(FILES) In this file photo taken on October 22, 2019 President Jovenel Moise sits at the Presidential Palace during an interview with AFP in Port-au-Prince, October 22, 2019. - Haitian President Jovenel Moise was assassinated on July 7, 2021, at his home by a commando, interim Prime Minister Claude Joseph announced. Joseph said he was now in charge of the country. (Photo by Valerie Baeriswyl / AFP)
SYAKHRUDDIN.COM – Presiden Haiti Jovenel Moïse tewas dibunuh dan istrinya terluka dalam serangan di rumah mereka di ibu kota Port-au-Prince, Rabu (7/7/21) dini hari waktu setempat.
Dilansir dilaman BeritaSatu, Sekelompok pria bersenjata menyerbu kediamannya sekitar pukul 01:00, menurut keterangan Perdana Menteri Claude Joseph. Dia juga mengumumkan situasi darurat sembari meminta rakyat tetap tenang.
Moïse menjadi presiden negara miskin itu sejak 2017 tetapi sering menghadapi aksi massa menuntut pengunduran dirinya.
Beberapa tahun ini negara tersebut dilanda kudeta, ketidakstabilan politik, dan kekerasan oleh geng bersenjata.
Ibu Negara Martine Moïse diterbangkan ke Fort Lauderdale, Florida, untuk menjalani perawatan, tetapi belum ada keterangan resmi tentang kondisinya.
Perdana Menteri Joseph menyebut serangan itu sebagai tindakan biadab dan barbar. Menurut keterangannya, para pelaku serangan adalah orang asing yang berbicara dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Spanyol.
Bahasa resmi di Haiti adalah Creole dan Prancis.
Sejumlah berita menyebutkan para pelaku mengenakan baju hitam dan membawa senjata kaliber tinggi dengan menyaru sebagai pasukan anti narkoba Amerika Serikat. Belum ada keterangan resmi yang membenarkan berita itu.
Pasukan keamanan Haiti memerika kediaman resmi kepresidenan di mana Presiden Jovenel Moise tewas dibunuh pada 7 Juli 2021 di ibu kota Port-au-Prince. (AFP)
Duta Besar Haiti untuk AS Bocchit Edmond mengatakan tidak mungkin pasukan anti-narkoba Amerika terlibat dalam serangan itu, dan meyakini para pelaku adalah tentara bayaran atau professional mercenaries.
Perdana menteri menegaskan para pelaku akan diburu dan diadili sembari mengklaim bahwa keamanan negara sudah terkendali.
Konstitusi Haiti menyebutkan para menteri dengan dipimpin perdana menteri mengambil alih kekuasaan ketika tidak ada presiden sampai digelar pemilu.
Yang menarik, pekan lalu Presiden Moïse menunjuk Ariel Henry sebagai perdana menteri tetapi dia belum dilantik.
Negara tetangga, Republik Dominika, menutup perbatasan dengan Haiti begitu muncul kabar pembunuhan itu.
Presiden Moïse dituduh melakukan korupsi oleh massa yang menentangnya, yang menggelar aksi demonstrasi di ibu kota dan kota-kota lain awal tahun ini.
Kubu oposisi mengatakan masa jabatan lima tahun Moïse seharusnya berakhir 7 Februari 2021, atau tepat lima tahun sejak pendahulunya, Michel Martelly, mengundurkan diri.
Namun pemilu tertunda satu tahun sejak kepergian Martelly sehingga Moïse berkeras dia masih menjabat satu tahun lagi sesuai hasil pemilu.
Pemilu legislatif yang harusnya digelar pada Oktober 2019 juga tertunda sehingga masa jabatan Moïse sekarang hanya berdasarkan dekrit.
Februari lalu Moïse mengklaim bahwa ada upaya pembunuhan terhadap dirinya untuk menggulingkan kekuasaan tetapi berhasil digagalkan.
Haiti juga kerap dilanda pertikaian antar kelompok bersenjata dan penculikan, khususnya di ibu kota, di mana ada sejumlah distrik yang ditutup demi keamanan (sumberberitasatu)
