SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad pagi kembali menyapa Kota Makassar. Di kawasan Monumen Mandala hingga sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, lautan manusia bergerak dalam irama yang sama. Ada yang berlari kecil mengejar kesehatan, ada yang berjalan santai menggandeng tangan pasangan, ada pula yang sibuk memilih aneka kuliner yang menggoda selera.
Ahad Ceria telah menjadi ruang kebahagiaan bagi warga. Setelah enam hari bergelut dengan pekerjaan, kemacetan, tekanan hidup, dan berbagai persoalan yang tak selalu mudah diselesaikan, di sinilah mereka menemukan jeda. Sejenak melupakan beban, sejenak memberi kesempatan kepada hati untuk bernapas lebih lega.
Namun di tengah riuhnya tawa dan ramainya keramaian, ada pelajaran kehidupan yang sering luput dari perhatian. Di sudut-sudut jalan, tampak para lanjut usia berjalan perlahan dengan langkah yang tak lagi sekuat dulu.
Ada pula saudara-saudara kita yang duduk di kursi roda, menikmati suasana dengan senyum yang tulus. Mereka hadir bukan untuk mengeluhkan keadaan, melainkan untuk mensyukuri kehidupan yang masih diberikan Tuhan.
Kadang kita yang dikaruniai tubuh sehat justru lebih banyak mengeluh. Sementara mereka yang harus berjuang dengan keterbatasan mampu tersenyum, bercengkerama, dan menikmati pagi dengan penuh rasa syukur.
Dari merekalah kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kemampuan menerima hidup apa adanya.
CFD Sudirman bukan sekadar arena olahraga dan kuliner. Ia adalah panggung kehidupan yang mempertemukan berbagai usia, profesi, dan keadaan. Di sana kita melihat anak-anak berlarian riang, para sahabat yang saling menyapa, keluarga yang berkumpul, hingga mereka yang sedang menjalani senja kehidupan dengan penuh ketabahan.
Ahad Ceria mengingatkan kita bahwa waktu berjalan tanpa pernah menunggu. Anak-anak yang hari ini berlari suatu saat akan menua.
Tubuh yang kini kuat akan perlahan melemah. Jabatan, kekayaan, dan popularitas pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah kebaikan yang pernah kita tebarkan dan kenangan indah yang kita tinggalkan di hati sesama.
Maka ketika Ahad pagi berakhir dan keramaian perlahan bubar, semoga kita tidak hanya membawa pulang tubuh yang lebih sehat, tetapi juga hati yang lebih lembut. Karena sesungguhnya hidup bukan sekadar tentang berapa lama kita berjalan, melainkan tentang seberapa banyak cinta, syukur, dan manfaat yang kita berikan selama perjalanan itu.
Dan suatu hari nanti, ketika langkah kita tak lagi tegap dan rambut telah memutih dimakan usia, semoga masih ada senyum yang tersisa di wajah kita. Senyum karena pernah menjalani hidup dengan penuh makna, serta tidak lupa bersyukur atas setiap detik yang telah Allah titipkan kepada kita (by.syakhruddin)