SYAKHRUDDINNEWS.COM – Mangkatnya Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Sultan Malikussaid II Batara Gowa III, pada Kamis, 28 November 2024, meninggalkan duka yang mendalam bagi warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Raja yang meninggal dunia pada usia 64 tahun ini menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Pusat akibat penyakit jantung pukul 07.25 WITA. Kini, jenazah almarhum disemayamkan di Istana Kerajaan Gowa, Balla Lompoa, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.
Kesedihan menyelimuti tanah Gowa. Andi Kumala Idjo, atau yang lebih dikenal dengan gelar kehormatannya, Sombaya ri Gowa, merupakan sosok yang menjadi simbol persatuan adat dan budaya di Gowa.
Dengan mangkatnya Raja Gowa ke-38, istana kerajaan yang berusia ratusan tahun kini terasa kosong. Balla Lompoa, kediaman resmi keluarga kerajaan, dipenuhi oleh pelayat dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Di tengah suasana berkabung ini, perhatian kini tertuju pada pewaris takhta yang akan melanjutkan perjuangan dan tradisi dinasti Gowa.
Menurut keponakan almarhum, Andi Arfan A. Idjo, keluarga besar kerajaan akan menggelar rapat khusus untuk menentukan siapa yang pantas menggantikan posisi almarhum sebagai Raja Gowa.
“Kami akan rapat keluarga sebentar malam untuk berembuk tentang siapa yang akan meneruskan perjuangan dan meneruskan titah raja selanjutnya,” ujar Andi Arfan saat ditemui di Balla Lompoa.
Meski keputusan resmi belum diambil, nama Andi Tenri Sessu Dg. Mattawang Karaeng Segeri To Mabbicara Butta, yang kini menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa, muncul sebagai sosok yang paling potensial. Usianya yang telah mencapai 73 tahun tidak mengurangi wibawa dan pengaruhnya di kalangan keluarga kerajaan maupun masyarakat adat.
“Andi Tenri Sessu dikenal sebagai figur yang bijaksana dan memiliki pengalaman panjang dalam mengemban amanah adat. Sebagai Mangkubumi, beliau berperan besar dalam menjaga stabilitas internal kerajaan dan menjadi penjaga nilai-nilai luhur budaya Gowa,” tambah Andi Arfan.
Proses pengangkatan raja baru tentu tidak hanya melibatkan keluarga besar kerajaan, tetapi juga tradisi adat dan kesepakatan dengan tokoh masyarakat setempat yang menjadi bagian penting dalam menentukan pemimpin yang akan membawa kerajaan Gowa ke masa depan.
Sombaya ri Gowa yang baru diharapkan tidak hanya menjadi simbol adat dan budaya, tetapi juga mampu menjaga kerajaan sebagai pilar identitas masyarakat Gowa di era modern.
Malam ini, di bawah langit Gowa yang berbalut duka, keputusan besar akan diambil. Masa depan dinasti Gowa dan harapan masyarakatnya bertumpu pada pemimpin baru yang akan melanjutkan jejak panjang sejarah dan menjaga semangat perjuangan serta nilai-nilai leluhur tetap hidup.
Rencana pemakaman almarhum Raja Gowa ke-38 akan dilaksanakan pada Jumat, 29 November 2024, dengan dihadiri ribuan pelayat dari berbagai penjuru Nusantara. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga kerajaan di Katangka, Kecamatan Sombaopu.
Kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga kerajaan, tetapi juga oleh masyarakat luas yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas berpulangnya sosok pemimpin yang dihormati (sdn)

