SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini adalah langkah pertama menuju usia ke-70. Sebuah bilangan yang bukan sekadar angka, melainkan penanda perjalanan panjang yang telah ditempuh dengan jatuh bangun, doa-doa lirih, serta pelajaran hidup yang tak selalu ramah, namun selalu bermakna.
Kemarin, 5 Januari 2026, usia 69 resmi terlewati. Ia pergi tanpa seremoni, namun meninggalkan jejak yang dalam: tentang kesabaran yang dilatih oleh waktu, tentang syukur yang tumbuh dari keterbatasan, dan tentang keyakinan bahwa hidup bukan soal seberapa lama, melainkan seberapa bernilai ia dijalani.
Ucapan selamat ulang tahun yang mengalir dari keluarga, sahabat, dan para mitra kerja, diterima dengan hati penuh terima kasih. Setiap pesan adalah pengingat bahwa perjalanan ini tidak ditempuh sendirian.
Semoga hari-hari yang tersisa kelak semakin mantap dilalui, semakin jernih dimaknai, dan tetap berpijak pada rasa syukur, apa pun rupa takdir yang menyertai. Di tengah perenungan personal itu, kabar membahagiakan datang dari lingkar persahabatan.
Sejumlah sahabat Tagana Kabupaten Gowa kini mengenakan seragam KORPRI. Sebuah simbol amanah negara yang diraih bukan melalui jalan pintas, melainkan melalui bertahun-tahun pengabdian sunyi sebagai relawan Taruna Siaga Bencana.
Dari medan bencana yang penuh lumpur, peluh, dan risiko, ia kini melangkah ke jalur pengabdian formal sebagai aparatur sipil negara. Sebuah capaian yang bermartabat. Kisah yang menegaskan bahwa kerja kemanusiaan, meski sering tak terlihat, tak pernah benar-benar sia-sia. Waktu, pada akhirnya, tahu kepada siapa ia harus memberi penghormatan.
Namun, kehidupan tak pernah menyuguhkan satu warna saja. Di sudut lain negeri ini, publik dikejutkan oleh kabar dugaan penganiayaan yang melibatkan pejabat publik. Ketua DPRD Kabupaten Soppeng, Andi Muhammad Farid, disebut-sebut melakukan penganiayaan terhadap seorang pejabat BKPSDM, Rusman, terkait polemik penempatan delapan PPPK paruh waktu.
Peristiwa yang viral di jagat maya itu menyisakan tanya besar: di mana batas etika kekuasaan? Sampai sejauh mana jabatan boleh berbicara atas nama emosi? Ketika kewenangan kehilangan kendali, yang runtuh bukan hanya wibawa institusi, tetapi juga martabat kemanusiaan.
Tragedi yang lebih pilu datang dari RSUD Majalaya, Kabupaten Bandung.
Fikri Ardiansyah, 24 tahun, seorang petugas kebersihan, meregang nyawa setelah dianiaya oleh atasannya sendiri. Persoalannya sungguh sepele, utang lima juta rupiah. Namun dari perkara kecil itulah, nyawa seorang anak muda melayang di gudang tempat ia mencari nafkah.
Betapa murahnya nyawa manusia ketika kekuasaan dan amarah bertemu tanpa nurani. Kisah ini menjadi cermin getir: bahwa kekerasan kerap lahir bukan dari kekurangan hukum, melainkan dari kemiskinan empati.
Dari tragedi lokal, pandangan kita beralih ke panggung global. Dunia dibuat tercengang oleh kabar tentang Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Dalam sebuah operasi bertajuk Absolute Resolve, Amerika Serikatmelalui CIAdisebut melacak setiap kebiasaan sang presiden: tempat tidur, makanan, hingga pergerakan hariannya. Ultimatum terakhir bahkan disebut disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump.
Politik global kembali menunjukkan wajah aslinya: bukan sekadar diplomasi dan meja perundingan, tetapi juga permainan strategi berisiko tinggi, di mana satu keputusan dapat menentukan nasib jutaan jiwa.
Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan dan konflik itu, hadir sebuah kisah yang menyejukkan jiwa, perjalanan spiritual seorang pria bernama Salaudeen. Terlahir sebagai Yahudi, ia tumbuh dengan pandangan bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kebencian dan kekerasan, sebagaimana narasi media arus utama. Namun hidup membawanya pada pencarian yang jujur dan sunyi.
Salaudeen percaya pada satu hal sejak muda: Tuhan itu nyata. Keyakinan sederhana itu justru menumbuhkan kegelisahan mendalam tentang tujuan hidup manusia yang singkat. Dari kegelisahan itulah pencarian dimulai, hingga akhirnya ia menemukan Islam sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang makna hidup dan keabadian.
Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa hidayah sering kali datang bukan dari keramaian, melainkan dari kejujuran hati yang berani bertanya dan bersedia menerima kebenaran.
Di ranah kebijakan nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan anggaran APBN Tahun 2026 tetap dapat dicairkan untuk kementerian dan lembaga, meski tanpa seremoni penyerahan DIPA dan alokasi Transfer ke Daerah (TKD) di akhir 2025. Anggaran tetap berjalan, tanpa harus menunggu formalitas.
Sementara itu, Menteri Hukum dan HAM Supratman Andi Agtas menegaskan bahwa polisi yang menduduki jabatan sipil tidak perlu mundur, khususnya mereka yang telah menjabat sebelum Putusan MK. Putusan tersebut memang final dan mengikat, namun tidak berlaku surut kecuali institusi Kepolisian sendiri yang menariknya.
Di sisi lain, ruang hukum dan keadilan juga diwarnai kegaduhan. Nadiem Makarim tak diberi kesempatan berbicara kepada media, kuasa hukum meluapkan kemarahan kepada Jaksa, dan suasana persidangan pun menjadi sorotan publik. Bahkan hakim menegur kehadiran tentara dalam sidang tersebut, mempertanyakan asal dan peran TNI yang dinilai bukan bagian dari tugas pokoknya.
Dari Makassar, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) merilis data yang tak kalah mengusik nurani. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, meningkat 14 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data tersebut dihimpun dari tiga unit layanan: UPTD PPA, Puspaga, dan Shelter Warga. Angka ini sekaligus menegaskan bahwa 153 Shelter Warga di tingkat kelurahan kini bukan lagi sekadar ujung tombak, melainkan telah menjadi sasaran tombak, ruang pertama masyarakat melapor, berlindung, dan mencari harapan di tengah luka.
Pada akhirnya, hidup memang tak pernah menawarkan cerita tunggal.
Ia hadir sebagai mozaik, pecahan peristiwa yang kadang indah, kadang perih. Dan tugas kita bukan memilih potongan mana yang ingin dilihat, melainkan belajar memaknai semuanya dengan hati yang jujur.
Selamat melangkah menuju usia ke-70. Semoga setiap hari yang datang tetap memberi alasan untuk bersyukur, dan setiap peristiwa, apa pun wajahnya, selalu menyisakan hikmah bagi mereka yang mau merenung (salamaki ! by. syakhruddin tagana)

ABSOLUTE RESOLVE