SYAKHRUDDINNEWS.COM — Kamis kembali datang seperti sahabat lama yang mengetuk pelan pintu kesadaran. Matahari naik perlahan dari ufuk timur, menumpahkan cahaya ke atap-atap rumah, ke jalan yang mulai sibuk, hingga ke wajah para pencari nafkah yang menggantungkan harapan pada hari ini.
Di sudut pasar, suara tawar-menawar kembali terdengar. Di masjid, gereja, vihara, dan pura, doa-doa naik bersama embusan pagi. Kehidupan bergerak sebagaimana mestinya kadang cepat, kadang melelahkan, namun selalu menyisakan ruang bagi harapan.
Hari ini, sebagian umat Kristiani memperingati Kenaikan Isa Almasih. Sebuah momentum spiritual yang bukan hanya dipahami sebagai peristiwa langit dalam keyakinan keagamaan, melainkan juga pengingat tentang kemuliaan akhlak, pengorbanan, dan harapan yang diwariskan bagi manusia.
Di tengah dunia yang sering gaduh oleh pertengkaran politik, kerasnya media sosial, dan pertarungan kepentingan, peringatan ini mengajak manusia menengadah sejenak , bukan untuk lari dari bumi, tetapi agar hati tetap memiliki arah
Kita hidup di zaman ketika manusia begitu mudah kehilangan kelembutan. Orang cepat marah, ringan menghakimi, dan terlalu mudah melukai sesama hanya karena perbedaan pilihan, keyakinan, atau pandangan hidup. Padahal sejarah para nabi dan orang-orang saleh selalu mengajarkan hal yang sama: cinta kasih jauh lebih kuat daripada kebencian.
Bahwa memaafkan lebih mulia dibanding membalas dendam. Dan manusia sejatinya tidak diukur dari seberapa keras suaranya, melainkan dari seberapa luas manfaatnya bagi kehidupan orang lain. Mozaik Kehidupan pagi ini ingin mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital yang sering membuat hati menjadi bising.
Ada orang tua yang diam-diam menunggu telepon dari anaknya. Ada tetangga yang membutuhkan sapaan sederhana. Ada sahabat yang tampak tertawa, tetapi sesungguhnya sedang memikul luka. Dunia hari ini terlalu ramai oleh pencitraan, namun terlalu sunyi oleh kepedulian.
Kenaikan Isa Almasih juga mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang mengejar materi dan kemenangan duniawi. Ada nilai-nilai luhur yang harus dijaga agar manusia tidak kehilangan jati dirinya. Kejujuran, kasih sayang, kesederhanaan, dan keberanian membela kebenaran adalah cahaya yang membuat peradaban tetap bertahan. Sebab sehebat apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan hati yang bersih agar dunia tidak jatuh ke dalam kegelapan.
Di negeri yang besar ini, keberagaman adalah kenyataan yang tidak bisa dihapuskan. Indonesia berdiri bukan karena semua orang sama, melainkan karena perbedaan mampu duduk bersama dalam semangat persaudaraan. Maka setiap peringatan keagamaan sejatinya bukan sekadar milik satu kelompok, tetapi menjadi pengingat bersama bahwa bangsa ini dibangun di atas fondasi saling menghormati. Dari situlah kedamaian tumbuh.
Kamis pagi terus berjalan. Burung-burung melintas di langit yang mulai terang. Anak-anak bersiap menuju sekolah. Sebagian orang memulai perjalanan panjang mencari rezeki. Dan di sela semua rutinitas itu, hidup diam-diam sedang mengajarkan bahwa waktu terlalu berharga untuk diisi kebencian.
Mozaik Kehidupan percaya, dunia mungkin tidak selalu ramah, tetapi manusia tetap bisa memilih menjadi baik. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa kaya seseorang, melainkan seberapa banyak ia menghadirkan keteduhan bagi kehidupan orang lain.
Pantun Pembuka
Dari Benteng layar berlabuh,
Angin pagi membawa berita.
Hidup kadang riuh dan gaduh,
Namun kasih tetap cahaya kita.
IKN: Antara Mimpi Besar dan Persimpangan Sejarah;
Di hamparan tanah Kalimantan yang dulu digadang-gadang menjadi pusat harapan baru bangsa, kabar tentang tertundanya — bahkan disebut-sebut “batalnya” — pembangunan Ibu Kota Nusantara menghadirkan gelombang perbincangan di ruang publik.
IKN yang pernah diproyeksikan sebagai simbol pemerataan pembangunan dan wajah masa depan Indonesia, kini berhadapan dengan kenyataan yang tak semudah membalik telapak tangan. Pergantian prioritas anggaran, dinamika politik, hingga tekanan ekonomi global membuat langkah megaproyek itu berjalan tersendat.
Di tengah hiruk-pikuknya, rakyat mulai bertanya lirih: apakah mimpi besar itu benar-benar akan diteruskan, atau perlahan hanya tinggal jejak di lembar pidato dan baliho pembangunan?
Namun sejarah selalu mengajarkan bahwa sebuah gagasan besar tidak pernah benar-benar mati hanya karena tertunda. Pemindahan ibu kota dari Jakarta menuju Kalimantan lahir dari keresahan panjang tentang kepadatan, banjir, ketimpangan pembangunan, dan beban berat Pulau Jawa. Jika hari ini langkah itu melambat, maka yang sedang diuji sesungguhnya bukan sekadar proyek fisiknya, tetapi konsistensi visi kebangsaan.
Bagi sebagian masyarakat, kabar tentang “batalnya IKN” menghadirkan rasa kecewa, terutama bagi mereka yang telah menggantungkan harapan ekonomi di sekitar kawasan pembangunan. Warung-warung kecil, pekerja konstruksi, hingga pelaku usaha lokal sempat merasakan denyut kehidupan baru sejak proyek itu dimulai. Tetapi di sisi lain, muncul pula suara-suara yang meminta negara lebih fokus pada kebutuhan mendesak rakyat: pendidikan, lapangan kerja, harga pangan, hingga kesejahteraan desa-desa yang masih tertinggal.
Pada akhirnya, waktu akan menentukan apakah Ibu Kota Nusantara hanya menjadi mimpi besar yang tertahan di persimpangan sejarah, atau justru bangkit kembali ketika keadaan memungkinkan. Sebab Indonesia tidak dibangun oleh beton semata, melainkan oleh harapan, kesabaran, dan keyakinan bahwa masa depan selalu layak diperjuangkan.
Rupiah Meredup, Rakyat Menahan Cemas ;
Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah bayang-bayang pelemahan menuju angka Rp17.500 per dolar Amerika memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Rupiah yang selama ini menjadi denyut utama aktivitas ekonomi nasional, perlahan terasa meredup di bawah tekanan global yang datang silih berganti. Ketegangan geopolitik dunia, penguatan dolar Amerika, hingga arus modal asing yang bergerak keluar dari negara berkembang menjadi faktor yang terus membebani mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi masyarakat kecil, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan valuta asing. Ia menjelma menjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya impor yang membengkak, hingga kecemasan para pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Di pasar-pasar tradisional, ibu rumah tangga mulai merasakan perubahan kecil yang perlahan menggerus daya beli sehari-hari.
Namun di balik situasi itu, para ekonom mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kuat atau lemahnya nilai tukar mata uang. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan negara menjaga stabilitas pangan, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan roda ekonomi rakyat tetap bergerak.
Sejarah menunjukkan bahwa rupiah pernah melewati badai yang jauh lebih berat. Krisis demi krisis telah mengajarkan bahwa kekuatan bangsa ini sesungguhnya terletak pada daya tahan rakyatnya. Maka ketika rupiah meredup menuju Rp17.500, yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan ekonomi yang tepat, tetapi juga ketenangan, kehati-hatian, dan optimisme agar negeri ini tidak larut dalam kepanikan. Sebab di tengah gelombang ekonomi dunia yang tak menentu, harapan selalu menjadi mata uang paling berharga bagi sebuah bangsa.
Suwardi Tahir dan Dinamika Baru PWI Sulsel
Langit siang di kawasan Jalan Maccini Sawah, Makassar, Rabu 13 Mei 2026, tampak teduh ketika langkah demi langkah insan pers mulai berdatangan ke Kantor Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Selatan. Di ruang sederhana yang selama ini menjadi saksi berbagai dinamika dunia jurnalistik itu, satu momentum penting kembali tercatat dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di negeri ini. Suwardi Tahir resmi mendaftarkan diri sebagai kandidat Ketua PWI Sulsel untuk masa bakti lima tahun ke depan.
Kedatangannya disambut hangat sejumlah pengurus dan rekan-rekan wartawan yang hadir menyaksikan proses pendaftaran tersebut. Dengan berkas yang telah dipersiapkan, Suwardi Tahir menyerahkan dokumen pencalonannya sebagai bentuk keseriusan untuk ikut menentukan arah baru organisasi pers di Sulawesi Selatan.
Di sela proses pendaftaran, mengalir pula harapan besar agar Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel semakin kuat menghadapi tantangan zaman. Dunia jurnalistik hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang kecepatan berita, tetapi juga menjaga integritas, profesionalisme, dan marwah pers di tengah derasnya arus informasi digital.
Bagi kalangan wartawan di Sulawesi Selatan, momentum pemilihan Ketua PWI bukan sekadar agenda organisasi, melainkan bagian dari perjalanan menjaga independensi dan kehormatan profesi. Dari Kantor PWI di Jalan Maccini Sawah itu pula, berbagai gagasan tentang masa depan pers kembali dipertemukan. Dan hari itu, nama Suwardi Tahir resmi masuk dalam catatan kontestasi menuju kursi Ketua PWI Sulsel lima tahun mendatang.
Suasana akademik di lingkungan UIN Alauddin Makassar kembali bergairah ketika Program Studi Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi menghadirkan kuliah umum yang sarat gagasan dan refleksi masa depan.
Di hadapan dosen, mahasiswa, serta civitas akademika, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak tampil membawakan tema: “Peran Prodi MHU dalam Menyiapkan SDM Profesional untuk Mendukung Ekosistem Haji dan Umrah.”
Tema itu terasa penting di tengah semakin kompleksnya tata kelola pelayanan ibadah haji dan umrah yang kini menuntut sumber daya manusia bukan hanya religius, tetapi juga profesional dan adaptif terhadap perkembangan global.
Dalam pemaparannya, Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan bahwa pengelolaan haji dan umrah tidak lagi dipandang sekadar aktivitas pelayanan perjalanan ibadah, melainkan telah berkembang menjadi sebuah ekosistem besar yang melibatkan aspek manajemen, teknologi, pelayanan publik, diplomasi, hingga penguatan ekonomi umat.
Karena itu, Program Studi Manajemen Haji dan Umrah diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kompetensi akademik, integritas moral, dan kemampuan manajerial yang kuat agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus dibekali keterampilan praktis, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, serta pemahaman teknologi digital dalam pelayanan haji dan umrah modern.
Kuliah umum tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Para mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap pemaparan, menyadari bahwa dunia haji dan umrah di masa depan membutuhkan tenaga profesional yang siap bekerja dengan dedikasi dan keilmuan matang.
Sementara itu, Dekan FDK UIN Alauddin Makassar, Prof. Abd. Rasyid Masri, didampingi Sekjur MHU Ilham Hamid, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kerja sama yang terjalin sehingga capaian akreditasi UNGGUL yang diraih Prodi Manajemen Haji dan Umrah menjadi kebanggaan bersama.
Menyiapkan SDM Haji dan Umrah yang Profesional
Indonesia dan Bayang-Bayang Judi Online
Indonesia kini menjelma menjadi habitat baru judi online seiring ledakan penggunaan internet dan telepon pintar yang membuat akses perjudian begitu mudah. Judi tidak lagi hadir di ruang-ruang tersembunyi, melainkan masuk melalui layar gawai, menyasar siapa saja dari anak muda hingga pekerja biasa. Teknologi yang seharusnya menjadi sarana pendidikan dan produktivitas justru dimanfaatkan sebagai pintu masuk candu digital yang sulit dikendalikan.
Tekanan ekonomi turut memperbesar penyebaran judi online. Di tengah kebutuhan hidup yang meningkat dan impian hidup instan yang dipamerkan media sosial, banyak orang tergoda mencoba peruntungan demi mendapatkan uang cepat. Bandar judi memanfaatkan situasi ini dengan menawarkan bonus, kemenangan mudah, dan permainan yang dikemas layaknya hiburan biasa.
Perlahan, masyarakat terjebak dalam lingkaran kekalahan, utang, hingga kehancuran ekonomi keluarga. Indonesia akhirnya menjadi ladang subur judi online bukan karena masyarakatnya gemar berjudi, melainkan karena perpaduan teknologi, lemahnya literasi digital, dan tekanan ekonomi.
Karena itu, memberantas judi online tidak cukup hanya dengan memblokir situs. Dibutuhkan penguatan moral, pendidikan digital, penegakan hukum yang tegas, serta perbaikan kesejahteraan rakyat. Sebab dalam perjudian daring, yang paling sering kalah adalah rakyat kecil, sementara yang terus menang hanyalah bandar di balik layar.
Sampai di sini dahulu jumpa kita pagi ini. Bila tak aral melintang, Mozaik Kehidupan akan kembali hadir esok hari membawa kabar, renungan, dan serpihan hikmah yang layak Anda ketahui. Terima kasih telah menjadikan Mozaik sebagai teman perjalanan waktu Anda.
Pantun Penutup
Ke Pantai Losari senja berlabuh,
Cahaya jingga jatuh perlahan.
Jika hidup kadang terasa jauh,
Jangan lupa pulang pada kebaikan.
Penulis: Syakhruddin Tagana


