SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam ke-12 Ramadan kembali menurunkan keteduhan di beranda Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar.
Jamaah terus mengalir dari berbagai lokasi, memenuhi saf-saf shalat, merajut kebersamaan dalam ibadah tarawih yang khusyuk dan penuh harap.
Usai shalat Isya, panitia pelaksana Putra Dirga menyampaikan laporan keuangan serta ucapan terima kasih kepada para ibu yang telah mengirimkan kue-kue untuk buka puasa.
Sebuah bentuk syukur atas partisipasi jamaah yang setia berbagi. Malam itu, panitia juga memperkenalkan penceramah, Ustaz Drs. H. Alimuddin Sunusi, yang akan membawakan tausiyah bertema “Menghindari Riya dan Penyakit Hati.”
Dengan salam pembuka yang lembut, Ustaz Alimuddin langsung mengajak jamaah menyelami salah satu penyakit paling halus namun berbahaya: riya.
Ia menuturkan, riya kerap hadir ketika seseorang beramal, lalu memamerkannya, meminta difoto, dan mempublikasikannya ke media sosial yang kini sering disebut pencitraan. Dalam bahasa Makassar, ini dikenal dengan istilah : pamer.
Lebih jauh, ia mengingatkan tentang perilaku beribadah hanya demi dilihat manusia. Shalat yang disertai helaan napas berlebihan, atau sikap yang dibuat-buat, termasuk bagian dari penyakit hati.
Ia mengutip peringatan Al-Qur’an: “Wailul likulli humazatil lumazah” — kecelakaanlah bagi mereka yang gemar mencela dan merendahkan, termasuk dalam bentuk pamer dan riya.
Ustaz Alimuddin juga mengajak jamaah merenung tentang makna keikhlasan. Dari 114 surah dalam Al-Qur’an, ada dua yang unik: Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.
Menariknya, kata “fatihah” dan “ikhlas” tidak disebutkan di dalam ayat-ayatnya. Sebuah isyarat bahwa ikhlas sejati tak perlu diumumkan, apalagi dipamerkan. Ia cukup hadir diam-diam, bersemi dalam relung hati.
Riya, lanjut beliau, tak hanya muncul dalam bentuk ucapan, tetapi juga lewat cara berpakaian dan bersikap yang berlebihan. Orang Makassar menyebutnya tale-talekang, tampil mencolok demi menarik perhatian.
Bahkan, fenomena di kalangan jamaah haji pun disinggungnya: dua jam sebelum mendarat di Bandara Internasional Makassar, sebagian jamaah, khususnya ibu-ibu, mulai bersolek dan mengenakan seluruh perhiasan emas yang dimiliki. Sebuah kebiasaan yang tampak sepele, namun berpotensi menumbuhkan benih riya.
Ramadan, tegas Ustaz Alimuddin, adalah bulan pengampunan, bulan rahmat, dan bulan pembebasan dari api neraka. Karena itu, menjaga hati dari riya dan penyakit batin lainnya menjadi bagian penting dari ibadah. Tanpa keikhlasan, amal kehilangan ruhnya.
Menjelang akhir tausiyah, ia memanjatkan doa, memohonkan kesehatan, keberkahan, dan kekuatan bagi seluruh jamaah agar mampu menunaikan ibadah puasa hingga akhir Ramadan.
Malam kian larut. Jamaah pun pulang dengan langkah ringan, membawa pesan sunyi yang menggema di dada: bahwa ibadah sejati bukan tentang dilihat manusia, melainkan tentang disaksikan oleh Tuhan (sdn)