SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ada tanggal yang sekadar kita lewati, tetapi ada pula tanggal yang seakan mengetuk pintu ingatan. Sabtu, 26 September 2026, datang sehari setelah kabar duka menyelimuti keluarga besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI).
Ketua LLI Pusat, H. Bachtiar Chamsyah, telah berpulang. Maka angka 26 September tahun ini terasa berbeda: kalender tetap berjalan, matahari tetap terbit.
Tetapi ada satu sosok yang tidak lagi hadir dalam pertemuan, tidak lagi duduk di antara para pengurus, dan tidak lagi menyampaikan arahan dengan suara yang selama ini kita kenal.
Menariknya, tanggal 26 September juga memiliki catatan sejarah tersendiri. Di Indonesia, tanggal ini dikenal sebagai Hari Statistik Nasional, berkaitan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik.
Seolah-olah tanggal ini mengingatkan kita bahwa perjalanan manusia pun sesungguhnya memiliki “statistik” yang tidak pernah tercatat secara sempurna: berapa banyak tangan yang pernah kita ulurkan,.
Berapa banyak orang yang pernah kita bantu, berapa banyak keputusan yang pernah kita ambil demi kepentingan orang lain, dan berapa banyak kebaikan yang diam-diam kita tinggalkan.
Sejarah dunia pun mencatat sejumlah peristiwa penting pada 26 September. Pada 1905, Albert Einstein menerbitkan salah satu makalah penting yang memperkenalkan teori relativitas khusus.
Pada 1960, terjadi debat televisi pertama antara John F. Kennedy dan Richard Nixon. Dan pada 1983, Stanislav Petrov mengambil keputusan yang kemudian dikenang karena ia tidak langsung mempercayai peringatan sistem yang ternyata keliru tentang serangan rudal nuklir.
Tetapi bagi keluarga besar LLI, sejarah 26 September 2026 mungkin kelak akan dibaca dengan cara yang berbeda. Ia akan menjadi tanggal ketika kita belajar bahwa jabatan mempunyai batas, tetapi pengabdian tidak.
Seorang ketua dapat berganti. Sebuah kepengurusan dapat berakhir. Sebuah nama dapat suatu hari tertulis dalam lembar sejarah.
Tetapi gagasan tentang penghormatan kepada lanjut usia, perlindungan martabat manusia, kepedulian sosial, dan perjuangan agar para lansia tetap memperoleh ruang yang layak dalam kehidupan bangsa, tidak boleh ikut dimakamkan.
Di sinilah kepergian H. Bachtiar Chamsyah,SE menjadi renungan bagi kita yang masih diberi kesempatan melanjutkan perjalanan.
Kematian seorang pemimpin bukanlah akhir dari organisasi. Justru ia menjadi ujian: apakah orang-orang yang ditinggalkan mampu meneruskan nilai yang pernah diperjuangkannya?
Bagi LLI Sulawesi Selatan, duka tidak cukup hanya dengan karangan bunga, ucapan belasungkawa, atau doa yang dipanjatkan. Duka yang paling bermakna adalah ketika kehilangan seorang pemimpin justru melahirkan tekad untuk bekerja lebih sungguh-sungguh.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diukur dari berapa lama ia duduk di kursi kepemimpinan. Manusia dikenang dari berapa banyak kehidupan yang disentuhnya dengan kebaikan.
Hari Sabtu ini, mari kita tundukkan kepala sejenak. Kita kirimkan doa untuk almarhum H. Bachtiar Chamsyah, Ketua LLI Pusat.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebajikannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan tempat peristirahatannya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda : Pergi ke taman memetik melati, Harumnya tinggal di dalam jambangan. Boleh jasad pergi meninggalkan bumi, Namun pengabdian hidup dalam kenangan.
Selamat jalan, Bapak H. Bachtiar Chamsyah.
Sementara itu di Kabupaten Gowa; Ketika Kekuasaan Berhadapan dengan Hukum;
Di tanah Gowa yang hanya selangkah dari Makassar, kabar hukum kembali mengetuk pintu kekuasaan.
Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang ditetapkan sebagai tersangka oleh Kortastipidkor Polri dalam perkara dugaan pemerasan, pungutan liar dan/atau gratifikasi yang berkaitan dengan pengurusan PBG dan perizinan lainnya.
Setelah kantor bupati dan rumah jabatan digeledah serta puluhan saksi diperiksa, perkara ini memasuki babak yang lebih serius.
Jabatan boleh tinggi, tetapi hukum tidak mengenal lantai atas dan lantai bawah. Ketika dugaan penyimpangan menyentuh ruang pelayanan publik, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama seseorang, melainkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Gowa hari ini seperti sedang memegang cermin: siapa pun yang memandangnya harus berani melihat wajah kekuasaan apa adanya. Proses hukum harus berjalan dengan bukti, ketelitian dan asas praduga tak bersalah;
sebab penetapan tersangka bukanlah vonis pengadilan. Untuk saat ini, penyidik menyatakan belum melakukan penahanan terhadap Bupati Gowa karena yang bersangkutan dinilai masih kooperatif.
Tetapi pesan moralnya tetap menggigit: kekuasaan adalah amanah, bukan ruang untuk mengambil keuntungan; perizinan adalah pelayanan, bukan pintu transaksi.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memegang jabatan, tetapi bagaimana jabatan itu dipertanggungjawabkan di hadapan hukum dan rakyat
Berbeda pula; Ketika Pagar Lapas Menyimpan Tanda Tanya; Pagar kayu boleh menutup pandangan, tetapi tidak selamanya mampu menyembunyikan kenyataan.
Sidak Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong, 23 September 2026, justru membuka cerita yang mengusik rasa keadilan: hunian yang disebut memiliki fasilitas setara apartemen, lengkap dengan sofa, televisi, kulkas, hingga fasilitas kebugaran dan simulator golf.
Lebih tajam lagi, tim Ombudsman mengaku sempat tidak memperoleh akses penuh ke blok hunian meski membawa surat tugas resmi.
Di balik jeruji yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan di hadapan hukum, jangan sampai tumbuh “kelas-kelas” kenyamanan berdasarkan kemampuan membayar.
Kini Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto turun langsung melakukan sidak pada Jumat, 25 September 2026, setelah temuan itu mencuat ke ruang publik.
Pemerintah juga membuka ruang agar temuan tersebut diperiksa secara terbuka, sementara Ombudsman meminta evaluasi menyeluruh. Media sosial pun ikut memanaskan percakapan:
Kalau pengawas saja sempat kesulitan masuk, lalu siapa yang sebenarnya sedang menjaga siapa? Lapas bukan hotel, bukan pula tempat tumbuhnya privilese tersembunyi. Di sana hukum harus tetap menjadi pagar tertinggi, bukan pagar yang justru menutup mata dari ketidakberesan.
Disisi lain; Masjid semestinya menjadi rumah ketenangan, tempat orang menitipkan sedekah dan amanah untuk kemaslahatan umat. Namun kabar dari Makassar ini membuat hati tercekat:
Seorang pria diduga membobol brankas masjid dan membawa uang yang bukan haknya. Lebih memprihatinkan lagi, uang tersebut disebut digunakan untuk judi online dan narkoba. D
Di balik pintu masjid yang biasanya menjadi tempat orang menundukkan kepala, terjadi tindakan yang justru mencederai kepercayaan jamaah.
Kasus ini bukan sekadar soal uang yang hilang. Ia adalah alarm tentang rapuhnya amanah ketika kebutuhan duniawi, kecanduan judi, dan narkoba bertemu dalam satu lingkaran.
Brankas bisa dibobol, tetapi yang lebih sulit dipulihkan adalah kepercayaan. Masjid perlu memperkuat pengamanan dan tata kelola keuangan, sementara masyarakat jangan berhenti pada kemarahan—jadikan peristiwa ini pelajaran agar rumah ibadah tetap menjadi ruang suci yang aman, transparan, dan dipercaya umat.
Akhirnya kita diminta prihatin terhadap Kemanusiaan di Tengah Kekeringan Kalimantan Barat;
Kalimantan Barat sedang berhadapan dengan wajah alam yang keras. Tanah merekah, sumber air menipis, panas menggantung di langit, sementara kehidupan masyarakat dipaksa bertahan dalam dahaga yang tak mengenal kompromi.
Tetapi di tengah kekeringan itu, ada satu hal yang tak boleh ikut mengering: kemanusiaan. Ketika air harus dicari dengan susah payah, kepedulian justru semestinya mengalir lebih deras.
Sebab bencana bukan sekadar tentang alam yang kehilangan air, tetapi juga tentang manusia yang diuji, apakah masih sanggup berbagi ketika dirinya sendiri sedang kekurangan.
Kekeringan boleh membuat tanah retak, tetapi jangan sampai ia membuat hati manusia ikut pecah dan mengeras. Di saat sumur menyusut dan ladang menunggu hujan, tangan yang mengulurkan air menjadi lebih berharga daripada kata-kata yang panjang.
Relawan, warga, pemerintah, dan siapa pun yang masih memiliki kepedulian, sesungguhnya sedang menanam benih kemanusiaan di tanah yang tandus.
Sebab sebuah negeri tidak hanya diukur dari seberapa deras hujannya turun, tetapi dari seberapa deras kasih sayang mengalir ketika hujan belum juga datang. Kalimantan Barat mungkin sedang kekurangan air, tetapi jangan biarkan Indonesia kekurangan empati.
Sebuah Pantun Penutup Untuk Anda nikmati; Pergi ke hulu membawa kendi, Singgah sebentar di tepi telaga. Bila kemarau menguji diri, Jangan biarkan kemanusiaan sirna.
Pembaca setia MoKa; Sampai di sini dahulu jumpa kita. Insyaallah, esok hari, bila tak ada aral melintang, Mozaik Kehidupan kembali hadir menyapa, mengisi gawai di tangan Anda dengan sepotong kisah, secuil renungan, dan catatan kecil tentang kehidupan.
Terima kasih atas perhatian, waktu, dan kesetiaan Anda menjadi pembaca MoKa. Bagi Penulis, setiap pembaca bukan sekadar angka, melainkan spirit yang menyalakan kembali lentera kata, agar tangan ini tetap menulis meski usia telah memasuki senja.
Sebab selama masih ada cerita, selama masih ada yang membaca, selama hati masih mampu merasa,menulis tak pernah benar-benar mengenal kata tua.