SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ada perjalanan yang tidak dapat diukur hanya dengan hitungan tahun. Sebab di dalamnya tersimpan air mata yang pernah jatuh, doa yang pernah dilangitkan, pengorbanan yang tidak pernah dihitung, serta kesetiaan yang tetap bertahan meski waktu terus berjalan.
Rabu, 15 Juli 2026, menjadi hari yang penuh makna dalam lembaran kehidupan penulis. Tepat 48 tahun yang lalu, di sebuah rumah sederhana di Jalan Macan Nomor 27 Makassar, dua insan mengikrarkan sebuah janji suci untuk berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Hari itu, Hj. Nurlia Dg. Puji dan H. Syakhruddin Dg. Lurang memulai sebuah perjalanan panjang. Tidak ada kemewahan yang menjadi bekal, tidak ada janji bahwa kehidupan akan selalu mudah. Yang ada hanyalah keyakinan, doa orang tua, dan tekad untuk saling menggenggam tangan menghadapi hari-hari yang belum diketahui ujungnya.
Empat puluh delapan tahun kemudian, perjalanan itu menjelma menjadi sebuah buku kehidupan. Setiap halamannya menyimpan cerita. Ada halaman tentang kebahagiaan, ada pula halaman tentang perjuangan. Ada tawa yang menghangatkan rumah, ada air mata yang menguatkan jiwa.
Dari rumah kecil di Jalan Macan Makassar, bahtera kehidupan membawa keluarga kecil ini menempuh perjalanan jauh ke tanah rantau. Lima tahun menetap di Kabupaten Paser, Tanah Grogot, Kalimantan Timur, menjadi bagian penting dari kisah perjuangan.
Kala itu, malam-malam perantauan terasa panjang. Jauh dari keluarga besar dan hiruk-pikuk kota, hanya suara jangkrik dan layar televisi hitam putih yang menjadi teman. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tumbuh kekuatan cinta, karena keduanya belajar bahwa kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada hadirnya seseorang yang tetap menemani.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kabupaten Takalar, Butta Panrannuangku, selama lima tahun. Hingga akhirnya memasuki babak panjang pengabdian di Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial.
Di tengah perjalanan pengabdian itu, Allah SWT menitipkan amanah terbesar: tiga orang anak yang menjadi cahaya keluarga. Waktu berlalu, anak-anak tumbuh dewasa, menapaki kehidupan masing-masing, hingga menghadirkan empat orang cucu yang kini menjadi pelangi kebahagiaan.
Suara tawa cucu-cucu menjadi pengingat bahwa cinta yang dirawat selama puluhan tahun tidak pernah berhenti pada dua insan, tetapi mengalir menjadi warisan kasih sayang bagi generasi berikutnya.
Tanggal 5 Januari 2013 menjadi lembaran baru ketika penulis memasuki masa purnabakti dari dunia kedinasan. Namun sejatinya, pengabdian tidak pernah mengenal kata berhenti.
Langkah kemudian beralih ke dunia pendidikan. Melalui kiprah sebagai dosen luar biasa pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar Program Studi Kesejahteraan Sosial, Penulis terus berbagi ilmu dan pengalaman, sekaligus mengembangkan semangat Taruna Siaga Bencana (Tagana) di Kampus Bermartabat.
Kini, ketika usia pernikahan telah mencapai 48 tahun, perjalanan itu terasa seperti sebuah sungai kehidupan. Kadang mengalir tenang, kadang menghadapi bebatuan dan arus yang deras, tetapi selalu menemukan jalan menuju muara karena dijalani bersama.
Dan kepada engkau, istriku tercinta, Hj. Nurlia Dg. Puji…
Tidak cukup kata untuk menggambarkan rasa terima kasih atas kesabaran, ketulusan, dan kesetiaan yang telah engkau berikan selama hampir setengah abad.
Engkau bukan sekadar pendamping hidup. Engkau adalah sahabat perjalanan, tempat berbagi cerita, tempat menguatkan ketika langkah terasa berat, dan tempat kembali ketika dunia terasa melelahkan.
Kini ketika ujian kesehatan datang dan engkau harus menjalani cuci darah secara rutin di RS Siloam, semangatmu tidak pernah padam. Bahkan ketika tubuh harus bersahabat dengan kursi roda, perjalanan itu tetap kita jalani bersama.
Saat aku mendorong kursi rodamu dari belakang, terkadang hati ini teringat masa muda dahulu. Seperti ketika kita berdua menaiki vespa mini, engkau memeluk erat pinggangku, dan perjalanan sederhana terasa begitu dekat serta penuh kebahagiaan.
Ternyata waktu memang mengubah banyak hal. Rambut telah memutih, langkah tidak lagi sekuat dahulu, tetapi satu hal yang tidak berubah: rasa cinta dan kesetiaan yang masih tumbuh di hati kita.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan kepada kita berdua. Semoga masih diberikan kesempatan menikmati indahnya relung-relung kehidupan bersama anak-anak, cucu-cucu, dan keluarga tercinta.
Karena sesungguhnya, perjalanan terindah bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi tentang siapa yang tetap menggenggam tangan kita hingga sampai di penghujung jalan.
Pantun Penutup Ke Tanah Gerogot naik perahu,
Berlayar pagi membawa harapan.
Empat puluh delapan tahun bersamamu,
Engkau cahaya dalam perjalanan kehidupan.
Makassar, 15 Juli 2026
by. Syakhruddin Dg Lurang
Kupersembahkan untuk Anak dan cucu-cucu