SYAKHRUDDIN.COM – Berbagai upaya dilakukan dalam meningkatkan imun di era pandemi Copid dewasa ini, tak terkecuali para jamaah Masjid Besar Al-Abrar Makassar.
Salah upaya dilakukan, setelah sholat subuh, lanjut ke Warkop Sejati 99 di bundaran Pa’Baeng-Baeng.
Sebuah kedai kopi yang posisinya strategis, karena terletak di sudut kiri jalan lingkar, antara Jalan Veteran Selatan, Sultan Alauddin dan lingkar Kumala.
Warkop asuhan H.Syahran dari Surabaya, memiliki aroma khas, perpaduan antara Kopi Dottoro dan kopi khas Enrekang, sehingga mempunyai aroma khsusus yang siap di seruput di pagi hari.
Pagi hari ini Kamis (12/8/21) biasanya dengan Ustaz Guntur Mas’ud, akan tetapi setiap Senin-Kamis melaksanakan “Shaum” maka hari ini hanya seorang diri, menyeruput kopi, sembari membuat naskah tulisan yang memanfaatkan jaringan wifi yang sangat lancar.
Sejenak alur fikiran kembali ke suasana masa kecil saat masih tinggal di Jalan Kelinci, dulu namanya Jalan SS., atau disebut “Agang Se’re” Saat itu masih duduk di SD Negeri Labuang Baji.
Kala itu, Ayah Penulis, H. Dobolo Dg Nassa (DN) salah seorang pengusaha sukses yang memiliki mobil truk, tertulis di samping kiri truknya, NS Limbung, artinya mobil truk itu milik Nassa Limbung.
Ada tiga pengusaha sukses di eranya (tahun 60 – 72) diantaranya Haji Mongka, Haji Jalani dan Haji Nassa.
Belakangan datang Perusahaan PT Budi Bakti Sulawesi, ingin membeli kawasan yang strategis di Jalan SS atau Jalan Kelinci sekarang. Sang Ayah menjual lahannya dan membeli lahan baru di Jalan Andi Tonro I, masuk dalam kawasan perkampungan “Lempong”
Tahun 1963 daerah ini masih termasuk rawa-rawa yang sangat perawan, Ayah saya membuat pembakaran kapur, karena lahannya luas maka lokasi ini menjadi tempat bermain sepakbola anak-anak.
Masa kecil yang indah ternyata tak lama, karena sejak Ayah kawin dengan almarhum Mo’minang Dg Tarring, Penulis digeser dan hidup di rumah Nenek yang letaknya sekarang di sekitar rumah Mamanya Ratih (Alias Balang Caddia).
Disanalah hidup bersama Nenek Baji, Nenek Sibo, Nurtia Almarhumah dan Penulis, belakang dipindahkan sekolah ke Limbung dari Kelas I s/d Kelas III SMP Muhammadiyah Limbung, dan tamat tahun 1972.
Baru saja fikiran dan lamunanku berkelana ke masa lalu, tiba tiba ada pelanggan kopi yang datang, seraya mengucapkan salam
“Assalamu Alaikum War Wab” segera menjawabnya “Waalaikum salam War Wab”
Akhirnya lamunan buyar dan kembali menyeruput kopi susu dengan penuh keceriaan.
Dalam suasana kekinian, tiba-tiba teringat “Kios Dua Mei” yang dikelola Syawal Agussentosa alias Agus, dengan membuka kounter pulsa untuk melayani para pelanggan di Jalan Andi Tonro I dan sekitarnya.
Sekarang bukan lagi pulsa, malah meningkat ke penjualan rokok dengan berbagai macam merek dan yang terbaru adalah penjualan “GAS Pertamina”
Alhamdulillah, untuk memperlancar usahanya, ditunjuk Sdr. Hamka, cucunya Dg Sibo yang kebetulan di PKH, untuk mengelola toko pulsa, tentunya di bantu oleh pemilik nama asli toko dua mei dulu, Hj. Nurlia Daeng Puji.
Seruput kopi pagi hampir habis, ketika jam menunjukkan Pukul 07.00 Wita, segera selesaikan pembayaran harga kopi dan tancap gas kembali ke rumah, karena ada sesuatu yang mendesak untuk di buang.
Sakit mendesaknya sehingga gas motor di putar kencang, begitu memasuki ruang pagar langsung ke Pos satu, tempat dimana Arfani sering mencuci.
Disanalah semua diselesaikan dengan ikhlas,setelah selesai kembali terasa bahagia, sebagaimana bahagianya saat membaca tulisan ini, mariki di ….. !!!
Makassar, 12 Agustus 2021
