SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di Ambang Ramadan, Di Antara Syukur, Duka, dan Harapan; Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pembaca Mozaik Kehidupan yang berbahagia, Ahad pagi menyapa dengan kelembutan yang menenteramkan. Jika langit bersahabat, jalan-jalan protokol berubah menjadi lintasan bahagia.
Di arena car free day, langkah-langkah kecil anak-anak berpadu dengan derap ringan para pelari, sementara para lansia melangkah perlahan, menyimpan cerita panjang di tiap tarikan napas.
Sebagian keluarga memilih berziarah. Di pusara orang tercinta, doa dipanjatkan, kenangan disucikan, dan luka lama diluruhkan.
Menjelang Ramadan, ziarah menjadi ritus sunyi: menundukkan kepala, merendahkan ego, dan menyadari betapa hidup ini rapuh.
Di rumah-rumah, koper mulai disiapkan. Kalender akademik telah memberi tanda: jeda panjang akan datang. Libur Ramadan dan Idulfitri, libur semester, hingga libur akhir tahun.
Libur bukan sekadar rehat, melainkan ruang pulang, tempat menambal rindu, menata ulang batin, dan merajut kembali kehangatan keluarga, sekaligus kami mengenang Bapak SYL, yang pernah memimpin Penulis di eranya, dan pemasangan foto di blog ini sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, sekalipun saat ini, kondisinya terkurung karena faktor politik.
Menyambut Gerbang Ramadan
Di tengah denyut kehidupan itu, umat Islam bersiap menyambut tamu agung: Ramadan 1447 Hijriah. Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada 18 Februari 2026, sementara pemerintah akan memastikannya melalui sidang isbat 17 Februari.
Perbedaan ini kiranya disikapi dengan kearifan, sebab tujuan kita satu: menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang.
Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah perjalanan sunyi menuju kedalaman makna. Lapar menjadi guru kesabaran. Dahaga melahirkan empati. Sujud menjelma percakapan paling jujur antara hamba dan Tuhannya.
Ramadan hadir sebagai sekolah kehidupan, melatih keikhlasan, menumbuhkan solidaritas, dan merajut kembali kemanusiaan.
Harapan dari Istana
Dari pusat kekuasaan, kabar tentang kesiapan anggaran Rp55 triliun untuk pembayaran Tunjangan Hari Raya aparatur negara mengalir sebagai harapan.
Di balik angka-angka itu, ada jutaan keluarga yang menggantungkan mimpi: meja makan yang lebih hangat, senyum anak-anak saat Lebaran, dan mudik yang lebih bermartabat.
Ekonomi bukan sekadar grafik dan statistik. Ia adalah denyut di dapur-dapur kecil, di pasar-pasar tradisional, dan di terminal-terminal yang ramai oleh pelukan rindu.
Skandal dan Luka di Tubuh Negeri
Namun, negeri ini juga menyimpan luka. Dari Bima, Nusa Tenggara Barat, publik diguncang kabar pencopotan Kapolres Bima Kota akibat dugaan keterlibatan dalam jaringan narkoba. Kepercayaan publik kembali diuji.
Di saat rakyat mendambakan keteladanan, justru muncul kisah kelam yang mencederai nurani. Kini, masyarakat menunggu: akankah hukum benar-benar berdiri tegak, tanpa pandang bulu?
Duka dari Gowa
Dari Gowa, Sulawesi Selatan, kabar duka menyayat hati. Seorang pemuda, Muhammad Iqbal (21), ditemukan tak bernyawa di kolam galian C.
Tangis keluarga pecah di tepian air. Harapan runtuh seketika. Kolam yang tenang berubah menjadi saksi bisu betapa tipis batas antara hidup dan kematian.
Peristiwa ini mengingatkan kita: hidup adalah titipan. Setiap tarikan napas adalah anugerah. Dan setiap perjumpaan bisa menjadi perpisahan terakhir.
Ramadan dan Pendidikan Karakter
Menjelang bulan suci, pemerintah menerbitkan pedoman pembelajaran selama Ramadan. Sekolah diarahkan tak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memperkuat iman, takwa, akhlak, dan kepedulian sosial.
Ramadan diharapkan menjadi ruang pendidikan sejati, tempat anak-anak belajar tentang kejujuran, empati, disiplin, dan makna berbagi. Sebab pendidikan yang paling dalam bukan sekadar di ruang kelas, melainkan di ruang hati.
Nakhoda Memilih Selamat ;
Angin berderu, ombak meninggi, dan gelap menutup cakrawala. Di tengah laut antara Kolaka dan Bone, Kapal Feri Mandala berguncang hebat. Malam itu, Jumat menjelang Sabtu, laut seperti sedang menguji keteguhan manusia.
Sekitar pukul 01.00 Wita, perjalanan yang semula berjalan normal berubah menjadi kecemasan massal. Hantaman gelombang dan terjangan angin kencang membuat lambung kapal bergoyang keras. Di ruang kendaraan, beberapa mobil terguling, satu di antaranya kendaraan pengangkut ikan, muatannya berserakan, menyisakan aroma laut yang tajam.
Kepanikan sempat menjalar. Namun di anjungan, sang nahkoda memilih ketenangan. Demi keselamatan ratusan jiwa dan awak kapal, ia memutar haluan. Kapal Mandala kembali menuju Pelabuhan Kolaka, meninggalkan impian tiba di Bone, demi satu tujuan yang lebih utama: selamat.
Keputusan itu menjadi ikhtiar melawan takdir buruk. Perlahan, kapal merapat, dan rasa syukur pun merekah. Tidak ada korban jiwa. Hanya kelelahan, ketegangan, dan doa-doa yang masih menggantung di udara.
Di balik peristiwa ini, laut kembali mengajarkan makna kerendahan hati: bahwa manusia, betapapun canggih teknologinya, tetaplah kecil di hadapan semesta. Dan keselamatan, selalu menjadi tujuan paling hakiki.
Shio Kuda dan Harapan Baru
Sementara itu, Imlek 2026 yang jatuh pada 17 Februari menandai pergantian shio menuju Kuda, simbol energi, keteguhan, dan keberanian melangkah. Pergantian ini menjadi pengingat bahwa hidup selalu bergerak. Kita diajak menjemput hari esok dengan semangat baru, tanpa melupakan kebijaksanaan masa lalu.
Refleksi Ahad untuk Pembaca yang budiman,
Di antara riang liburan, semarak Ramadan, harapan ekonomi, skandal kekuasaan, dan duka kematian, hidup berjalan dalam mozaik yang tak pernah seragam.
Ahad ini mengajarkan kita satu hal: bahwa hidup adalah perjumpaan antara syukur dan sabar, antara harapan dan kehilangan, antara doa dan ikhtiar. Penulis tMozaik Kehidupan mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada Ananda Adjat Sudradjat dengan Apt. Sally Noorcelia Wuisan,S.Farm
Semoga kita mampu memaknai setiap detiknya, menyucikan niat menjelang Ramadan, dan menebar kebaikan, sekecil apa pun.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis, Syakhruddin Tagana,


