SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca Mozaik Kehidupan yang penulis sayangi,
“Masih menulis, Om? Bukankah usia tak lagi muda?” Pertanyaan itu meluncur pelan, seperti angin sore yang menyentuh tanpa melukai.
Tidak menghakimi, hanya ingin tahu. Saya tersenyum, Bagi saya, menulis bukan soal usia, melainkan cara menyapa dunia, menjaga silaturahmi, sekaligus mengabarkan bahwa hingga pagi ini, Allah masih berkenan menitipkan kesehatan.
Pagi itu, jari-jari baru saja menari di atas papan ketik ketika sunyi mendadak pecah.
Krriiing… krriiing… Sebuah pesan masuk. Singkat, lirih, namun sarat harap
“Om, mohon doakan ibu saya, Dra. Hj. St. Aidah Dg Ngai, M.AP, Beliau sedang dirawat di RS Padjonga Dg Ngalle karena gangguan jantung.”
Nama itu bukan sekadar deretan huruf. Ia adalah Ketua LLI Kabupaten Takalar, seorang ibu bagi banyak lansia. Selama ini, beliaulah yang lebih sering menguatkan, mendoakan, dan menyemangati orang lain. Pagi itu, giliran beliau yang membutuhkan doa.
Pesan itu segera menjelma gelombang. Ia menyebar ke grup-grup lansia Sulawesi Selatan, ke sahabat-sahabat Tagana Indonesia. Doa-doa mengalir tanpa aba-aba, tanpa pamrih. Ada yang menelpon langsung. Ada pula yang cukup menundukkan kepala, khusyuk dari kejauhan.
Anaknya menjawab dengan suara tertahan. Sang ibu masih diperiksa dokter, infus terpasang, namun harapan belum padam. Di situlah saya kembali percaya: doa adalah jaringan sosial paling tua dan paling kuat di dunia, tak membutuhkan sinyal, hanya hati yang terhubung.
Di luar sana, langit Indonesia masih setia menurunkan airnya. BMKG mengabarkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan mengguyur negeri ini sepekan ke depan. La Niña lemah ikut menyuplai uap air, suhu laut yang hangat mempertebal awan.
Namun bagi sebagian orang, hujan bukan sekadar cuaca. Ia adalah ujian bagi rumah reyot yang bocor di sana-sini, bagi sawah yang menunggu panen dengan cemas, dan bagi relawan yang tetap siaga—entah hujan atau terik.
Di suDut Pantai Tanjung Bayang, Jumat nanti, para lansia Sulawesi Selatan akan berkumpul. Bukan sekadar arisan atau Jumat Berkah, melainkan perjumpaan hati, saling memaafkan sebelum Ramadan mengetuk pintu.
Di sana pula akan ditanam mimpi-mimpi kecil yang berumur panjang:
Sekolah Lansia, hasil ikhtiar bersama SWIPAM Muda UIN Alauddin Makassar. Dari rahim gagasan itu pula lahir LANSIGANA—Lanjut Usia Siaga Bencana. Sebab usia boleh menua, tetapi kepedulian tak pernah pensiun.
SWIPAM—Social Worker Indonesia dalam Pengembangan Masyarakat, bukan sekadar organisasi profesi. Ia adalah kumpulan orang-orang yang percaya bahwa perubahan sosial harus berakar di masyarakat. Dipimpin Prof. Dr. Jusman Iskandar, M.S., SWIPAM terus menyiapkan pekerja sosial yang unggul, etis, dan adaptif.
Baru-baru ini, di Bandung, SWIPAM menggelar Konferensi Nasional dan Anugerah Social Worker Indonesia Teladan Berprestasi 2025. Hadir pula para akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, sebuah penanda bahwa kerja sosial dan dunia akademik sedang berjalan beriringan, saling menguatkan.
Pada kesempatan tersebut, Prof. DR. Syamsuddin. AB, S.Ag, S.Sos, M.Pd berhasil meraih predikat sebagai Pekerja Sosial Berprestasi tahun 2025, di kalangan kerabatnya sering di sapa Prof. IAN menjabat sebagai Ketua SWIPAM Provinsi Sulawesi Selatan, acara pernyerahan selain disaksikan Dekan FDK juga Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, DR.Syafri Arief dan Nyonya yang kebetulan ada di Kota Bandung.
Sementara itu, dari ruang-ruang kekuasaan, kabar lain datang. KPK mengungkap praktik pemerasan izin tenaga kerja asing, bahkan dilakukan setelah masa pensiun. Uang haram itu berubah rupa menjadi kendaraan, disimpan atas nama kerabat.
Berita ini pahit, namun perlu dibaca, Agar kita ingat: jabatan adalah amanah. Ketika ia dikhianati, yang terluka bukan hanya hukum, tetapi juga kepercayaan publik.
Di Bandung, Teras Cihampelas kini tinggal kenangan. Dulu ia lahir dari gagasan besar—trotoar diangkat ke langit, ruang publik ditata, kreativitas diberi panggung. Ia sempat dipuja, menjadi ikon. Kini, ia menua sebelum waktunya. Kumuh, sepi, dan ditinggalkan. Seakan berbisik pelan: inovasi tanpa perawatan akan kalah oleh waktu.
Di Makassar, mimpi lain sedang dirajut. Stadion Untia yang kelak menjadi ruang lahirnya talenta muda—masih berupa gambar, DED, dan dokumen lelang. Pembangunan fisiknya direncanakan mulai 2026, berlapis proses, bertahun pengerjaan. Namun setiap stadion besar selalu bermula dari keyakinan kecil: bahwa anak-anak kampung juga berhak memiliki lapangan yang layak untuk bermimpi.
Lalu, dari pelosok Sulawesi Tengah, sebuah video menyayat hati menyergap nurani. Jenazah Pirna (19), ibu muda yang baru melahirkan, dipulangkan dengan sepeda motor menembus gelap malam di Tojo Una-Una. Tubuhnya disangga papan kayu, diikat tali tambang, berguncang di atas jalan berlumpur.
Pirna melahirkan di kebun, Pendarahan hebat merenggut kekuatannya. Saat hendak dirujuk, satu-satunya ambulans sedang membawa pasien lain. Waktu terbuang. Pirna menghembuskan napas terakhir di tengah perjalanan.
Mobil jenazah tak sanggup menembus tanjakan licin Gunung Patah. Jalan rusak menjelma jurang harapan.
Di Kecamatan Ulubongka, jalan bukan sekadar akses, ia penentu hidup dan mati.
Angka pun berbicara getir: Sulawesi Tengah berada di zona merah kematian ibu. Secara nasional, ribuan nyawa ibu melayang setiap tahun—bukan karena takdir semata, tetapi karena akses kesehatan yang terlambat. Di sanalah kita tersentak, Kemajuan sering berhenti sebelum tiba di depan rumah mereka yang paling membutuhkan.
Minggu ini, Mozaik Kehidupan kembali mengajarkan satu hal sederhana:
hidup bukan hanya tentang kabar besar, tetapi juga pesan kecil di pagi hari; tentang doa yang berpindah dari satu gawai ke hati lainnya; tentang hujan yang menguji; dan tentang harapan yang, meski rapuh, tak pernah benar-benar padam.
Selamat beristirahat di hari Minggu. Mari terus menulis, membaca, dan peduli selama kita masih diberi waktu.
Salam hangat, Syakhruddin Tagana



