SYAKHRUDDINNEWS.COM – Para pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali berjumpa di awal pekan, di minggu ketiga Januari, saat kalender terus bergerak, sementara harapan manusia tak pernah benar-benar berhenti.
Semoga Anda semua dalam keadaan sehat wal afiat, bahagia di sisi keluarga, terus berkompetisi menjemput karier terbaik, hingga kelak tiba di masa purnatugas: saat usia menua dengan gemilang, bukan sekadar bertambah angka.
Pagi ini, kabar duka datang dari lereng Gunung Bulusaraung. Di sana, pada kedalaman sekitar 200 meter dari puncak, Tim SAR gabungan menemukan satu jasad korban pesawat ATR 42-500 yang menabrak dinding gunung.
Seorang laki-laki, tanpa nama yang disebutkan, namun dengan kehidupan, mimpi, dan orang-orang yang menunggunya pulang. “Korban ditemukan sekitar pukul 14.20 WITA,” ujar Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar.
Kalimat itu terdengar singkat, nyaris datar. Namun di baliknya ada perjuangan panjang: medan ekstrem, jurang terjal, kabut tebal, dan hujan yang tak bersahabat. Bahkan personel SAR harus melakukan rapelling ke bawah, hingga tubuh mereka lenyap dari pandangan rekan-rekannya di atas.
Di sanalah, kemanusiaan diuji, antara rasa takut dan tanggung jawab, antara nyawa sendiri dan nyawa orang lain.
Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyebut bagaimana puing-puing pesawat terseret, terguling, lalu terhenti di sisi utara puncak Bulusaraung. Alam, sekali lagi, menunjukkan betapa kecilnya manusia. Namun justru di titik itu pula, keberanian manusia menemukan maknanya.
Di belahan lain kehidupan, dunia digital menyuguhkan ironi. Teknologi kecerdasan buatan yang seharusnya memudahkan hidup, justru dipakai untuk “menelanjangi” martabat manusia. Grok AI di platform X memicu kegelisahan global ketika gambar orang dewasa hingga anak-anak dimanipulasi secara tidak senonoh.
Bahkan mereka yang berada di lingkaran terdekat penciptanya merasa resah. Gugatan demi gugatan muncul, seolah mengingatkan kita: kemajuan tanpa etika hanyalah bencana yang tertunda.
Sementara itu, ChatGPT yang kerap menjadi teman berpikir banyak orang, bersiap menayangkan iklan bagi pengguna gratis di Amerika Serikat. OpenAI meluncurkan paket Go dengan harga lebih murah, di tengah kebutuhan raksasa membiayai infrastruktur AI bernilai triliunan dolar.
Dunia terus bergerak ke arah efisiensi, namun pertanyaannya tetap sama: apakah manusia masih menjadi pusatnya?
Di tengah riuh teknologi dan berita besar, sebuah kisah kecil justru menghangatkan dada. Namanya Kiendra Lian Damarta, 16 tahun, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi. Dari keluarga kurang mampu, ia berdiri tegak berpidato dalam bahasa Inggris di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Bukan sekadar percaya diri, tetapi jujur. Ia mengaku sempat merasa “dipaksa” masuk sekolah rakyat. Namun keadaan orang tua mengajarkannya satu hal: keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Dari sana, beasiswa ke luar negeri pun datang, langsung dari Presiden.
Pada hari yang sama, di Jakarta, pernikahan sederhana namun sarat simbol berlangsung. Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo hadir sebagai saksi akad nikah seorang staf presiden.
Dua pemimpin, dua era, duduk dalam satu ruang, seakan memberi pesan bahwa kekuasaan pun, pada akhirnya, kembali pada nilai-nilai kemanusiaan: menyaksikan janji seumur hidup dua insan.
Namun tak semua kisah berakhir indah. Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap bagaimana uang hasil pemerasan diduga berubah rupa menjadi sebuah mobil mewah. Sebuah pengingat pahit bahwa jabatan tanpa integritas hanya akan menua sebagai aib.
Dan di tengah semua itu, Jepang kembali dinobatkan sebagai salah satu negara teraman di Asia. Hukum yang tegas, budaya harmoni, dan disiplin sosial menjadikannya rumah yang ramah bagi pelancong.
Barangkali dunia sedang rindu pada keteraturan, pada rasa aman yang lahir bukan dari kekerasan, melainkan dari kesadaran bersama.
Pembaca yang saya muliakan, hidup memang mozaik. Ada kepingan duka di lereng gunung, ada kepingan harapan di ruang kelas sederhana, ada kilau kekuasaan, dan ada noda keserakahan. Tugas kita bukan memilih satu kepingan saja, melainkan merangkainya, agar hidup tetap bermakna, meski tak selalu indah.
Salam hangat, Syakhruddin Tagana
