SYAKHRUDDIN.COM – Nama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, masuk dalam bursa figur kandidat calon wakil presiden (cawapres) pendamping Ganjar Pranowo dalam Pilpres 2024.
Nasaruddin Umar sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Agama pada periode 2011 hingga 2014 di era pemerintahan Presiden SBY.
Dia juga dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang – Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Pesantren As’adiyah adalah salah satu Pondok Pesantren tertua di Sulawesi Selatan yang berpusat di Sengkang, Wajo.
Bagaimana tanggapan dari partai pendukung Ganjar Pranowo terhadap kemunculan nama Nasaruddin Umar? Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), Utut Adianto, menilai bahwa Nasaruddin Umar memiliki potensi menjadi sosok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia di masa depan.
Hal itu disampaikan oleh Utut Adianto sebagai tanggapan atas kemunculan wacana nama Nasaruddin Umar sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Ganjar Pranowo, sebagaimana dilansir dilaman tribune.
Menurut Utut, sikap santun dan pemahaman agama yang dimiliki oleh Nasaruddin Umar dianggap sebagai faktor yang besar dalam menjadi pemimpin bangsa.
“Kalau pak Nasaruddin orang yang santun, besar di Masjid Istiqlal, pemahaman agamanya ya tentu sangat dibutuhkan untuk negara seperti Indonesia,” ujar Utut.
Meskipun demikian, Utut enggan untuk memberikan komentar lebih lanjut karena penentuan nama cawapres untuk Ganjar Pranowo berada di tangan Megawati Soekarnoputri, selaku Ketua Umum PDIP.
Utut menegaskan bahwa sampai saat ini Megawati masih sedang mempertimbangkan beberapa nama yang masuk dalam radar sebagai calon wakil presiden (Cawapres).
“Kalau sekarang nama-nama yang ditentukan masih banyak yang harus dipertimbangkan, tidak ada yang pasti semuanya ada di tangan beliau, baik itu plus maupun minus semuanya ada di beliau. Makanya harus dipertimbangkan,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua DPP PDI Perjuangan, Utut Adianto, memberikan tanggapannya mengenai kemungkinan nama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, masuk dalam bursa calon wakil presiden (cawapres) dari Ganjar Pranowo.
Utut menyatakan bahwa pihaknya akan menanyakan terlebih dahulu kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Hal ini dikarenakan banyak yang berkeinginan menjadi cawapres Ganjar.
“Saya baru tahu dari kamu, nanti saya akan tanyakan terlebih dahulu kepada ibu apakah itu benar.
Karena sosok cawapres ini tentu ada banyak yang berkeinginan,” ujar Utut saat diwawancarai di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Selasa 16 Mei 2023.
Utut memastikan bahwa Megawati akan segera mempertimbangkan sosok yang paling pantas untuk mendampingi Ganjar Pranowo sebagai cawapres.
“Pertimbangannya akan dilihat pada momen-momen yang paling tepat untuk menjadi pendamping bagi Pak Ganjar Pranowo,” jelas Utut.
Lebih lanjut, Utut menegaskan bahwa sosok yang akan mendampingi Ganjar Pranowo tidak akan dipilih berdasarkan balas budi. Penunjukan cawapres lebih mempertimbangkan kepentingan negara.
“Menurut saya, jika ibu mengajukan calon presiden atau calon wakil presiden, pertimbangannya bukan berdasarkan balas budi, tetapi lebih berdasarkan kepentingan terbesar bangsa. Jika saya tahu dengan pikiran seperti itu, ucapnya.
Diketahui bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, sedang mencari sosok yang cocok untuk mendampingi bacapres dari partainya, Ganjar Pranowo, dalam Pilpres 2024 mendatang.
Salah satu nama yang sering disebut-sebut sebagai calon wakil presiden (cawapres) Ganjar adalah Nasaruddin Umar.
Wakil Presiden RI Ke-10 dan Ke-12, Jusuf Kalla, juga menanggapi isu mengenai PDIP yang akan menggandeng Ganjar Pranowo dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Nasaruddin Umar.
JK menyatakan bahwa hal tersebut wajar jika PDIP menduetkan Ganjar dengan imam masjid Istiqlal tersebut. Menurut JK, indikasi tersebut menghadirkan perbedaan antara presiden dan wakilnya.
“Selalu ada indikasi antara presiden dan wakil presiden ini berbeda. Berbeda supaya kalau bisnis pasarnya lebih luas.
Jadi bukan hanya NU,” kata JK di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin15 Mei 2023.
Dia menyatakan bahwa perbedaan tersebut juga terjadi pada masa ketika JK menjadi wakil presiden dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Dulu saya dan Pak SBY, satu Jawa dan luar Jawa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, menurut JK, PDIP menginginkan wakil dari Ganjar Pranowo adalah sosok yang memiliki ciri keagamaan.
“Dan pilihan seperti Pak Nasaruddin Umar itu juga suatu hal karena sebagai partai nasional, tentu ingin wakilnya berasal dari individu yang memiliki ciri keagamaan. Itulah yang selalu terjadi,” kata JK.
“Dan mudah-mudahan itu tetap terjadi dan itu akan menambah dan memperluas, ya,” tambahnya.
Meskipun demikian, JK menegaskan bahwa siapa yang akan mendampingi Ganjar Pranowo tetap menjadi wewenang PDIP.
“Tetapi itu adalah urusan PDIP. Saya tidak ikut campur sama sekali. Saya tidak mencampuri urusan partai lain,” tegas politisi senior dari Partai Golkar tersebut (sdn/trib)
