SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad pagi kembali datang dengan wajah yang teduh. Setelah hari-hari panjang dipenuhi riuh pekerjaan dan perjalanan hidup yang melelahkan, waktu seakan berhenti sejenak di tepian pagi. Matahari perlahan terbit dari ufuk timur, menebarkan cahaya lembut yang menyentuh atap-atap rumah, jalanan yang mulai lengang, hingga hati manusia yang diam-diam sedang mencari ketenangan. Ahad bukan sekadar hari libur, melainkan ruang kecil tempat jiwa diberi kesempatan untuk bernapas lebih panjang.
Di pagi seperti ini, dunia terasa bergerak lebih lambat. Aroma kopi dari dapur rumah-rumah sederhana berpadu dengan suara anak-anak yang bermain di halaman, sementara sebagian orang memilih duduk diam mengenang perjalanan hidup selama sepekan. Ada yang mensyukuri rezeki, ada yang masih menyimpan luka, dan ada pula yang mulai menata harapan baru sebelum esok kembali datang membawa kesibukan. Begitulah hidup berjalan di antara tawa dan air mata, kehilangan dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.
Tanggal 17 Mei menyimpan banyak jejak dalam perjalanan dunia dan bangsa. Di sejumlah negara, hari ini dikenang sebagai momentum Hari Buku Nasional, sebuah pengingat bahwa peradaban besar selalu lahir dari lembar-lembar bacaan. Buku bukan hanya jendela ilmu, tetapi juga saksi perjalanan manusia melawan kebodohan dan lupa.
Dari buku, sejarah diwariskan, pemikiran dipanjangkan umur, dan masa depan dipersiapkan. Di tengah zaman yang bergerak cepat oleh teknologi, membaca tetap menjadi cahaya yang menjaga akal manusia agar tidak kehilangan arah.
Ahad pagi juga mengajarkan bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk paling sederhana. Bukan tentang kemewahan, melainkan tentang kesempatan berkumpul bersama keluarga, menikmati sarapan tanpa tergesa, atau memandang langit pagi tanpa beban pikiran yang terlalu berat. Sebab hidup pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa jauh kita berlari, melainkan apakah kita sempat menikmati perjalanan itu sendiri.
Maka pagi Ahad ini, sebelum hari perlahan bergerak menuju senja, izinkan diri menikmati waktu dengan lebih bermakna. Menyapa orang tua, memeluk anak-anak, menenangkan hati, dan mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan membuka mata di hari yang baru. Karena hidup sejatinya adalah kumpulan mozaik kecil yang disusun oleh rasa syukur, kesabaran, dan harapan yang terus dijaga.
Pantun Pembuka
Pagi Ahad mentari berseri,
Burung berkicau di ranting jati.
Selamat datang wahai pembaca setia kami,
Mozaik Kehidupan kembali menemani hati.
Di Jakarta dan sejumlah kota besar lain di Indonesia, literasi kini kerap tampil dengan wajah baru yang berkilau—menjadi bagian dari gaya hidup modern yang dipamerkan di sudut-sudut artistik, di antara rak buku estetik, cahaya temaram, dan aroma kopi dari cangkir-cangkir mahal. Membaca perlahan menjelma simbol kelas sosial baru, dirayakan di ruang nyaman berpendingin udara yang menghadirkan kesan intelektual sekaligus prestise.
Namun ketika pandangan diarahkan jauh ke timur negeri, wajah literasi berubah menjadi kisah perjuangan sunyi yang jauh dari gemerlap. Di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Lombok, semangat membaca tumbuh bukan dari ruang mewah atau perpustakaan modern, melainkan dari tekad sederhana yang bertahan di tengah keterbatasan.
Berjarak sekitar 1.350 kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta Selatan, para pegiat literasi di NTB masih harus berjalan melawan kenyataan pahit angka buta aksara yang mencapai 12,58 persen. Provinsi yang masih berada di papan bawah Indeks Pembangunan Manusia itu menghadapi ironi besar dalam dunia pendidikan dan pengetahuan. Namun di balik segala keterbatasan tersebut, lahir secercah harapan yang mengejutkan.
Data terbaru Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2025 menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat NTB melonjak hingga 61,19 poin dan menempatkan daerah itu di posisi kedua nasional. Sebuah anomali yang memperlihatkan bahwa di tanah yang serba terbatas, hasrat membaca justru tumbuh lebih kuat seolah menjadi perlawanan diam terhadap nasib dan ketertinggalan.
Di tanah Makassar yang dibasuh angin laut dan jejak pelayaran besar Nusantara, nama Daeng Pamatte dikenang sebagai sosok penting dalam perjalanan peradaban aksara di Sulawesi Selatan. Ia disebut-sebut sebagai tokoh yang berjasa merumuskan dan memperkenalkan aksara Lontarak Makassar, warisan budaya yang menjadi penanda kecerdasan masyarakat pesisir pada zamannya.
Melalui goresan aksara itu, sejarah kerajaan, hukum adat, silsilah keluarga, hingga petuah kehidupan diwariskan lintas generasi. Di tangan Daeng Pamatte, huruf bukan sekadar tanda baca, melainkan jembatan peradaban yang menjaga ingatan kolektif orang Makassar agar tidak hilang ditelan zaman.
Dalam berbagai kisah tutur masyarakat Sulawesi Selatan, Daeng Pamatte digambarkan sebagai cendekiawan kerajaan yang memahami pentingnya pengetahuan dan pencatatan sejarah. Lontarak kemudian berkembang menjadi identitas intelektual masyarakat Bugis-Makassar, digunakan dalam naskah kerajaan, perjanjian, hingga karya sastra klasik.
Dari lembar-lembar lontar itulah lahir jejak panjang kebudayaan yang kini masih dipelajari di sekolah, kampus, hingga ruang-ruang penelitian sejarah. Nama Daeng Pamatte akhirnya tidak hanya hidup sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga menjadi simbol bahwa literasi pernah tumbuh megah di timur Nusantara jauh sebelum dunia modern mengenal mesin cetak dan teknologi digital.
Di tubuh institusi yang semestinya berdiri tegak di atas disiplin dan kehormatan, bayang-bayang lama rupanya belum benar-benar pergi. Promosi jabatan di lingkungan kepolisian masih dibayangi budaya patronase, kedekatan personal, hingga dugaan praktik suap yang mengakar diam-diam dalam ruang kekuasaan.
Temuan Komisi Percepatan Reformasi Polri membuka kembali tabir persoalan yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik di lorong markas dan meja para perwira. Jabatan yang seharusnya lahir dari integritas dan prestasi, dalam sejumlah kasus justru dipersepsikan sebagai hasil transaksi pengaruh dan jaringan kedekatan.
Situasi ini menjadi ironi di tengah tuntutan publik agar institusi kepolisian terus berbenah dan memulihkan kepercayaan masyarakat. Reformasi Polri yang digaungkan sejak era reformasi rupanya belum sepenuhnya menyentuh akar budaya kekuasaan di internal organisasi.
Ketika promosi jabatan dianggap lebih ditentukan oleh “siapa di belakangnya” ketimbang kualitas pengabdian, maka profesionalisme perlahan terkikis. Publik pun kembali bertanya: sampai kapan wajah penegakan hukum dibayangi praktik-praktik lama yang merusak marwah institusi dan mencederai rasa keadilan?
Di tengah hiruk-pikuk akhir pekan dan suasana kota yang biasanya sibuk oleh lalu lalang pembeli, ratusan buruh ritel di Sulawesi Selatan justru memilih menghentikan aktivitas kerja mereka. Sekitar 200 pekerja jaringan ritel Indomaret dilaporkan melakukan aksi serentak dengan menutup sejumlah gerai sebagai bentuk protes terhadap kebijakan perusahaan yang dinilai memberatkan pekerja.
Mereka menolak praktik kerja pada hari libur nasional tanpa pembayaran upah lembur sebagaimana diatur dalam ketentuan ketenagakerjaan. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat dan menyita perhatian masyarakat karena dilakukan serentak di beberapa titik.
Para pekerja menyebut hari libur nasional semestinya menjadi hak pekerja untuk beristirahat, atau jika tetap bekerja wajib disertai kompensasi lembur yang layak. Melalui aksi damai itu, para buruh berharap perusahaan membuka ruang dialog dan mengevaluasi kebijakan yang dianggap merugikan karyawan.
Perjuangan tersebut, bagi mereka, bukan semata tentang upah, melainkan tentang penghormatan terhadap martabat dan hak-hak pekerja di tengah tuntutan industri ritel yang semakin tinggi.
Di tengah suasana yang hangat dan bersahaja, Musyawarah Guru Mata Pelajaran PAI SMP Kabupaten Takalar menggelar Workshop Pendidikan bertajuk “Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta”, sebuah ikhtiar menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kelembutan hati.
Kegiatan yang dipimpin Ketua MGMP PAI SMP Kabupaten Takalar, Abdul Haris, menghadirkan guru-guru Pendidikan Agama Islam tingkat SMP se-Kabupaten Takalar sebagai peserta utama. Workshop ini menjadi ruang refleksi bahwa sekolah bukan sekadar tempat menyampaikan materi pelajaran, melainkan taman tempat nilai kasih sayang, toleransi, dan empati ditanamkan kepada generasi muda.
Acara dibuka Kepala PAIS Kementerian Agama Kabupaten Takalar, Dra. Hj. Kartini, yang hadir bersama jajaran staf PAIS. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam harus tetap menjadi garda terdepan dalam menebarkan kebaikan di lingkungan sekolah.
Menurutnya, pendidikan berbasis cinta bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan zaman di tengah tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks. “Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penuntun hati,” demikian pesan yang mengalir dalam suasana penuh kekeluargaan itu.
Ia berharap setelah mengikuti workshop, para guru mampu mengimplementasikan nilai kasih sayang, toleransi, dan empati dalam proses pembelajaran sehari-hari, sehingga peserta didik tumbuh sebagai generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Langit pagi Ahad, 17 Mei 2026, masih menyisakan gerimis yang membasahi halaman Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar di Kampus Samata-Gowa. Namun udara dingin tak mampu meredupkan semangat mahasiswa Semester VI Prodi Kesejahteraan Sosial yang mengikuti kegiatan Pemantapan TAGANA Kompi FDK UIN Alauddin.
Di tengah tanah yang lembap dan udara yang basah oleh hujan pagi, para peserta tetap berdiri tegap mengikuti setiap arahan latihan dengan penuh antusias. Kegiatan pemantapan dipimpin Komandan TAGANA H. Syakhruddin DN bersama instruktur dari TAGANA Gowa, Hasran Rate dan Mustari.
Kehadiran para instruktur lapangan menghadirkan suasana pelatihan yang hidup dan penuh semangat. Berbagai keterampilan dasar kebencanaan diberikan kepada peserta, mulai dari latihan peraturan baris-berbaris, teknik evakuasi korban secara perorangan dan berpasangan, hingga pola penyelamatan dalam formasi kelompok.
Seluruh materi dirancang untuk membangun kesiapsiagaan mahasiswa menghadapi situasi darurat di tengah masyarakat. Agar suasana latihan tetap hangat dan tidak monoton, kegiatan juga diselingi permainan edukatif berbasis kelompok.
Peserta dibagi ke dalam kelas A, B, dan C untuk membangun semangat kompetisi yang sehat sekaligus mempererat kekompakan antarmahasiswa. Gelak tawa dan sorak semangat sesekali memecah suasana latihan, menjadi penanda bahwa pendidikan kebencanaan tidak hanya dibangun melalui disiplin, tetapi juga melalui kebersamaan dan solidaritas sosial.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki bekal keterampilan praktis serta pemahaman dasar tentang penanganan bencana berbasis TAGANA, sehingga kelak mampu hadir menjadi bagian dari kekuatan sosial masyarakat saat bencana datang tanpa aba-aba.
Sabtu pagi itu, suasana di DAFI School Makassar atau SIT Darul Fikri Makassar di Jalan Meranti Raya, Kecamatan Panakkukang, tampak semarak dan penuh antusiasme. Aula dan halaman sekolah dipenuhi para orang tua bersama calon peserta didik yang datang mengikuti kegiatan Open House, sebuah agenda pengenalan lingkungan belajar sekaligus ajang silaturahmi keluarga besar sekolah Islam terpadu tersebut.
Dalam kegiatan itu, panitia menyiapkan lima door prize dengan total nilai mencapai Rp18.500.000 yang semakin menambah semangat peserta yang hadir sejak pagi hari. Di antara calon siswa yang ikut mendaftar, hadir pula dua orang cucu yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut, yakni Alesha Shanum Fitransyah bersama adiknya yang akrab disapa “Queen”.
Tak disangka, keberuntungan pagi itu rupanya berpihak kepada keluarga kecil tersebut. Dari lima nama pemenang yang diumumkan panitia, nama “Queen” disebut sebagai salah satu penerima door prize. Momen itu pun disambut haru dan sukacita oleh keluarga yang hadir.
Sang adik yang baru akan memasuki jenjang TK sebelumnya dikenakan biaya sekitar Rp6 juta per tahun, sementara kakaknya, Alesha Shanum Fitransyah, yang akan pindah dan melanjutkan pendidikan di SIT Darul Fikri Makassar semula harus membayar biaya pendidikan sebesar Rp21 juta.
Namun berkat program promosi Open House yang memberikan potongan khusus bagi pendaftar pada hari kegiatan, biaya pendidikan tersebut berubah menjadi Rp18.500.000—nilai yang setara dengan hadiah door prize yang diperoleh. Dengan demikian, Alesha Shanum Fitransyah dapat dikatakan memperoleh kesempatan bebas pembayaran selama setahun.
Suasana bahagia pun menutup pagi itu, menghadirkan keyakinan baru bagi para orang tua bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang belajar, tetapi juga tentang harapan dan masa depan yang dipersiapkan dengan penuh cinta.
Sampai di sini dahulu jumpa kita hari ini. Malam perlahan menutup lembarannya, sementara fajar Senin, 18 Mei 2026, telah bersiap mengetuk jendela kehidupan. Hari baru akan datang bersama denyut perjuangan, langkah-langkah yang kembali dipenuhi kesibukan, harapan, dan ikhtiar menjemput masa depan. Sebab hidup tak pernah benar-benar berhenti; ia terus bergerak bersama waktu, mengajarkan manusia untuk tetap tegar menapaki hari-hari yang silih berganti.
Selamat menyongsong Fajar Senin, hari ketika semangat kembali dirapikan, cita-cita kembali ditegakkan, dan kerja keras kembali dimulai dengan doa-doa terbaik. Semoga langkah kita esok dipenuhi keberkahan, kesehatan, serta hati yang lapang dalam menghadapi segala dinamika kehidupan.
Pantun Penutup
Hari Senin hari perjuangan,
Mentari pagi menyapa berseri.
Langkahkan kaki penuh harapan,
Semoga hidup makin berarti.
Penulis Naskah : Syakhruddin Tagana



