SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi belum sepenuhnya membuka matanya ketika hiruk-pikuk memecah ketenangan kawasan Jalan Andi Tonro I, Stapak I, Kelurahan Pa’Baeng-Baeng.
Usai salat Subuh, jamaah yang melangkah pulang justru disambut pemandangan yang mencengangkan: seorang pemuda telah dikepung massa, menerima bogem mentah dan tinju sebagai luapan amarah warga.
Pemuda itu bernama Aldi. Ia mengaku tinggal di kawasan pekuburan Andi Tonro. Pagi itu, Aldi tertangkap basah mencuri ayam milik Dg Nyonri, warga ORT 001 ORW 07. Aksi yang diduga bukan kali pertama itu memicu emosi warga. Suasana pun memanas, massa berkerumun, dan amukan nyaris tak terbendung.
Menurut info yang berhasil dihimpun, pelaku bernama Ardiansyah Alias Aldi (20) pekerjaan buruh harian tetap beralamat di Jalan A Tonro VI Lorg 6. Pelaku tinggal bersama neNEKNYA bernama. Aldi yang melihat ada peluang, berhasil mencuri 10 ekor ayam dan sebuah tabung gas milik Dg Nyonri beralamat di Jalan Bontoduri II Makassar, info lain menyebutkan, pelaku baru 5 hari lepas dari tahanan.
Melihat situasi yang kian genting, Ketua ORW 07, Peltu (Purn) Andi Syafri Dg Gassing, bergerak cepat. Dengan dibantu warga setempat, ia mengamankan Aldi dari kepungan massa dan membawanya ke rumah Pak Amir, demi mencegah jatuhnya korban lebih parah.
Sambil menenangkan keadaan, Andi Syafri segera menghubungi aparat keamanan. Tak lama berselang, Babinsa Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, Koptu Ramli, tiba di lokasi.
Kehadirannya meredakan ketegangan. Salah seorang warga pun menghubungi Polsek Tamalate. Warga yang semakin banyak berdatangan diimbau agar tidak main hakim sendiri.
Pelaku akhirnya diangkut dengan mobil patroli menuju Polsek Tamalate di Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, bersama barang bukti. Perlahan, kerumunan pun bubar, dan warga kembali ke rumah masing-masing.
Namun, pagi itu belum sepenuhnya reda dari riuh. Di sekitar Masjid Besar Al-Abrar, petugas keamanan masjid, Nurdin Dg Siajang, kembali sigap menjalankan tugas.
Ia mengamankan seorang anak yang kedapatan membawa pistol mainan. Anak tersebut diduga terlibat aksi saling kejar dan bentrok kecil dengan kelompok lain dari sektor timur, dekat persimpangan A.P. Pettarani.
Aksi mereka sempat melintas di depan masjid, memicu kekhawatiran jamaah.
Nurdin segera melucuti pistol-pistolan dari tangan anak itu dan mengamankan situasi. Langkah cepat tersebut berhasil meredam potensi keributan yang lebih besar.
Pagi pun kembali menemukan ketenangannya. Jamaah Masjid Besar Al-Abrar pulang dengan hati lebih lapang, sementara kawasan Andi Tonro berangsur sunyi. Subuh yang sempat terusik, akhirnya kembali pada hakikatnya: menghadirkan damai (sdn)