SYAKHRUDDINNES.COM – Ahad pagi di Kawasan Car Free Day Panakukang selalu punya cerita. Udara masih menyimpan sisa embun, langkah kaki beradu dengan tawa, dan musik senam mengalun ringan. Di antara kerumunan itu, sekelompok perempuan dengan busana merah-hitam mencuri perhatian.
Kacamata hitam bertengger anggun di wajah-wajah cerah mereka. Sekilas, tak ada yang menyangka mereka adalah para lansia.
Padahal, di balik senyum dan gerak yang lincah, mereka adalah para purnabakti. Mantan aparatur, pendidik, dan pekerja dari berbagai institusi yang secara usia telah mendekati, bahkan melewati, masa pensiun. Namun pagi itu, usia seolah kehilangan maknanya.
Mereka adalah Pengurus Harian Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan, yang kembali menegaskan eksistensinya di CFD Panakukang. Di bawah koordinasi Dra. Hj. Sumiaty Sattar, kegiatan Ahad pagi ini tak sekadar rutinitas. “Olahraga, silaturahmi, dan sedikit wisata kuliner,” ujarnya ringan, sembari tersenyum.
Setiap pekan, ia setia mengingatkan para anggota bahwa pagi adalah milik mereka milik tubuh, milik kebersamaan.
Di sisi lain, Ketua I LLI Sulsel, Hj. Nirmawaty Gani, didampingi Bendahara Dra. Amirah Sambe, M.Si, menyampaikan harapannya. Waktu pagi di hari Minggu, katanya, adalah ruang berharga bagi lansia: untuk menjaga kesehatan sekaligus merawat persaudaraan.
Apalagi, tak lama lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, masa ketika aktivitas olahraga bersama akan berhenti sejenak, memberi ruang pada ibadah dan keheningan.
Namun semangat LLI tak ikut berpuasa. Dalam agenda ke depan, LLI Sulsel berinisiatif kembali menyalurkan bantuan makanan melalui program “Jumat Berkah”, yang dirangkaikan dengan arisan anggota. Tak berhenti di situ, sebuah unit baru pun disiapkan: Pelatihan LANSIGANA (Lanjut Usia Siaga Bencana).
Menurut Dharvawaty AS. Gani, M.Si, pembentukan LANSIGANA lahir dari keprihatinan dan kesadaran. Menengok berbagai musibah yang terjadi di Sumatera dan daerah lain, para lansia pun perlu dibekali pengetahuan dasar kebencanaan.
“Minimal tahu cara menolong diri sendiri,” tuturnya penuh semangat, “agar tidak menjadi beban keluarga ketika bencana datang.”
Pagi di CFD Panakukang pun beranjak siang. Langkah-langkah mulai melambat, tapi semangat tetap menyala. Di antara merah dan hitam busana mereka, tersimpan pesan yang sederhana namun kuat: menjadi lansia bukan berarti berhenti. Justru di usia senja, kehidupan masih layak dirayakan dengan sehat, peduli, dan siap menghadapi apa pun yang mungkin datang (sdn)




