SYAKHRUDDINNEWS.COM – Evaluasi Hari Ini, Pembenahan untuk Kegiatan Mendatang
Pelaksanaan Festival Perempuan dan Anak Makassar 2026 yang dirangkaikan dengan Gerak Jalan Shelter Warga, menyongsong ulang tahun Kota Makassar Ke-419, telah memperlihatkan antusiasme yang patut diapresiasi.
Ratusan pengurus dan anggota dari 102 Shelter Warga se-Kota Makassar hadir sejak pagi di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard, Ahad, 8 November 2026.
Kegiatan yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar dalam rangka memeriahkan HUT ke-419 Kota Makassar ini mengusung semangat kampanye Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.
Ada pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut. Bukan hanya lewat spanduk dan papan kampanye, tetapi juga melalui pembagian bunga kepada pengguna jalan dan pengunjung Kawasan Car Fre Day Boulevard.
Sekuntum bunga menjadi simbol kepedulian, keramahan, sekaligus ajakan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Namun, di balik antusiasme dan keberhasilan menghimpun kekuatan 102 Shelter Warga, ada beberapa catatan kecil yang kiranya perlu menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan serupa pada masa mendatang.
Penempatan Personel dan Komunikasi Lapangan
Salah satu hal yang cukup terasa adalah penempatan personel per kecamatan yang terlalu berjauhan dari panggung utama. Kondisi ini menyebabkan informasi dan instruksi lapangan tidak tersampaikan secara merata kepada seluruh peserta.
Rencana gerak jalan yang menembus jalur pemasaran UMKM di sisi kanan kawasan Boulevard kurang menguntungkan, idealnya mengambil rute Jalan A.P. Pettarani Raya hingga berputar di depan Kantor Mahkamah Militer, sehingga kesannya lebih mentereng.
Perubahan rute tersebut tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Namun, dari sudut pandang efektivitas kampanye, rute yang lebih terbuka dan memungkinkan rombongan besar bergerak bersama akan memberikan daya jangkau visual yang lebih kuat.
Bayangkan apabila ratusan anggota Shelter Warga bergerak secara terkoordinasi menyusuri Jalan A.P. Pettarani Raya dan berputar di depan Kantor Mahkamah Militer.
Kehadiran mereka tentu akan lebih terlihat oleh masyarakat luas. Pesan Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak pun akan memperoleh ruang publikasi yang lebih besar.
Selain persoalan rute, komunikasi antarkecamatan juga menjadi perhatian.
Penempatan posko yang saling berjauhan tanpa dilengkapi perangkat komunikasi seperti handy talky (HT) mengakibatkan koordinasi antara rombongan terdepan dan posko pengendali tidak berjalan optimal.
Apalagi, sepanjang kawasan Boulevard terdapat beberapa kendaraan yang menggunakan perangkat soundsystem dengan volume cukup keras. Situasi tersebut membuat penyampaian instruksi secara lisan menjadi semakin sulit didengar.
Jangan Sampai Semangat Terpisah oleh Jarak: Dalam kegiatan yang melibatkan banyak kelompok masyarakat, penempatan personel sebaiknya mempertimbangkan kemudahan koordinasi.
Jangan sampai semangat kebersamaan yang telah dibangun sejak awal justru terpisah oleh jarak dan keterbatasan komunikasi.
Untuk kegiatan mendatang, ada baiknya setiap perwakilan kecamatan ditempatkan dalam kelompok yang lebih terkonsentrasi di sekitar panggung utama.
Apabila diperlukan pembagian pos, setiap pos harus dilengkapi petugas penghubung, penanggung jawab yang jelas, serta sarana komunikasi yang memadai.
Dengan demikian, perubahan rute, pergerakan rombongan, pembagian bunga, hingga penyampaian pesan kampanye dapat berlangsung dalam satu koordinasi yang terarah.
Sebab, tujuan utama kegiatan ini bukan semata-mata mengumpulkan peserta, melainkan memastikan bahwa pesan perlindungan perempuan dan anak benar-benar sampai kepada masyarakat.
Nurhana dan Kekuatan Komando Lapangan; Di tengah sejumlah catatan tersebut, ada satu hal yang patut disyukuri, yakni peran Nurhana sebagai pengendali lapangan.
Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam menggerakkan para ketua Shelter Warga. Instruksi dan arahannya ternyata memperoleh respons positif dari para pengurus yang berada di lapangan.
Bahkan, Ketua Shelter Warga Masale sempat memberikan penegasan yang menarik perhatian.
“Kami tidak mau bergerak kalau bukan perintah dari Ibu Hana.”
Pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan adanya hubungan emosional, kepercayaan, dan kedekatan antara pengendali lapangan dengan para ketua Shelter Warga.
Kepercayaan seperti ini merupakan modal sosial yang sangat berharga. Karena itu, potensi kepemimpinan Nurhana perlu terus dipelihara dan diperkuat, tentu dengan dukungan sistem koordinasi yang baik.
Namun, satu hal perlu diingat, keberhasilan komando lapangan tidak boleh hanya bergantung pada figur seseorang.
Perlu dibangun sistem satu komando yang memiliki pembagian tugas, jalur komunikasi, dan tanggung jawab yang jelas.
Mengapresiasi Gagasan, Membenahi Pelaksanaan;
Sebagaimana disampaikan Asisten I Sekretariat Daerah Kota Makassar, Irwan Bangsawan, dalam sambutannya, pembangunan Kota Makassar harus mengedepankan semangat unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Makassar, dr. Ita Anwar, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan seluruh Shelter Warga, 25 organisasi nonpemerintah, Forum Anak, Forum Anak Disabilitas, serta jajaran DP3A Kota Makassar.
Bahkan, partisipasi 25 NGO yang hadir atas inisiatif dan kepedulian bersama tanpa dukungan anggaran khusus dari DP3A menjadi gambaran bahwa gerakan perlindungan perempuan dan anak telah memperoleh dukungan masyarakat.
Penandatanganan komitmen bersama oleh 25 NGO juga merupakan langkah positif dalam memperkuat sinergi pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap teknis pelaksanaan kegiatan hendaknya tidak dimaknai sebagai kritik yang menjatuhkan, melainkan sebagai masukan konstruktif agar gagasan besar tersebut dapat diwujudkan melalui pelaksanaan yang semakin baik.
Catatan untuk Masa Mendatang; Dari pelaksanaan kegiatan Ahad pagi ini, setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:
Penempatan peserta per kecamatan hendaknya tidak terlalu jauh dari panggung utama.
Rute gerak jalan perlu ditetapkan sejak awal dan disosialisasikan kepada seluruh koordinator Shelter Warga.
Setiap posko harus memiliki petugas penghubung dan perangkat komunikasi yang memadai.
Perlu ada satu pusat komando lapangan yang mengendalikan seluruh pergerakan peserta.
Pembagian bunga, brosur, dan pesan kampanye harus dirancang agar menjangkau sebanyak mungkin masyarakat.
Evaluasi teknis perlu dilakukan bersama para koordinator kecamatan dan perwakilan Shelter Warga setelah kegiatan selesai.
Pada akhirnya, kegiatan Festival Perempuan dan Anak Makassar 2026 telah memperlihatkan bahwa kekuatan masyarakat dapat dihimpun melalui semangat kebersamaan.
Akan tetapi, jumlah peserta yang besar harus diimbangi dengan manajemen kegiatan yang baik. Semangat saja tidak cukup apabila tidak disertai komunikasi, koordinasi, dan pengendalian lapangan yang efektif.
Karena itu, catatan kecil ini bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menemukan apa yang perlu diperbaiki.
Boulevard telah menjadi saksi bahwa 102 Shelter Warga mampu hadir bersama. Kini tantangannya adalah bagaimana kehadiran tersebut tidak hanya menjadi keramaian sesaat, tetapi menjadi gerakan sosial yang terorganisasi, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh perempuan dan anak di Kota Makassar.