Di bawah langit Februari yang cerah, Monas menjadi saksi langkah gagah, Para pemimpin baru melangkah pasti, Menuju Istana dengan mimpi dan janji.
Empat ratus delapan puluh satu nama, Terukir dalam sejarah bangsa, Lima tahun ke depan mereka mengabdi, Membawa harapan, membangun negeri.
Namun di sudut lain, di Patung Kuda, Suara mahasiswa menggema membahana, Mereka pewaris, mereka penantang, Menyorot gelap, menuntut terang.
Indonesia, kau tak sedang baik-baik saja, Di satu sisi harapan, di sisi lain luka, Di antara tepuk tangan dan pekik juang, Kebenaran selalu mencari ruang.
Mensegneg datang, menenangkan gelora, Tapi semangat perjuangan tak akan sirna, Karena negeri ini tak hanya soal pesta, Tapi tentang keadilan yang nyata.