SYAKHRUDDIN.COM – Bila selama ini sudah akrab di telinga jemaah tentang “Jumat Berkah” maka kali ini, kami akan ulas tentang “Nasi Kuning Subuh Berkah”
Bila Jumat berkah berlangsung, setiap jemaah yang keluar dari masjid, disodori paket makanan dari penyumbang/donatur dengan label, mencari keberkahan dari pelaksanaan sholat Jumat yang mubaraq.
Tapi Minggu subuh, 15/8/21 datang penyumbang/donasi dengan membawa nasi kuning, untuk para jemaah Al Abrar yang datang sholat subuh.
Setiap yang mau pulang, dapat satu bungkus per orang.
Kami berempat yang masih diskusi di depan mimbar, masing-masing, H.Guntur Mas’ud, Mas Kismo dari Perikanan Darat, H.Haruna yang bertindak sebagai “Bilal’ dan penulis yang selalu mencatat setiap kejadian di masjid.
Setelah pembahasan tentang “Ikan Massapi” oleh Pak Kismo tuntas, dengan segala keunggulannya, kami berpisah untuk aktifitas masing-masing.
H.Guntur Mas’ud bersama tim gowesnya akan keliling kota, Mas Kismo bermaksud membenahi rumahnya dan H.Haruna akan mendatangi warganya bernama H.Koke, karena kondisinya sudah kritis.
Penulis lalu menuju ke Warkop Sejati 99 di Bundaran Pa’ Baeng- Baeng alias PBB.
Sambil membawa bungkusan nasi kuning dari masjid, Penulis lalu disuguhi kopi susu dan segelas air putih hangat.
Bismillah…sungguh begitu nikmat, air putih hangat pertama, melewati kerongkongan, mengisi perut yang kosong seusai sholat subuh.
Sejurus kemudian, minta piring kosong dan sendok, kemudian perlahan membuka bungkus nasi kuning pemberian remaja masjid yang dikoordinir Ilham.
Keduanya lalu diabadikan, satu nasi kuning gratis, dan secangkir kopi susu berbayar, asuhan H.Syahran, pensiunan Pabrik Semen Tonasa, berasal dari perjuangan di Surabaya tetapi isterinya dari Kota Daeng di Makassar.
Seusai menikmati nasi kuning, lalu menggapai gawai yang tergeletak di sisi kiri, sembari mengutak-atik, menyeruput kopi susu yang masih mengepulkan bayangan asapnya.
Karena perpaduan dua kondisi pada saat bersamaan, maka lahirlah ide tulisan “Kopi Naskung (Nasi Kuning) di PBB (Pa’Baeng-Baeng).
Sebelum semuanya di santap, maka untuk mnguatkan narasi tulisan, lalu dilakukan pemotretan di pagi hari, itulah tradisi sebahagian pemilik HP Android, sebelum menikmati makanannya, di publish duluan, agar dunia mengetahui kalau sang pemilik akun sedang bermedsos ria.
Kopi naskung memang nikmat, namun ada rasa yang kurang sempurna, karena Pak Guntur dan Pak Kisno tidak ikut serta.
Demikianlah hidup di perkotaan, kami harus berpacu dalam detak perjuangan kehidupan, di tengah suasana Pandemi Copid 19 dan morat maritnya perekomian di masyarakat.
Setelah menghabiskan sepiring naskung gratis, lalu melayangkan pandangan di ujung jalan, tempat dimana proses jual beli ayam kampung berlangsung, namanya Jalan Bhayangkara.
Para penjual, selain menawarkan ayamnya, ada pula yang melakukan ” Aduan ayam di pagi hari” bahkan mungkin terlibat taruhan, namun hal itu bukanlah rana penulis.
Fenomena yang kami tangkap, adalah menikmati minum kopi, menyongsong suasana pagi, seraya merangkai kata mengisi blog ; syakhruddin.com yang pembacanya rata-rata sampai 300 nitizen per hari.
Syakhruddin.com merupakan majalah harian pribadi, dibangun dengan landasan hobby, beberapa kali blog ini di banned, namun berkali pula dibenahi.
Sejak masih aktif di dunia birokrasi Indonesia, blog ini di buat oleh staf bernama Ahyan Arif, lalu beralih ke dunia kampus.
Bertemu dengan mahasiswa bernama Gaffar di Luwu Timur, ketika bermasalah di seputaran masjid, ada namanya Sariun, salah seorang tehnisi sebuah hotel terpandang di Makassar.
Akan tetapi, desain dan dandanan blog yang sekarang, dikerjakan oleh Atjong.
Atjong adalah anak kedua pasangan Ibu Nadiah dan Ir. Abd. Manaf. Dari tangannyalah blog ini dapat ditampilkan dengan mudah, karena templatenya ringan saat browsing
Gampang dioperasikan, enak dibaca dan merupakan sumber informasi yang akurat dan terpercaya, seperti gaya iklan saja adanya, hehehehe.
Baik kita kembali ke Naskung dan Kopi Susu, merupakan dua komponen yang saling melengkapi, sebagaimana slogan di Tagana, Pantang tugas tidak tuntas.
Setelah gelas kopi kosong, segera tinggalkan warkop, tugas lain kini sedang menanti, termasuk menyajikan karya tulis ini, dalam kesempatan pertama, salamaki