SYAKHRUDDIN.COM – Setelah beroperasi selama 70 tahun, Toko Gunung Agung mengumumkan penutupan semua cabangnya. Toko buku legendaris ini tidak lagi mampu mengatasi kerugian operasional yang terus meningkat.
PT Gunung Agung Tiga Belas, perusahaan yang memiliki Toko Gunung Agung, telah merencanakan penutupan secara bertahap untuk kelima toko yang tersisa pada tahun ini.
Pada masa kejayaannya, toko ini memiliki 34 cabang, namun kini hanya tersisa lima cabang. Penutupan ini akan dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Manajemen Toko Gunung Agung menjelaskan bahwa penutupan toko ini menjadi keputusan yang sulit, terutama setelah pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020.
Sejak saat itu, Toko Gunung Agung telah melakukan efisiensi dengan menutup beberapa cabang di berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Gresik, Magelang, Bogor, Bekasi, dan Jakarta.
PT Gunung Agung Tiga Belas menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelangsungan usahanya dengan penutupan toko ini.
Meskipun demikian, manajemen berharap bahwa langkah ini dapat membantu mengurangi kerugian dan mempertahankan sisa-sisa bisnis yang masih berjalan.
Catatan kerugian Toko Gunung Agung telah tercatat sejak 2010, di mana perusahaan mengalami kerugian bersih sebesar Rp 6,799 miliar. Pada akhir 2011, perusahaan memprediksi kerugian masih berada di kisaran Rp 6 miliar.
Perusahaan ini awalnya menjadi perusahaan publik dengan nama PT Toko Gunung Agung Tbk (TGKA) pada tanggal 6 Januari 1992, namun kemudian berubah menjadi perusahaan batu bara bernama PT Permata Prima Sakti Tbk pada tahun 2013.
Bisnis buku kemudian dikelola oleh PT GA Tiga Belas. Sayangnya, PT Permata Prima Sakti Tbk hanya bertahan selama 4 tahun sebelum akhirnya delisting dari bursa pada tanggal 15 November 2017.
Sejarah Toko Gunung Agung dimulai pada tahun 1953 ketika almarhum Tjio Wie Tay (1927-1990), yang lebih dikenal sebagai Haji Masagung, mendirikan sebuah kios sederhana di Jakarta Pusat yang menjual buku, surat kabar, dan majalah dengan nama Thay San Kongsie.
Seiring dengan pertumbuhan bisnis yang semakin pesat pada masa awal kemerdekaan, Haji Masagung mendirikan perusahaan baru yang fokus pada penerbitan dan impor buku, dengan nama Firma Gunung Agung.
Perusahaan terus berkembang berkat dukungan dari penyair, penulis, sarjana, dan wartawan. Meskipun Indonesia masih menghadapi banyak kesulitan sebagai negara yang baru merdeka, Haji Masagung menjadi pionir dalam membuka wawasan bangsa melalui buku.
Pada tahun 1954, ia mengorganisir pameran buku pertama di Indonesia yang sangat diapresiasi oleh masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Haji Masagung secara bertahap meningkatkan standar dan kualitas perusahaan, menjadikannya salah satu nama terkemuka dalam dunia perbukuan di Indonesia.
Dengan tujuan menjadi pemimpin pasar di negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Gunung Agung telah mengalami perjalanan panjang sejak didirikan oleh Haji Masagung pada tahun 1953 di Jalan Kwitang, Jakarta.
Hingga saat ini, kantor pusat perusahaan masih beroperasi di alamat yang sama.
Perusahaan terus berkembang dengan memperluas lini produknya, termasuk alat tulis, kebutuhan sekolah, barang hias, perlengkapan olahraga, alat musik, otomasi kantor/peralatan, dan produk teknologi tinggi.
Pada tahun 2018, perusahaan mengoperasikan 14 toko di 10 kota besar di pulau Jawa dengan total luas penjualan lebih dari 28.000 meter persegi. Dari jumlah itu, 20 toko terletak di wilayah Jakarta Raya (sdn)
