SYAKHRUDDINNEWS.COM – Rabu, 23 September 2026, menjadi sebuah catatan tersendiri bagi perjalanan Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan.
Untuk pertama kalinya, pengurus LLI Sulsel menjalin kerja sama dengan kelompok pengajian bulanan yang berpusat di Jalan Matano Utara No. 4, Bukit Baruga Antang, sebuah tempat yang akrab disebut “Rumah Merah.”
Pertemuan itu mungkin terlihat sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak pula karpet merah yang membentang panjang.
Tetapi justru di ruang-ruang sederhana seperti itulah, kadang-kadang, gagasan besar tentang silaturahmi, kepedulian, kesehatan, keagamaan dan kebermanfaatan bagi lanjut usia menemukan tempatnya.
Bagi LLI Sulsel, kerja sama semacam ini bukan sekadar menambah daftar kegiatan. Ia merupakan upaya mendekatkan organisasi dengan masyarakat.
Sebab lanjut usia tidak hanya membutuhkan perhatian ketika ada acara seremonial. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar, dihargai, ditemani dan diberi kesempatan tetap berdaya.
MoKa hari ini terasa semakin kuat bila diletakkan di bawah cahaya Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan…” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi penciri penting bagi perjumpaan di Rumah Merah. Sebab kerja sama yang dibangun bukan sekadar mempertemukan dua kelompok, melainkan mempertemukan niat baik dengan niat baik.
Pengajian memberikan ruang pembinaan spiritual, LLI membawa semangat pengabdian dan perhatian terhadap kehidupan lanjut usia.
Ketika keduanya bertemu, yang diharapkan bukan sekadar acara berjalan, tetapi lahir kebaikan yang dapat dirasakan bersama.
Di sinilah Organisasi akan kehilangan makna jika hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Tetapi organisasi akan menemukan ruh pengabdiannya ketika pintunya terbuka untuk masyarakat.
Menengok sejarah; Mengapa 23 September menjadi tanggal yang menarik?
Tanggal 23 September ternyata menyimpan catatan sejarah yang cukup kuat. Pada 23 September 1932, Kerajaan Arab Saudi secara resmi diproklamasikan dengan nama Kerajaan Arab Saudi, setelah proses panjang penyatuan wilayah yang dipimpin Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud.
Pemerintah Arab Saudi menetapkan 23 September sebagai Hari Nasional untuk memperingati penyatuan tersebut. Catatan sejarah itu memberi sebuah kata kunci yang menarik untuk MoKa hari ini: PERSATUAN.
Tahun 1932 berbicara tentang penyatuan wilayah menjadi sebuah kerajaan. Tahun 2026, di Rumah Merah, kita berbicara tentang penyatuan niat, kepedulian dan langkah pengabdian.
Tentu kedua peristiwa itu tidak dapat disamakan. Tetapi sejarah tanggal 23 September memberi kita ruang untuk mengambil hikmah tentang pentingnya membangun kebersamaan.
Bahkan sejarah mencatat bahwa perjalanan penyatuan Arab Saudi bukanlah pekerjaan sehari semalam.
Raja Abdulaziz memulai proses pentingnya ketika berhasil merebut kembali Riyadh pada 1902, kemudian melanjutkan proses panjang penyatuan hingga deklarasi Kerajaan Arab Saudi pada 1932.
Maka, jangan remehkan sebuah langkah kecil; Kerja sama LLI Sulsel dengan kelompok pengajian di Rumah Merah pun boleh jadi dimulai dari sebuah pertemuan sederhana. Tetapi setiap perjalanan besar memang selalu dimulai dari satu langkah pertama.
Rumah Merah, sebuah awal; 23 September 2026 akhirnya bukan hanya angka pada kalender.
Ia menjadi saksi bahwa di sebuah sudut Bukit Baruga Antang, ada dua kekuatan masyarakat yang mencoba duduk bersama, berbicara bersama, dan membuka kemungkinan bekerja bersama.
Boleh jadi hasilnya belum langsung terlihat. Tetapi pengabdian memang tidak selalu berbentuk hasil yang bisa dihitung hari itu juga.
Ada benih yang baru tumbuh setelah disiram berkali-kali. Ada persahabatan yang baru terasa manfaatnya setelah melewati waktu. Dan ada kerja sama yang baru menemukan maknanya setelah masyarakat merasakan dampaknya.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda :
Ke Bukit Baruga membawa sajadah,
Singgah sejenak di Rumah Merah.
Bila silaturahmi dirawat indah,
Pengabdian tumbuh, manfaat pun bertambah.
Sementara itu, Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) yang berada di kisaran Rp17.850 per dolar kembali menjadi perhatian, karena menunjukkan tekanan yang masih terasa terhadap Rupiah.
Pergerakan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi dinamika pasar keuangan global, arus modal, serta kondisi ekonomi dan kebijakan domestik.
Ketika dolar menguat, biaya berbagai barang dan kebutuhan yang bergantung pada impor berpotensi ikut terdorong, sehingga masyarakat kembali dihadapkan pada tantangan menjaga daya beli.
Di tengah situasi tersebut, Rupiah membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat dan kepercayaan pasar yang terjaga. Angka Rp17.850 bukan sekadar deretan angka di layar perdagangan valuta asing;
Ia dapat menjadi cermin bagaimana gejolak ekonomi global merambat hingga ke kehidupan sehari-hari. Karena itu, perkembangan kurs perlu terus dicermati bukan untuk menebar kekhawatiran.
Tetapi agar pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat memahami bahwa setiap gerak nilai tukar memiliki dampak nyata terhadap harga, perdagangan, dan perekonomian nasional.
Lain halnya dengan Banjarmasin seperti kehilangan wajahnya. Langit yang biasanya menjadi atap kehidupan, kini berubah menjadi selimut pekat yang menyesakkan.
Kualitas udara dilaporkan memburuk drastis hingga masuk kategori “Hitam”, dengan indeks PM10 disebut menembus angka 1.556.
Kabut asap bukan lagi sekadar pemandangan yang mengganggu mata, tetapi telah menjadi ancaman yang memaksa masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
Di balik angka yang tampak dingin itu, ada anak-anak yang sulit bernapas, warga yang harus menutup pintu dan jendela, serta kehidupan sehari-hari yang perlahan dipaksa berhenti.
Inilah saatnya kita sadar, udara bersih bukan kemewahan, ia hak dasar manusia.
Ketika langit menghitam dan udara berubah menjadi sesuatu yang harus dicurigai sebelum dihirup, maka persoalannya bukan lagi sekadar kabut asap, melainkan keselamatan manusia.
Banjarmasin sedang mengirim pesan keras: alam tidak selalu marah dengan suara gemuruh; terkadang ia datang diam-diam melalui udara yang kita hirup setiap detik.
Jangan sampai kita baru tersadar setelah napas menjadi mahal dan kesehatan menjadi taruhan.
Pada akhirnya, dunia digital kembali dibuat gaduh. Warganet ramai memperbincangkan dugaan modus fraud.
Berupa pembobolan kartu kredit yang dikaitkan dengan penyalahgunaan fitur pembayaran melalui kode QR pada dompet digital DANA.
Sekilas, QR hanyalah kotak hitam-putih yang kita pindai dalam hitungan detik. Tetapi di balik kemudahan itu, ada ruang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital.
Satu kali lengah, bukan mustahil transaksi yang semula terasa aman berubah menjadi persoalan finansial yang panjang.
Pihak DANA pun telah memberikan tanggapan resmi terkait isu yang viral tersebut. Bagi masyarakat, persoalan ini menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecermatan penggunanya.
Jangan mudah percaya tautan, permintaan data, kode OTP, maupun instruksi transaksi yang mencurigakan.
Di era ketika uang dapat berpindah hanya dengan satu sentuhan layar, kewaspadaan bukan lagi pilihan, ia adalah pagar terakhir sebelum rekening dan kartu kita menjadi sasaran.
Sementara itu, Lapangan hijau semestinya menjadi tempat adu strategi, bukan panggung untuk melukai martabat.
Namun potongan video yang diduga memperlihatkan Direktur Teknik Java United, Achmad Resal Octavian, melontarkan ucapan bernada diskriminatif dan rasis kepada pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, justru menggelinding menjadi sorotan di media sosial.
Viral dalam hitungan jam, kecaman pun bermunculan. Media Persija turut menyuarakan keberatan.
Di era ketika satu kalimat dapat direkam, dipotong, dibagikan dan disaksikan jutaan mata, setiap ucapan di ruang publik bukan lagi sekadar suara, ia bisa menjadi jejak yang panjang.
MoKa mencatat: sepak bola boleh keras dalam duel, panas dalam persaingan, tetapi penghormatan kepada sesama manusia seharusnya tidak pernah keluar dari lapangan.
Jika benar terdapat ucapan diskriminatif, persoalannya bukan lagi sekadar rivalitas olahraga, melainkan menyentuh nilai sportivitas dan penghormatan terhadap keberagaman.
Karena itu, publik patut menunggu klarifikasi dan konteks utuh sebelum menjatuhkan vonis. Sebab, pertandingan akan selesai ketika peluit panjang berbunyi, tetapi luka akibat kata-kata bisa tinggal jauh lebih lama.
\Menang dalam pertandingan adalah prestasi; menjaga martabat manusia adalah kemenangan yang sesungguhnya.
Pembaca setia MoKa, akhirnya kita harus berpisah sejenak, setelah menyusuri beragam kabar yang hadir di tengah riuhnya kehidupan.
Semoga esok kita kembali berjumpa dalam lembaran MoKa berikutnya, membawa informasi terkini, peristiwa yang sedang viral, serta kisah-kisah yang layak diketahui dan direnungkan.
Semua ini lahir dari kerja sukarel, sekadar berbagi apa yang terbaca, terdengar, dan terpantau di ruang maya, dengan harapan setiap informasi yang dibagikan dapat memberi manfaat bagi sesama.
Sebab, berbagi bukan soal seberapa besar yang kita miliki, tetapi seberapa ikhlas kita memberi. Semoga setiap huruf yang tertulis, setiap informasi yang dibagikan, menjadi jejak kebaikan dan bernilai amal ibadah di hadapan Allah SWT.
