SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang kami banggakan, Hari ini kami kembali menyapa Anda, bukan sekadar dengan deretan kata, melainkan dengan kerinduan yang diam-diam kita rawat bersama. Kerinduan untuk terus bercengkerama, menakar hidup dari kisah-kisah kecil yang kerap luput, namun sesungguhnya membentuk denyut kehidupan itu sendiri.
Bagi sebagian orang, menulis hanyalah hobi. Namun bagi mereka yang setia menekuninya, menulis adalah rumah singgah. Tempat ide beristirahat, kenangan dirawat, dan usia seakan diperpanjang karena pikiran terus dilatih untuk tetap hidup.
Ketika hobi menemukan jalannya, dan pembaca menemukan bayangan dirinya, di situlah Mozaik Kehidupan bekerja, mengetuk perlahan relung hati, menghadirkan senyum kecil, kadang getir yang menyadarkan. Jika itu tercapai, maka salamaki, kita telah berbagi rasa.
Di belahan langit yang lain, dunia penerbangan kembali diuji. Produsen pesawat asal Prancis, ATR, menyatakan dukungan penuh terhadap proses investigasi hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT).
Dalam pernyataan resminya, ATR menegaskan bahwa pikiran pertama mereka tertuju pada para kru dan penumpang. Manusia-manusia yang di balik angka manifes, memiliki keluarga, harapan, dan cerita yang kini tertahan di antara doa dan penantian, hingga hari ketiga pencarian, baru dua orang yang ditemukan karena faktor cuaca eksrem dan lokasi pencarian di gunung karst dengan pandangan yang amat terbatas.
Para spesialis ATR telah terlibat, mendampingi otoritas Indonesia dan operator untuk mengurai sebab musabab insiden ini. Di balik bahasa teknis dan prosedur investigasi, ada satu hal yang tak pernah bisa diterjemahkan dengan rumus: empati. Karena sebelum tragedi menjadi laporan, ia selalu lebih dulu menjadi luka.
Sementara itu, di ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita, sebuah kisah lain menyisakan pelajaran pahit—tentang kepercayaan, dan betapa rapuhnya ia di era digital.
Adalah Dr. H. Mansur Summa Daeng Bani, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, yang kemarin mendatangi ruang Dekan. Bukan membawa kabar akademik, bukan pula urusan jabatan. Ia datang dengan wajah serius, menyampaikan sesuatu yang tak pernah ia rencanakan: dirinya menjadi korban penipuan online.
Modusnya terdengar sederhana, namun disusun rapi. Pelaku mengaku dari Kantor Catatan Sipil. Nada bicara ramah. Sok akrab. Menyebut nama-nama sahabat dekat korban—sesama dosen, bahkan nama Dekan sendiri.
Kepercayaan dibangun setahap demi setahap, seperti puisi yang dirangkai perlahan. Ironisnya, H. Mansur Summa adalah dosen yang dikenal piawai merangkai kata.
Keyakinan itu kian menguat ketika diperlihatkan grup percakapan lengkap dengan foto-foto mahasiswa yang dikenalnya. Di titik inilah nalar mulai kalah oleh rasa percaya.
Permintaan pun datang: nomor rekening, dengan dalih bantuan lansia. Bahkan pelaku sempat mengaku mengenal sebagai anak Pak Dekan, sebuah klaim yang terdengar meyakinkan bagi siapa pun yang lengah.
Rasa penasaran membawa H. Mansur ke bank. Dan di sanalah kenyataan menampar keras: saldo tabungan telah ludes. Tersisa Rp21 ribu, angka kecil yang meninggalkan luka besar.
Dari peristiwa ini, membuat Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan pesan sederhana namun penting: waspadalah. Jangan mudah merespons permintaan apa pun terkait data pribadi dan rekening, terlebih dari orang yang tak dikenal. Fakultas ini telah terlalu sering kehilangan, bukan hanya uang, tetapi juga rasa aman, karena penipuan serupa, menimpa guru besar hingga dosen muda.
Kehidupan memang tak selalu keras dengan cara yang kasat mata. Kadang ia datang dengan senyum, sapaan ramah, dan cerita yang terasa akrab. Justru di situlah kewaspadaan diuji.
Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, langit kembali menyimpan isyaratnya sendiri. Fenomena langka berupa gerhana matahari cincin diprediksi terjadi pada 17 Februari 2026. Saat itu, matahari akan tampak membentuk cincin cahaya—cincin api—mengelilingi bulan.
Gerhana diperkirakan mulai terjadi pukul 04.56 EST, dengan puncak pada 07.12 EST. Namun, keindahan ini hampir tak bisa disaksikan manusia. Gerhana cincin hanya terlihat di jalur annularitas sepanjang 4.282 kilometer dan selebar 616 kilometer.
Ketika bulan menutupi sekitar 96 persen cakram matahariSeolah langit pun mengingatkan: tak semua keindahan bisa kita genggam, namun tetap layak kita kagumi.
Di sebuah layar ponsel, Suritno menatap foto pernikahannya. Foto yang seharusnya menjadi awal cerita panjang, justru berubah menjadi penanda kehilangan.
Pria asal Palimanan, Cirebon, Jawa Barat itu mendadak dikenal jutaan orang setelah kisahnya beredar di TikTok. Bukan karena sensasi, melainkan karena rindu yang tak menemukan obat. Dalam unggahannya, Suritno hanya berbagi satu hal sederhana: kehilangan istri yang baru saja ia nikahi.
Istrinya, Diah, pergi karena kecelakaan.
Sepulang berbelanja kebutuhan bulanan, kendaraan yang ditumpanginya ditabrak dari belakang. Tubuhnya terlempar, masuk ke kolong mobil. Diah sempat dirawat, sempat menulis kabar di media sosial, sempat berharap. Namun takdir berkata lain.
“Rindu itu tidak ada obatnya,” tulis Suritno.
Kalimat pendek, namun beratnya menekan dada siapa pun yang membacanya.
Unggahan itu telah ditonton lebih dari 2,5 juta kali. Ribuan komentar mengalir—doa, empati, dan air mata orang-orang yang tak pernah mengenalnya. Di ruang digital yang sering bising, kesedihan Suritno justru mengajarkan satu hal: cinta yang singkat tetaplah cinta yang utuh.
Di sudut negeri yang lain, kegelisahan hadir dalam wajah berbeda. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri di kawasan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Sidak dilakukan bukan tanpa sebab. Ribuan ton beras ilegal ditemukan, masuk tanpa prosedur, tanpa karantina, tanpa empati.
Padahal negeri ini sedang surplus. Stok beras nasional lebih dari 3 juta ton. Sawah-sawah masih digarap. Petani masih berharap pada harga yang adil. Namun di celah itulah, selalu ada yang mencoba bermain curang.
Sebanyak 1.000 ton beras ilegal diamankan. Enam kapal mengangkutnya dari wilayah yang bahkan bukan sentra produksi, menuju daerah penghasil seperti Palembang dan Riau.
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum,” tegas Amran.
“Ini soal nasib petani, soal 115 juta rakyat Indonesia yang menggantungkan hidup dari pertanian.”
Di balik angka-angka itu, ada wajah-wajah petani kecil yang jarang tampil di berita, namun paling dulu merasakan dampaknya.
Duka lain mengendap; Di sebuah rumah di Caringin, Kabupaten Bogor, tenda telah berdiri sejak beberapa hari lalu. Kursi disusun rapi. Botol air mineral berjajar. Bukan untuk pesta, melainkan untuk menerima tamu yang datang membawa doa.
Rumah itu milik keluarga Esther Aprilita S, pramugari pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport yang diduga jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Teman, tetangga, hingga pihak gereja silih berganti datang. Doa dipanjatkan. Harapan dijaga, meski rapuh.
Ayah Esther, Adi Saputra, bersama satu anaknya yang lain, telah tiba di Makassar. Malam sebelumnya, ia menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara—sebuah prosedur yang tak pernah ada dalam bayangan orangtua mana pun.
Di Posko Ruang Tunggu Keluarga Penumpang Bandara Sultan Hasanuddin, waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap kabar ditunggu. Setiap langkah petugas diharap membawa kepastian.
Di sanalah kita belajar, bahwa hidup sering kali bergerak di antara harapan dan kehilangan. Dan tugas kita, sebagai manusia adalah tetap menjaga empati, bahkan ketika jawaban belum datang (syakhruddin tagana)


