SYAKHRUDDINNEWS.COM – Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Shelter Warga se-Kota Makassar resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwas, M.Kes, di Ruang Sipakatau, Balai Kota Makassar, Rabu 10 Desember 2025, didampingi Kepala Bidang Perlindungan Perempuan, H.Hapidah Djalante,S.IP.
Kegiatan ini dipandu Ibu Santi, diawali dengan penutupan rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) yang ditandai dengan pembagian bunga, pembentangan spanduk peringatan, serta yel-yel penuh semangat dari seluruh peserta.
Paparan Pendidikan dan Isu Anak Putus Sekolah ; Dalam sesi materi, peserta mendapatkan informasi terkini terkait pendidikan anak dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, termasuk pemaparan mengenai persoalan anak putus sekolah, wajib belajar 13 tahun, serta kondisi pendidikan PAUD.
Data mengenai anak yang drop out di tingkat SMP dan SMK juga dipresentasikan sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat intervensi di tingkat kelurahan.
Kadis Pendidikan menekankan pentingnya peran pengurus shelter dalam mendorong anak kembali bersekolah. Koordinasi dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), penguatan program paket kesetaraan, serta kolaborasi dengan pemerhati pendidikan untuk komunitas asisten rumah tangga dan anak jalanan menjadi fokus utama.
“Belajar tidak harus selalu di bangku sekolah. Shelter warga pun dapat menjadi ruang belajar yang produktif,” ujarnya.
Perubahan Peran Shelter Warga; Pemerhati perempuan Sulsel, Ira Husain, mengangkat dinamika perubahan peran shelter warga dalam menangani masalah sosial.
“Lima belas tahun lalu, shelter warga adalah ujung tombak penanganan kasus. Kini, mereka justru menjadi sasaran tombak, karena banyak kasus bermuara ke sana,” katanya.
Menurutnya, pengurus shelter kini lebih sigap dan care dibanding beberapa pemangku kepentingan lainnya, termasuk dalam penyelesaian kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ia menekankan bahwa dua kata kunci dalam penanganan masalah perempuan adalah pencegahan dan pendampingan. Karena itu, kapasitas pendamping harus terus diasah melalui pelatihan berkelanjutan.
Pesan Tegas Kadis DP3A: Satu Komando dan Fokus di Wilayah; Dalam arahannya, Kadis DP3A Kota Makassar berpesan tegas agar seluruh shelter warga tetap bergerak dalam satu komando.
Ia mengingatkan agar pengurus tidak melakukan agitasi ataupun memperluas penanganan kasus hingga keluar dari wilayah kerja masing-masing.
“Sibuklah di wilayah masing-masing. Jangan merambah kelurahan lain dengan dalih penjangkauan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa koordinasi, kerja sama, dan sinkronisasi dengan UPT DP3A di Jalan Nikel Makassar menjadi kunci penyelesaian kasus yang tepat sasaran.
“Jangan berjalan sendiri. Apa yang Anda lakukan tetap kami monitor,” ujarnya dengan suara yang menggelegar.
Dialog, Foto Bersama, dan Penyerahan Rompi ; Rangkaian acara ditutup dengan sesi dialog interaktif, berbagi pengalaman antar-shelter, serta pembahasan pengembangan program ke depan.
Pada penghujung kegiatan dilakukan foto bersama dan penyerahan dua lembar rompi bagi pengurus shelter yang baru terbentuk sebagai simbol kesiapsiagaan dalam pelayanan kasus (sdn)



