SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hari Senin biasanya menjadi awal masyarakat kembali menjalani aktivitas setelah menikmati libur akhir pekan.
Namun, Senin 24 Agustus 2026 terasa sedikit berbeda. Sebab, sehari setelahnya, Selasa 25 Agustus, masyarakat Indonesia akan menikmati libur nasional dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Karena Senin berada di antara libur akhir pekan dan libur nasional Selasa, hari ini lazim disebut hari terjepit.
Bagi yang mengambil cuti pada Senin, suasana libur dapat terasa lebih panjang. Namun bagi yang tetap bekerja, Senin tetap menjadi kesempatan untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, sebelum memasuki momentum Maulid Nabi.
Maulid Nabi bukan sekadar tanggal merah. Ia menjadi kesempatan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak beliau tentang kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran.
Peringatan Maulid di berbagai daerah biasanya diisi dengan pembacaan shalawat, pengajian, ceramah dan kegiatan sosial.
Tanggal 24 Agustus juga menyimpan sejumlah catatan penting dalam perjalanan bangsa.
Pada 24 Agustus 1951, peletakan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan sebagai salah satu simbol penting kehidupan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Kemudian pada 24 Agustus 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV di Jakarta. Momentum ini sekaligus menjadi tonggak sejarah pertelevisian nasional karena TVRI berdiri dan mengudara secara resmi, dengan menyiarkan pembukaan Asian Games dari Stadion Utama Senayan.
Sebelumnya, TVRI memang telah melakukan siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 dari Istana Negara.
Namun, 24 Agustus kemudian dikenang sebagai hari lahir TVRI dan diperingati pula sebagai Hari Televisi Nasional.
Maka, Senin 24 Agustus tahun ini bukan hanya tentang “hari terjepit”. Ia juga mengingatkan kita bahwa setiap tanggal memiliki cerita.
Ada sejarah bangsa, ada perkembangan teknologi komunikasi, dan ada pula kesempatan untuk menyambut hari besar Islam dengan hati yang lebih tenang.
Pantun Maulid Nabi Pergi ke pasar membeli kurma,
Singgah sebentar membeli delima.
Mari bershalawat kepada Nabi mulia,
Meneladani akhlaknya sepanjang masa.
Selamat menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti pada peringatan, tetapi hadir dalam akhlak dan perilaku kita sehari-hari.
Seputar MUI Sulsel ; Musyawarah bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi juga menitipkan amanah untuk menjaga marwah umat.
Itulah yang kembali diterima Prof. KH. Najamuddin, Lc., M.A., setelah dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan untuk masa khidmat 2026–2031.
Dalam kepengurusan lima tahun ke depan, ia didampingi Prof. Dr. H. Marjuni, M.Pd.I. sebagai Sekretaris Umum.
Amanah tersebut ditetapkan melalui Musyawarah Daerah IX MUI Sulsel yang berlangsung di Four Points by Sheraton Makassar, 22–23 Agustus 2026, dengan melibatkan unsur MUI kabupaten/kota, organisasi Islam, perguruan tinggi, pesantren dan berbagai elemen terkait.
Bagi Prof. Najamuddin, periode kedua ini tentu bukan sekadar kelanjutan jabatan, tetapi kesempatan memperkuat peran ulama di tengah perubahan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat.
Dengan tema “Meneguhkan Peran Ulama dalam Merekatkan Ukhuwah dan Mengawal Transformasi Umat Menuju Sulawesi Selatan yang Berkeadaban,”
MUI Sulsel diharapkan semakin solid membangun sinergi antara ulama dan umara, organisasi Islam, akademisi, pesantren serta masyarakat.
Sebab, ketika umat membutuhkan arah, ulama bukan hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga hadir memberi keteladanan, menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, serta ikut menjawab berbagai persoalan keumatan dengan bijaksana.
Sementara itu, Dedi Mulyadi kembali mendengar suara warga dari dekat. Di tengah kunjungannya, seorang warga menyampaikan keluhan dengan nada penuh harap, “Rumah saya hancur, Pak.”
Kalimat singkat itu menggambarkan beratnya kondisi yang mereka hadapi, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap persoalan, ada keluarga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
Bagi Dedi Mulyadi, mendengar langsung curhat warga bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia hadir untuk melihat keadaan dengan mata sendiri, menyerap keluhan, dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Manggarai pun menjadi saksi, bahwa ketika pemimpin mau turun dan mendengar, suara sederhana dari rumah yang hancur dapat berubah menjadi perhatian dan harapan baru bagi warganya.
Kabar duka datang dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon budaya masyarakat Suku Sasak, dilanda kebakaran hebat pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 22.00 WITA.
Api dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, hingga ratusan rumah adat dilaporkan terdampak dan hangus terbakar.
Sade bukan sekadar deretan rumah tradisional. Di sana tersimpan sejarah, adat, kearifan lokal, serta kehidupan masyarakat Sasak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rumah-rumahnya menggunakan kayu, bambu, dinding anyaman dan atap ilalang—material yang menjadi bagian dari tradisi, namun juga membuat api begitu cepat membesar.
Yang membuat hati terasa pilu, kawasan yang selama ini menjadi tujuan wisata dan kebanggaan budaya itu kini menyisakan puing dan abu.
Warga berhamburan menyelamatkan diri dan barang-barang berharga, sementara petugas pemadam bersama masyarakat berjibaku menjinakkan kobaran api. Kabar sementara menyebutkan tidak ada korban jiwa.
Sementara itu, Pemerintahan Kabupaten Gowa kembali menjadi perhatian. Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menonaktifkan 16 pejabat, termasuk Sekretaris Daerah.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menata kembali roda pemerintahan agar berjalan lebih tertib, efektif, dan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
Bagi Moka, pergantian atau penonaktifan pejabat bukan sekadar soal siapa yang menduduki sebuah jabatan.
Di baliknya ada harapan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, administrasi pemerintahan tidak terganggu, dan setiap kebijakan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, pemerintahan yang baik bukan hanya membutuhkan pejabat yang memiliki jabatan, tetapi juga kepastian aturan, disiplin kerja, dan komitmen melayani masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap langkah penataan tersebut membawa suasana pemerintahan yang lebih tertib dan kondusif.
Jabatan boleh berganti, pejabat boleh datang dan pergi, tetapi pelayanan publik harus tetap berjalan.
Karena bagi masyarakat, yang paling penting bukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan apakah pemerintah benar-benar hadir memberikan pelayanan terbaik.
Polda Jabar Bongkar Sindikat Penipuan Jual Beli Kendaraan Bermodus TNI; Dunia maya kembali menjadi ladang kejahatan. Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Barat membongkar sindikat penipuan jual beli kendaraan secara online yang beroperasi dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.
Sebanyak 12 orang ditetapkan sebagai tersangka, dengan modus menyamar sebagai anggota TNI untuk meyakinkan calon korban. Aksi mereka dimulai dengan menawarkan mobil berharga murah melalui Facebook.
Setelah korban tertarik, pelaku berkomunikasi melalui WhatsApp dan meminta uang muka dengan alasan biaya pengiriman melalui jasa kargo.
Untuk memperkuat tipu muslihat, pelaku mengenakan atribut TNI, menggunakan KTA palsu dan bahkan senjata api mainan.Korban yang sudah percaya kemudian mentransfer uang, tetapi kendaraan yang dijanjikan tidak pernah datang dan pelaku menghilang.
Dua korban dalam kasus ini dilaporkan mengalami kerugian hampir Rp40 juta. Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur kendaraan dengan harga jauh di bawah pasaran.
Identitas, atribut, maupun pengakuan sebagai anggota institusi tertentu bukan jaminan sebuah transaksi benar. Di dunia maya, harga murah boleh menarik perhatian, tetapi kewaspadaan harus tetap menjadi pegangan.
Pembaca setia Moka (Mozaik Kehidupan) ; Sampai di sini jumpa kita hari ini. Insyaallah, besok Moka akan kembali hadir menyapa Anda, dalam nuansa yang penuh makna, memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Terima kasih atas perhatian, waktu, dan kesetiaan Anda mengikuti Moka setiap harinya. Semoga setiap kisah yang kami hadirkan menjadi informasi, renungan, sekaligus pengingat bagi kita semua.
Pantun Moka: Selasa esok kita Maulid, Mengenang Rasul junjungan umat. Semoga cinta terus terukir, Menjadi teladan sepanjang hayat.
Sampai jumpa besok, dalam Moka yang tetap ringan, sederhana, dan penuh makna.