ( c-ssws ) sebutan untuk mengganti credential program pada tahun 2000 ( nasw, n.d. ). Seperti sekolah pekerjaan sosial credential uasbn, yang c-ssws mengakui pemegang sertifikasi sebagai seorang profesional di bidang pekerjaan sosial dan bahwa pemegang memenuhi standar nasional di lapangan.Sedangkan c-ssws menyatakan pemegang pemegang sebagai seorang profesional dalam pekerjaan sosial, tidak menggantikan perlu lisensi atau sertifikasi bahwa individu serikat pekerja sosial dari sekolah memerlukan ( nasw, n.d. ). Perizinan tetap di bawah Kontrol dari persyaratan negara dan kerja social sekolah berbeda-beda.
Langkah untuk menguji dan meninjau mandate dari mereka yang mencari pekerjaan sebagai pekerja social sekolah memegang implikasi penting untuk persiapan pendidikan yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah pekerjaan sosial.
2.3.6 Standar Untuk Jasa Pekerja Sosial Di Sekolah
Pada tahun 1976 standar pertama bagi jasa pekerja sosial sekolah dikembangkan. Standar ini dikelompokkan menjadi tiga bidang:
- Pencapaian kompetensi
- Organisasi dan administrasi dan
- Praktek prefessional.
Standar termasuk taksonomi tugas pekerjaan sosial sekolah. Tema penting yang berjalan di seluruh standar adalah pencegahan.
Pada tahun 1992 standar untuk jasa pekerja sosial di sekolah direvisi oleh Satuan Tugas Pendidikan dan lagi pada tahun 2002 (NASW, 2002, Juni). Standar dibagi menjadi tiga bagian:
- Kompetensi dan praktek profesional,
- Persiapan profesional dan pengembangan dan
- Struktur administrasi dan dukungan.
Rasio yang tepat untuk populasi pekerja sosial siswa ditentukan oleh populasi dari badan mahasiswa dan kebutuhannya. Misalnya, sekolah terdiri dari sejumlah besar murid cacat akan membutuhkan lebih banyak pekerja.
2.3.7 Arah Masa Depan dan Tantangan
Pertanyaan tentang kualitas pendidikan, mengurangi basis pajak, peningkatan permintaan untuk melayani populasi siswa lebih beragam, meningkatnya kemiskinan di kalangan anak-anak dan keluarga, dan peningkatan kekerasan akan menantang profesi untuk berpikir kreatif dan berbeda tentang layanan mereka. Kapasitas masyarakat untuk mencurahkan sumber daya untuk meningkatkan ketersediaan dan cakupan dukungan social dan ekonomi akan menjadi factor yang menentukan. Bangunan terintegrasi sekolah dan pelayanan masyarakat model akan menjadi penting jika kita ingin mencapai kesuksesan.
Apa artinya ini bagi jasa pekerja social sekolah ? Dengan penekanan baru pada pengembangan sistem pelayanan pengiriman terpadu (atau sekolah-layanan penuh) yang melibatkan kerja sama antara sekolah dan lembaga masyarakat, tantangan akan mendefinisikan kembali sekolah pekerjaan social untuk memenuhi perubahan paradigm ini.
Tren terbaru dalam pekerjaan sosial sekolah telah merangkul teknologi sebagai alat untuk terus mengevaluasi intervensi kerja sosial di lingkungan sekolah (Pahwa, 2003; Redmond, 2003). Pahwa (2003) mencatat bahwa penggunaan teknologi dan pengumpulan data yang konsisten membantu untuk mendukung dampak positif yang pekerja sekolah telah dengan siswa yang belum didokumentasikan dinyatakan pada satu sekolah. Pekerja sosial lainnya telah mengembangkan panduan bagi pekerja sosial sekolah untuk bekerja dalam sistem yang ada untuk menciptakan dan menerapkan menerapkan baru sistem informasi baru dan database menggunakan School Social Work Information System (SSWIS) sebagai model (Redmond, 2003). Teknologi juga telah diperiksa sebagai komponen yang hilang dalam hubungan antara layanan sosial lainnya di sekolah-sekolah dan masyarakat dan pekerja sosial sekolah. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat bagaimana jaringan ini pelayanan sosial akan berdampak intervensi siswa di sekolah-sekolah.
Tabel 2.3 merangkum beberapa kekuatan kunci dalam masyarakat dan pendidikan yang telah membentuk jasa pekerja sosial di sekolah. Pekerja sosial sekolah harus sadar akan perubahan pendekatan untuk pendidikan dan kondisi-kondisi sosial yang pendidikan merespon. Dengan demikian, pekerja sosial sekolah dapat menjadi proaktif daripada reaktif dalam penentuan peran mereka.
