SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kembali kita bersua dalam suasana sehat wal afiat. Selamat menunaikan ibadah puasa hari ke-14 Ramadan 1447 Hijriah. Tanpa terasa, bulan suci telah menapaki separuh perjalanan.
Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Malam pertama penuh janji. Masjid melimpah jamaah. Doa-doa mengalir deras seperti sungai yang baru dilepas dari bendungan.
Namun pertengahan adalah ujian yang sunyi. Beduk sahur masih bertalu, lampu-lampu masjid tetap menyala, tetapi pertanyaan sederhana menggantung di langit hati: masihkah semangat kita seterang malam pertama?
Pertengahan Ramadan adalah cermin. Ia memantulkan wajah-wajah yang dahulu berjanji untuk lebih sabar, lebih jujur, lebih dermawan. Ada yang tetap tegak dalam istiqamah.
Ada pula yang mulai goyah oleh rutinitas. Sebab puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjuangan menahan diri untuk tidak kembali pada kebiasaan lama yang pernah kita sesali.
Di titik inilah makna Ramadan diuji. Bukan pada awal yang penuh tekad, tetapi pada pertengahan yang rawan lengah. Waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan kita.
Jika separuh telah berlalu, separuh lagi masih terbentang. Masih ada malam yang bisa dipanjangkan dengan doa. Masih ada tangan yang bisa diringankan untuk berbagi.
Masih ada hati yang bisa dilunakkan oleh istigfar. Ramadan tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kesungguhan.
Lontarak Makassar mengingatkan:
Uru-uru na ji na sengge
Na mang rumbang balla batu
Sengge pole
Ta sikali-kali mami
Maknanya sederhana namun dalam: hanya di awal tampak bersemangat, di akhir tinggal sesekali saja. Sebuah nasihat agar bara tak padam sebelum waktunya. Dan yang paling perlu dijaga di pertengahan ini bukan sekadar stamina tubuh, melainkan nyala iman, agar tetap menyala hingga takbir kemenangan benar-benar berkumandang.
Di Kota Makassar, suasana kebersamaan Ramadan terasa dalam buka puasa bersama yang digelar Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Selatan, Mayjen (Purn.) H. Andi Bau Sawa, di rumah bersejarah milik Andi Mappanyukki di Jalan Kumala, Jongaya.
Rumah panggung yang menyimpan jejak sejarah itu kembali menjadi ruang silaturahmi, mempertemukan tokoh dan masyarakat dalam satu hamparan sajadah kebersamaan.
Pengantar buka puasa disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Prof. Drs. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D. seorang guru besar sosiologi yang dikenal luas sebagai penulis buku Melawan Takdir. Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang membangun peradaban dengan nilai dan keteladanan.
Namun di sudut lain negeri ini, kabar tak sedap kembali mengetuk nurani. Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan di Pekalongan, Jawa Tengah.
Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, diamankan dalam penyelidikan tertutup. Politik dan kekuasaan selalu berada di persimpangan antara amanah dan godaan.
Jabatan adalah kehormatan, tetapi juga ujian. Publik kembali diingatkan bahwa integritas bukan slogan, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga setiap saat.
Sementara itu, Angin politik juga berembus dari rumah besar berlambang pohon beringin. Nama Bahlil Lahadalia disebut-sebut dalam pusaran isu pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Golongan Karya.
Isu berlari lebih cepat dari kepastian. Di ruang-ruang diskusi, publik bertanya: benarkah ada pergantian? Ataukah ini sekadar riak dalam dinamika partai yang telah melewati begitu banyak musim kekuasaan?
Golkar bukan partai kemarin sore. Ia telah menyaksikan pasang-surut zaman. Setiap isu pergantian ketua umum selalu membawa tafsir tentang regenerasi, tentang konsolidasi, tentang arah politik ke depan. Namun dalam politik, keputusan bukan sekadar soal figur. Ia adalah soal mekanisme, legitimasi, dan momentum.
Hingga kabar resmi diumumkan, publik hanya bisa menanti. Sebab dalam politik, sebagaimana dalam hidup, tidak semua bisik-bisik adalah kenyataan. Ada yang sekadar gema, ada yang benar-benar pertanda.
Dan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kabar yang lebih memilukan mencuat ke permukaan. Seorang pimpinan pondok pesantren, Muhammad Taufik Firdaus, ditahan atas dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati.
Peristiwa yang terjadi berulang itu menjadi luka mendalam, bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Kekuasaan tanpa moral adalah bahaya. Otoritas tanpa amanah adalah ancaman. Ramadan mengajarkan kesucian jiwa, tetapi realitas mengingatkan bahwa kejahatan bisa menyusup di ruang yang mestinya suci. Semoga hukum berjalan tegak. Dan semoga korban memperoleh keadilan serta pemulihan yang layak.
Sampai disini jumpa kita hari ini, dan menutup naskah mozaik, kami persembahkan sebait pantun penutup :
Pergi ke sawah menanam padi,
Padi menguning di tepi kali.
Ramadan tinggal separuh lagi,
Jangan biarkan iman berlari.
Sampai jumpa di edisi berikutnya. Tetap jaga hati, jaga negeri, dan jaga nyala Ramadan di dalam diri.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana


ALHAMDULILLAH