SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sahabat MoKa yang budiman, fajar kembali menyingsing, mengantarkan kita memasuki hari Selasa, 13 Oktober 2026. Matahari yang perlahan meninggi seolah mengingatkan bahwa kehidupan terus bergerak.
Hari kemarin telah menjadi kenangan, sedangkan hari ini adalah kesempatan yang Allah berikan untuk memperbaiki diri, menunaikan amanah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama.
Selasa bukan sekadar nama hari dalam kalender. Ia adalah bagian dari perjalanan waktu yang mengajarkan kita tentang kedisiplinan, ketekunan, dan kesungguhan.
Bagi mereka yang masih aktif bekerja, inilah kesempatan untuk melanjutkan pengabdian. Bagi para pensiunan dan sahabat lansia, hari ini tetap memiliki arti: menjaga kesehatan, mempererat silaturahmi, berbagi pengalaman, serta membuktikan bahwa usia yang bertambah tidak harus membuat semangat kebaikan menjadi pudar.
Sebab, hidup bukan semata-mata tentang berapa panjang usia yang kita jalani, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi orang lain.
Selasa dalam cahaya Al-Qur’an; dalam menjalani hari ini, marilah kita menengok petunjuk Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang relevan untuk menjadi renungan adalah Surah Al-‘Ashr ayat 1–3.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3, terjemahan ringkas
Bagi sahabat yang telah memasuki usia senja, pesan Surah Al-‘Ashr terasa semakin mendalam. Masa muda mungkin telah berlalu, tenaga mungkin tidak lagi sekuat dahulu, tetapi kesempatan untuk berbuat baik tidak pernah tertutup selama Allah masih memberikan kehidupan. Usia boleh bertambah, tetapi semangat beribadah, belajar, dan mengabdi hendaknya tetap menyala.
Catatan sejarah: Apa yang terjadi pada 13 Oktober? Tanggal 13 Oktober menyimpan sejumlah catatan penting dalam perjalanan sejarah dunia. Beberapa di antaranya patut kita kenang sebagai bahan pembelajaran.
13 Oktober 1792 — Peletakan batu pertama Gedung Putih; Pembangunan kediaman resmi Prsiden Amerika Serikat, dimulai dengan peletakan batu pertama. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa bangunan besar sekalipun berawal dari sebuah langkah awal yang sederhana.
Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap kawasan Bandara Riyadh, Arab Saudi, menjadi peringatan serius bahwa konflik di kawasan Timur Tengah masih menyimpan ancaman besar bagi keselamatan manusia dan stabilitas regional.
Laporan mengenai 12 orang tewas dalam peristiwa tersebut menambah panjang daftar korban akibat konflik bersenjata yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga masyarakat sipil.
Bandara sebagai fasilitas transportasi strategis seharusnya menjadi ruang aman bagi mobilitas manusia, bukan sasaran yang mengancam nyawa dan mengganggu aktivitas penerbangan.
Dalam perspektif Mozaik Kehidupan (MoKa), setiap berita tentang jatuhnya korban jiwa mengingatkan kita bahwa di balik angka terdapat manusia, keluarga yang kehilangan orang tercinta, serta masa depan yang terputus akibat kekerasan.
Dunia internasional perlu mendorong penahanan diri, perlindungan warga sipil, dan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Namun, rincian mengenai lokasi serangan, keterlibatan Houthi, dan jumlah korban perlu dipastikan melalui sumber berita yang tepercaya sebelum dipublikasikan. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kebenaran tetap menjadi tanggung jawab utama seorang penulis berita.
Sementara itu, Banjir yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat, menjadi pengingat akan besarnya ancaman bencana hidrometeorologi di tengah perubahan cuaca yang sulit diprediksi.
Hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan sungai meluap, menggenangi permukiman, serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan banjir.
Warga diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG, serta segera mengungsi ke tempat aman apabila kondisi mengancam keselamatan jiwa.
Dalam perspektif Mozaik Kehidupan (MoKa), banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian terhadap kepedulian dan solidaritas sosial.
Ketika air menggenangi rumah dan merusak harta benda, uluran tangan sesama menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang terdampak. Pemerintah, relawan, dan masyarakat perlu bergerak bersama dalam proses evakuasi, penyaluran bantuan, serta pemulihan pascabencana.
Sebab, di balik derasnya air yang menerjang, selalu ada harapan yang harus dijaga: bahwa dengan kesiapsiagaan, gotong royong, dan kepedulian, masyarakat dapat bangkit kembali dan membangun kehidupan yang lebih tangguh menghadapi bencana.
Disisi lain; Anak-anak adalah tunas bangsa yang berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Kasus perundungan di lingkungan pendidikan yang berujung pada kematian seorang anak di Pemalang menjadi peringatan keras bagi kita semua bahwa perundungan bukanlah kenakalan biasa yang bisa dianggap sepele.
Di balik ejekan, hinaan, intimidasi, dan tindakan menyakiti sesama, terdapat luka fisik maupun batin yang dapat meninggalkan trauma mendalam, bahkan merenggut masa depan seorang anak.
Karena itu, keluarga harus menjadi tempat pertama untuk menanamkan kasih sayang, sekolah wajib menciptakan ruang belajar yang aman, dan masyarakat perlu membangun kepedulian agar tidak membiarkan kekerasan tumbuh tanpa pengawasan.
Dalam sudut pandang Mozaik Kehidupan (MoKa), pendidikan bukan sekadar mencerdaskan pikiran, melainkan juga menumbuhkan empati, membangun karakter, dan memanusiakan sesama.
Anak yang berbeda, lemah, atau memiliki kekurangan bukanlah sasaran untuk direndahkan, melainkan sesama manusia yang wajib dihormati martabatnya.
Setiap tindakan perundungan harus ditangani secara serius, dengan keberanian untuk melapor, kepedulian untuk mendampingi korban, serta ketegasan dalam mencegah pelaku mengulangi perbuatannya. Jangan menunggu air mata menjadi tragedi, barulah kita menyadari pentingnya perlindungan anak.
Disisi lain, sebuah kisah keluarga menjadi pengingat bahwa persoalan di dalam rumah terkadang menyimpan luka yang tak terlihat oleh tetangga.
Sepasang orang tua terpaksa meminta bantuan polisi karena resah menghadapi perilaku anaknya yang disebut kerap mengonsumsi minuman keras dan membuat keributan. Senin, 12 Oktober 2026, personel Polsek Manggala turun tangan setelah pemuda tersebut diduga bersikap kasar dan mengancam kedua orang tuanya menggunakan pisau.
Petugas berupaya meredakan keadaan melalui pendekatan persuasif hingga situasi berangsur kondusif. Kedua orang tua kemudian menyatakan mencabut tuntutan dan berharap anaknya mau berubah.
Namun, di balik peristiwa ini, tersimpan pertanyaan yang patut kita renungkan: mengapa rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru bisa berubah menjadi ruang ketakutan bagi orang-orang yang paling dekat dengan kita?
Dalam perspektif Mozaik Kehidupan (MoKa), peristiwa ini bukan sekadar urusan polisi dan persoalan perilaku seorang anak, melainkan juga cermin pentingnya komunikasi keluarga, pengendalian diri, serta kepedulian lingkungan.
Orang tua membutuhkan rasa aman, sementara seorang anak membutuhkan bimbingan untuk menemukan kembali jalan yang benar. Kebiasaan mengonsumsi minuman keras yang disertai perilaku mengancam tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Kasih sayang keluarga perlu berjalan seiring dengan batasan yang tegas, pendampingan yang tepat, dan perlindungan terhadap keselamatan semua pihak. Sebab, memaafkan bukan berarti membenarkan kekerasan, dan mencintai bukan berarti membiarkan ancaman berulang.
Semoga peristiwa di Manggala ini menjadi pelajaran bagi kita semua: jangan menunggu air mata berubah menjadi tragedi untuk mulai peduli, dan jangan biarkan rumah kehilangan maknanya sebagai tempat paling aman bagi keluarga.
Sampai di sini, Sahabat Pembaca, perjumpaan kita dalam Mozaik Kehidupan (MoKa) untuk hari ini. Esok, MoKa akan kembali menyapa Anda dengan aneka informasi, berita, dan renungan kehidupan yang menarik serta layak untuk dibaca.
Semoga hari Selasa yang indah ini membawa keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam setiap langkah. Selamat beraktivitas, teruslah berkarya, raih kesuksesan dalam karier, dan jangan lupa menghadirkan kehangatan serta kasih sayang di tengah keluarga tercinta.
Sebab, keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang kita capai di tempat kerja, melainkan juga tentang kebahagiaan yang kita rawat bersama keluarga.
Pantun Penutup MoKa Jalan-jalan ke Kota Makassar, Singgah sebentar membeli sukun. Semoga hidup semakin bersinar, Sukses berkarier, bahagia dalam rukun.