SYAKHRUDDINNEWS.COM -Pembaca setia Mozaik Kehidupan, Alhamdulillah, pagi kembali membuka lembar hari: Rabu, 11 Ramadan 1447 Hijriah, bertepatan dengan 11 Maret 2026. Waktu berjalan pelan namun pasti menuju gerbang Idulfitri. Ramadan seperti sungai yang mengalir tenang, membawa kita perlahan menuju muara kemenangan.
Aroma lebaran mulai terasa di mana-mana. Pasar-pasar semakin ramai, rumah-rumah mulai bersolek, dan percakapan sehari-hari dipenuhi rencana pulang kampung, kue-kue yang akan disajikan, serta harapan berkumpul bersama keluarga.
Di tengah suasana itu, para purnabakti lebih dahulu merasakan kabar gembira. Pemerintah telah menyalurkan Tunjangan Hari Raya bagi mereka yang telah menuntaskan pengabdian kepada negara. Bagi sebagian keluarga, kabar itu datang seperti angin segar yang meniupkan harapan menjelang hari kemenangan.
Namun cerita tidak selalu sama di setiap sudut kehidupan. Sejumlah aparatur sipil negara, khususnya di tingkat provinsi dan beberapa kementerian, masih menanti kepastian. Dengan nada bercanda mereka menyebut diri sedang “menunggu hilal THR”, sebuah ungkapan ringan yang menyimpan harapan agar kabar baik segera muncul di ufuk pengumuman resmi.
Sementara itu, kebutuhan menjelang lebaran terus mengetuk pintu: dari belanja dapur hingga persiapan menyambut keluarga di hari raya. Di kalangan pekerja perusahaan pun suasananya beragam. Ada yang telah menerima THR, meski sebagian di antaranya mendapati potongan pajak dalam pencairannya.
Ketika hal itu dipertanyakan, jawaban pemerintah terdengar sederhana: silakan mengonfirmasi langsung kepada perusahaan masing-masing.
Begitulah dinamika menjelang lebaran. Ada yang telah tersenyum lega, ada pula yang masih menunggu kabar dari langit pengumuman. Tetapi Ramadan selalu mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu: kesabaran dan rasa syukur adalah bekal yang tak pernah usang.
Sebagai ungkapan ringan, sepotong pantun Makassar pun mengalir:
Nia tonja antu sallang Nanu boya ri pamai Nu makkuta’nang Kerei mange THR ku
Terjemahan ringan: Sarung itu memang ada, Kau cari ke mana-mana. Kalau kau bertanya padaku, Ke mana pergi THR-ku?
Perhatian publik di Sulawesi Selatan juga tersedot pada proses hukum yang menjerat mantan Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin. Ia ditahan oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bibit nanas.
Perkara ini berkaitan dengan proyek pengadaan bibit nanas pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan tahun anggaran 2024 dengan nilai sekitar Rp60 miliar. Penyidik menduga terjadi berbagai penyimpangan dalam pelaksanaannya yang menyebabkan kerugian negara hingga puluhan miliar rupiah.
Dalam pengusutan perkara tersebut, penyidik menetapkan enam orang sebagai tersangka dan sebagian di antaranya langsung ditahan untuk kepentingan penyidikan. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita bahwa jabatan dan kekuasaan pada akhirnya tetap berada di bawah payung hukum. Integritaslah yang sesungguhnya menjadi modal paling berharga bagi siapa pun yang memegang amanah publik.
Dari dunia kampus datang pula kabar yang mengundang renungan. Ketua BEM Universitas Indonesia, Verrel Uziel, resmi dicopot dari jabatannya setelah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Mahasiswa dalam kasus plagiarisme sebuah kajian yang dibawa dalam forum resmi.
Putusan itu kemudian diperkuat oleh Kongres Mahasiswa yang menetapkan pemberhentian dirinya dari kursi Ketua BEM UI. Peristiwa ini menjadi ironi kecil dalam dunia akademik: ketika mahasiswa berdiri di garis depan mengawal integritas publik, justru integritas akademik di dalam tubuhnya sendiri ikut diuji.
Di panggung global, sorotan dunia tertuju pada Iran. Terpilihnya Mojtaba Khamenei dalam lingkaran kepemimpinan baru di negara itu segera menarik perhatian internasional, terutama Amerika Serikat.
Namun di Washington, perubahan figur belum tentu dipandang sebagai perubahan arah. Bagi banyak kalangan di sana, Iran tetap dipantau dengan kewaspadaan—terutama terkait isu nuklir dan pengaruhnya di Timur Tengah.
Karena itu sikap Amerika cenderung tetap sama: menekan sambil menunggu. Dunia kini hanya bisa menyaksikan, apakah kepemimpinan baru di Teheran akan membuka pintu dialog, atau sekadar melanjutkan bab lama ketegangan global.
Di sudut sebuah desa sederhana di Iran, hiduplah seorang gadis bernama Zahrah. Ia bukan anak pejabat, bukan pula berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya hanya seorang montir yang setiap hari bergelut dengan oli dan baut di bengkel kecil pinggir jalan.Dari tempat sederhana itu Zahrah belajar tentang kehidupan: bahwa ketekunan sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja keras.
Waktu kemudian membawa langkahnya jauh melampaui bengkel ayahnya. Pendidikan membuka pintu, kerja keras menuntunnya berjalan, hingga suatu hari namanya disebut berada dalam lingkaran lembaga pengawasan yang berkaitan dengan struktur militer negara.
Bagi sebagian orang, kisah itu terdengar seperti dongeng modern, anak desa yang perlahan menapaki tangga kekuasaan. Namun di balik kisah Zahrah, ada pesan yang lebih dalam. Sejarah sering menunjukkan bahwa perjalanan manusia tidak selalu ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan oleh keberanian melangkah melampaui batas yang pernah ia kenal.
Dari bengkel kecil yang berbau oli hingga ruang-ruang pengambilan keputusan negara, perjalanan itu mengingatkan kita bahwa kehidupan kadang bergerak dengan cara yang tak pernah kita duga. Di sanalah mozaik kehidupan menemukan warnanya: sederhana di awal, namun penuh kemungkinan di ujung jalan.
Di tengah Ramadan yang berjalan khidmat, muncul pula wacana dari Dewan Perwakilan Rakyat agar pemerintah mempertimbangkan penghentian sementara pemberangkatan haji tahun 2026. Usulan itu lahir dari kekhawatiran atas situasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Namun hingga kini semuanya masih sebatas wacana. Pemerintah belum mengambil keputusan, sementara para calon jemaah tetap menunggu dengan harap dan doa. Sebab bagi mereka, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan jauh. Ia adalah panggilan suci, perjalanan yang sering kali menuntut kesabaran panjang bahkan sebelum kaki menjejak di Tanah Suci.
Belakangan ini perhatian publik juga tertuju pada sosok Hercules Rosario Marshal. Nama yang sejak lama dikenal dalam dinamika sosial Jakarta itu kembali disebut setelah aparat mengambil langkah tegas terhadap berbagai aktivitas yang dinilai melanggar ketertiban.
Bagi sebagian orang, kisah Hercules adalah potret perjalanan hidup yang penuh liku: dari masa lalu yang keras di jalanan hingga kemudian tampil sebagai tokoh organisasi masyarakat.
Namun ketika negara menegakkan aturan, tidak ada ruang bagi siapa pun untuk berdiri di atas hukum. Di situlah kehidupan memberi pelajaran sederhana: pengaruh, ketenaran, atau kekuatan sosial tidak pernah lebih tinggi dari hukum yang menaungi sebuah bangsa.
Di tengah riuhnya berita dan dinamika kehidupan, kita kembali diingatkan bahwa hidup memang seperti mozaik, tersusun dari potongan-potongan peristiwa yang kadang keras, kadang lembut. Namun dari semua itu selalu ada pelajaran bagi siapa saja yang mau merenung.
Pada akhirnya, waktu akan menjadi saksi: kekuatan bukanlah segalanya. Yang paling abadi adalah kesadaran untuk kembali pada jalan yang lurus, sebab di sanalah martabat manusia menemukan maknanya.
Sebagai penutup, sebaris pantun ringan:
Pergi ke pasar membeli rotan, Rotan dipikul pulang ke kota. Hidup ini penuh ujian dan godaan, Yang tegak hukumlah yang menjaga kita.
Selamat menunaikan ibadah puasa ramadan dan sukses selalu dalam kegiataan ittikaf, Wassalamu AlaikumWarahmatullahi Wabarakatuh.