SYAKHRUDDIN.COM – Sebuah karya jurnalistik yang ditulis seorang pendakwah ulung dari Sidrap, beliau adalah Ustaz Suf Kasman, Seorang Dosen UIN pada Fakultas Dakwah & Komunikasi, DAI, Penulis yang humanis, dalam catatan tulisan mingguannya menyorot tentang ” EMINENSI GENCATAN SENJATA: ISRAEL & HAMAS, berikut paparannya secara lengkap ;
Zionis Israel dan Hamas resmi gencatan senjata mengakhiri pertempuran berjilid-jilidnya. Rehat sejenak, sambil mengecas energi dan ikhtiar mengharap kemenangan murni. Keduanya pasti lelah menyisakan dendam membahana.
Bila molekul darah sudah mendidih di anatomi jasad sejak dulu, gelora semangat dalam sukma senantiasa berapi-api mau membakar tumpukan jerami. Sekali terjun ke medan laga, mencucur ruah menerobos pertahanan penjajah hingga tetesan darah penghabisan.
Kemerdekaan itu ceceran darah, berjuta-juta ton darah raib untuk kedaulatan tergadai. Siapa pun yang menginjak-injak “tasbih” kemerdekaan, IYAKO WIJA LAWO MOMPO’KO, NAREKKO WIJA BATU, TELLENG KO. Enyahlah engkau dari bumi persada ini, sebelum aksara beringas menjadi atraksi tontonan gratis berikutnya.
Perjanjian gencatan senjata kali ini, muncul akibat tekanan dunia internasional: Mesir, Qatar, AS, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bukan murni dari lubuk hati delegasi zionis Israel & Hamas.
Berarti ini hanyalah ilusi.
Ilusi yang menutupi perdamaian sejati.
Aku masih melihat kepingan bayangan hitam nun jauh di sana, sepertinya masih ada fase baru berkonflik lebih lanjut. Simfoni jihad masih terus menari-nari dalam atma syahwat. Tidak peduli sekujur tubuh berbuah luka bekas tembakan peluru. Selama nafas masih bersarang di anasir raga, NALEBBIRENGNGI TELLENGNGE NA SORO’ SI JONGKA’.
Gencatan senjata berjilid-jilid oleh kafilah zionis Israel & Hamas, sudah sering terlewatkan.
Untuk kesekian kalinya deputi zionis Israel & Hamas sepakat moratorium dalam kronologi sejarah klasik-moderen. Kedua awak negara tersebut mendadak riang gembira saling mengklaim kemenangannya.
Ratusan anggota Hamas parade militan di kota Gaza, sambil mengacungkan senapan serbu usai gencatan senjata diumumkan. Suara petasan dan klakson mobil milik warga terdengar bersahutan, persis konvoi akbar supporter PSM Makassar usai menumbangkan lawannya di stadion Andi Mattalatta Mattoangin, tumpah ruah se-rayon negeri.
Begitu pun di Israel Raya, usai gencatan senjata tatkala sukacitanya menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Akumulasi suara-suara gaduh juga di atraksikan warganya. Lengkingan terompet dan mercon menghebohkan kota Yerusalem, mereka berjoget ria sambil bersenandung mengikuti irama ‘Hatikva’. Tak ketinggalan pesta kembang api menghiasi langit Lazuardi, mirip perayaan malam tahun baru di Anjungan pantai Losari. Eforia mengklaim kemenangan.
Bila demikian, siapa yang menang dan siapa kalah?
Kendati gencatan senjata digemakan, namun hati mereka tetap penuh bakteri kebencian berkepanjangan. Zionis Israel & Hamas tidak mungkin bisa berdamai selama bumi masih berputar gasing. Ibarat Anjing dan kucing sejak dulu tidak mau akur, selalu bertengkar & cekcok. Perseteruan abadi keduanya sudah digambarkan ke tingkat yang lebih dahsyat melalui rekaman kitab-kitab sejarah.
Mengapa bisa demikian?
SIRUNTU’I “TAU KEDDO” NA “TAU KORO-KOROANG”. Jiwa-jiwa mereka gersang nan hampa, jelaga dendam masih berajojing di virtual memorinya.
Ilustrasi yang lain, zionis Israel & Hamas ibarat air dan minyak. Mana mungkin air dan minyak bisa disatukan dalam satu wadah? Sebab, sifat molekulnya yang berbeda, elemen zatnya berlainan, walaupun sama-sama cairan.
Jangan coba-coba sekimiawikan ‘singa teluk’ dengan ‘macan lapar’ dalam satu kandang, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dirampas habitat oleh satwa lain. Lebih mulia gugur di usia dini daripada menanggung malu diusir penjajah dari tanah persada kelahiran.
Konflik zionis Israel & Hamas pada dasarnya sarat kekerasan yang menimbulkan kerusakan fisik hingga psikologis, sejak akhir abad ke-19 (2 November 1917).
Babak demi babak perseteruannya―tidak pernah menguntungkan keduanya―kecuali buntung. Yang tersisa hanyalah puing-puing trauma tak berkesudahan. Hanya melahirkan generasi pendendam angkara murka.
Zionis Israel & Hamas kerap bertikai itu, kini negerinya bagai usai dilumat angin tornado berkekuatan raksasa. Fasilitas hancur, ladang sumur minyak tersumbat, air berubah minyak pelumas rudal, duka nestapa, deretan warga cacat seumur hidup meratapi nasib yang demikian menggiring. Rakyat yang tidak tau menahu, dipaksa terlibat membela keegoisan sang pemimpin. Yang memiliki keuntungan hanyalah negara pemasok senjata mutakhir dan perangkat alat militer.
Dengan itu, pekikan gencatan senjata sudah menggema sepekan yang lalu!
Saatnya berpotret diri berbenah dari segala kerugian dan kehancuran.
Saling berhalal bihalal-lah ala orang NU Indonesia, sambil melupakan keributan masa lalu. Ayo bersenandung irama syair tegur sapa, bergenggaman erat menepis gundah dan duka cita. Kedewasaan Zionis Israel & Hamas sangat dibutuhkan.
Ketika pemimpin negeri sama-sama keras kepala, maka salah seorang PUNGGAWA harus ada yang mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, berserah bukan berarti menyerah. Mundur dari medan pertempuran bukan berarti kekuatannya melemah, hanya mengambil strategi jitu, mencari ancang-ancang energi dan memantapkan kuda-kuda ninja.
Mulailah introspeksi diri masing-masing. Kini, negara-negara teluk yang lain sibuk mempercantik diri, tapi Anda justeru getol memoles negara Anda menjadi lukisan seram nan horor.
