SYAKHRUDDIN.COM – Sebagai seorang alumnus Sekolah Pekerjaan Sosial (SPSA) di Makassar, saya menyelesaikan pendidikan pada tahun 1976. Setahun kemudian, saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasanuddin pada tahun 1978 di kelas matrikulasi.
Namun, perjalanan Penulis berubah ketika Kakanda Parawansa Balfas, seorang pegawai RRI di Samarinda, mengajak saya untuk datang ke Kota Samarinda. Saat itu, kami juga menyaksikan daerah yang dikenal dengan sebutan “Banjir Kayu”.
Pada masa itu, banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) meninggalkan pekerjaan kantornya dan berusaha untuk berwirausaha yang menjanjikan hasil yang lebih besar.
Pada tahun 1979, saya mencoba mengikuti ujian masuk di Kanwil Departemen Sosial Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda.
Kala itu, pegawai sosial masih sangat kurang di kabupaten/kota, terutama di Kabupaten Pasir yang hanya memiliki tiga orang, termasuk Bapak Soenardi (Pensiunan Veteran) yang menjabat sebagai Kepala Kantor, Almarhum Badwie (sebagai kepala tata usaha dan Bapak Sayid Ali sebagai bendahara dan seorang petugas kebersihan kantor.
Tidak lama setelah kami tiba di Kanwil, beberapa di antara kami, termasuk Penulis, Thaufik Rizal, Hanafi Abidarda, dan Muhammad Yunus, dipindahkan ke Tanah Grogot. Kemudian, bergabunglah Srimulyadi dan Komaruddin, diikuti oleh Tri Haryatmi, Sri, dan Khairil Anwar.
Seiring berjalannya waktu, Bapak Soenardi digantikan oleh Bapak Zumrodi dari Tenggarong, yang mengenalkan kepada kami pentingnya mengenakan dasi saat bekerja. Setelah itu, kepemimpinan beralih kepada Bapak Daud Ibrahim.
Pada tahun 1985, Penulis dan keluarga pindah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan. Penulis ditempatkan di Kabupaten Takalar sebelum akhirnya dipindahkan ke Kanwil Depsos Sulsel sebagai Kabag Humas. Jabatan terakhir adalah Kabid Perlinjamsos sebelum memasuki pensiun pada tahun 2013.
Setelah memasuki masa pensiun, Penulis terlibat di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, di mana siap membantu mengembangkan Jurusan Kesejahteraan Sosial. Kala itu, Pak Dekan mengajak untuk menjadi Dosen Luar Biasa, dan peran ini masih Penulis jalani hingga saat ini.
Melihat kembali perjalanan hidup di Tanah Grogot, pada masa itu kota ini masih dikenal sebagai “Kota Mati”, kecuali daerah Kuaro karena merupakan jalur utama menuju Kalimantan Selatan.
Sebagai pendatang baru di Kota Pasir, aktivitas utama kami adalah bermain di sekitar Sungai Kandilo. Tempat ini merupakan lokasi perahu kayu yang membawa barang kebutuhan dari Kota Parepare dan kembali membawa kayu ke Sulawesi.
Kehidupan pada saat itu sangatlah sederhana, dan transportasi yang tersedia hanyalah sepeda atau sepeda motor Honda tahun 1970, yang dapat diangsur dari salah seorang pengusaha asal Banjarmasin. Meskipun demikian, gaji sebagai PNS sebesar Rp 17.950 terasa cukup untuk standar calon PNS.
Untuk mengisi waktu di luar jam kerja, saya mencoba membuka agen surat kabar dan menjadi penulis lepas atau koresponden. Koran-koran yang ada saat itu adalah Surat Kabar Mingguan Maranti dan Surat Kabar Mingguan (B/S Jaya) yang dipimpin oleh Bapak Arbain di Samarinda.
Bagaimana kelanjutan kisah ini? Nantikan cerita selanjutnya… bersambung.

