SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat bukan sekadar pergantian hari dalam kalender. Bagi umat Islam, ia adalah hari berkumpul, hari ketika kesibukan dunia sejenak diberi jeda untuk mendengar panggilan Ilahi.
Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah ayat 9 mengingatkan orang beriman agar ketika panggilan salat Jumat diserukan, mereka meninggalkan sementara aktivitas perdagangan dan bersegera menuju zikir kepada Allah.
Di balik khutbah dan saf-saf yang dirapatkan, Jumat menyimpan pesan sederhana: manusia boleh mengejar rezeki, tetapi jangan sampai kehilangan arah.
Setelah salat, Al-Qur’an kembali mempersilakan manusia bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah sambil tetap mengingat-Nya.
Maka Jumat sejatinya adalah momentum menata kembali hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan kehidupan yang sedang kita jalani.
Jejak Sejarah; Tanggal 18 September juga menyimpan sejumlah peristiwa yang layak dikenang. Pada 18 September 1851, terbit untuk pertama kalinya New York Daily Times, yang kemudian dikenal sebagai The New York Times.
Pada 18 September 1961, Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjöld meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika sedang menjalankan misi terkait upaya perdamaian di Kongo.
Tanggal yang sama pada 1977 mencatat tonggak eksplorasi ruang angkasa: wahana Voyager 1 mengambil salah satu foto jarak jauh awal yang memperlihatkan Bumi dan Bulan dalam satu bingkai.
Tahun 1981, parlemen Prancis memilih menghapus hukuman mati; sementara pada 1990, Liechtenstein diterima sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Begitulah waktu bekerja. Satu tanggal dapat menyimpan banyak cerita: tentang perjuangan, kehilangan, perubahan, ilmu pengetahuan, bahkan harapan manusia.
Dan hari ini, 18 September 2026, kita kembali diberi kesempatan menulis satu halaman baru, bukan hanya untuk dikenang sejarah, tetapi untuk menjadi bagian dari kebaikan yang kelak dikenang oleh orang lain.
Jumat berkah bukan sekadar ucapan. Ia adalah kesempatan untuk memperbaiki langkah, memperbanyak doa, mempererat silaturahmi, dan memaafkan sebelum waktu memaksa kita berhenti.
Pantun Pembuka
Pergi pagi membeli kurma,
Singgah sebentar di tepi taman.
Jumat datang membawa berkah,
Mari mendekat kepada Tuhan.
Di tengah keresahan masyarakat mencari LPG 3 Kg, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi kembali memperkuat pasokan untuk Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Sebanyak 193.200 tabung LPG 3 Kg disalurkan melalui skema extra dropping pada 14–19 September 2026. T
ambahan pasokan ini mencapai sekitar 50–100 persen di atas rata-rata penyaluran harian, dengan Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar mendapat tambahan hingga 100 persen.
Bagi masyarakat, kabar ini tentu menjadi angin segar—sebab gas melon bukan sekadar tabung hijau di sudut dapur, tetapi menyangkut denyut kehidupan rumah tangga dan usaha kecil.
Pertamina mengimbau warga membeli sesuai kebutuhan melalui pangkalan resmi dan tidak melakukan panic buying. Pengawasan distribusi juga diperkuat agar LPG bersubsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.
Sementara itu, Jufri Rahman pamit dari panggung birokrasi Sulawesi Selatan. Perpisahan itu bukan sekadar pergantian kursi, tetapi menjadi penanda bahwa roda pemerintahan terus bergerak, meski sosok di balik meja kekuasaan silih berganti.
Gubernur Sulsel disebut telah menyiapkan nama pengganti Sekretaris Provinsi Sulsel, bahkan nama tersebut sudah berada di Kementerian Dalam Negeri.
Kini perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan: siapa yang akan dipercaya mengemban tugas besar sebagai pengendali administrasi pemerintahan dan penghubung utama antara kebijakan gubernur dengan seluruh perangkat daerah?
Di balik sebuah jabatan, selalu ada amanah yang harus diteruskan.
Pergantian Sekprov bukan sekadar mengganti nama pada papan jabatan, melainkan memastikan kesinambungan pemerintahan, pelayanan publik, pengelolaan anggaran, serta koordinasi antar-OPD tetap berjalan tanpa jeda.
Nama boleh berganti, tetapi pekerjaan tidak boleh berhenti. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu berkepentingan dengan siapa yang duduk di kursi itu yang mereka tunggu adalah pemerintahan yang bekerja, pelayanan yang cepat, dan kebijakan yang benar-benar terasa manfaatnya.
Disisi lain, Jabatan boleh berakhir, tetapi kehidupan tidak pernah ikut berhenti. Kisah istri mantan Menteri Keuangan yang memilih berjualan nasi bungkus setelah suaminya dicopot Presiden RI menyimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar cerita tentang makanan.
Di balik sebungkus nasi, ada keberanian untuk tetap bekerja, berdiri di atas kaki sendiri, dan menerima kenyataan bahwa kekuasaan memiliki batas waktu.
Ketika kursi empuk ditinggalkan, kehidupan nyata justru mengetuk pintu: kebutuhan harus dipenuhi, keluarga harus berjalan, dan dapur harus tetap mengepul.
Di sinilah harga diri menemukan bentuknya, bukan pada jabatan yang melekat di pundak, melainkan pada kesediaan bekerja tanpa merasa rendah.
Kisah ini sekaligus menampar cara pandang kita terhadap pekerjaan. Yang membuat seseorang terhormat bukan tinggi-rendahnya pekerjaan, tetapi kejujuran dalam menjalaninya.
Nasi bungkus mungkin sederhana, tetapi tangan yang membungkusnya dengan ikhlas jauh lebih mulia daripada jabatan yang hanya menjadi pajangan.
Kekuasaan bisa datang bersama protokol, pengawalan dan fasilitas; tetapi semuanya dapat berakhir ketika keputusan politik berubah.
Sementara itu, kehidupan rakyat terus berjalan dari pasar ke warung, dari dapur ke meja makan.
Maka, ketika jabatan dicopot dan popularitas meredup, yang tersisa adalah karakter: apakah kita mampu tetap tegak, bekerja, dan tersenyum ketika tepuk tangan sudah tidak terdengar lagi?
Barangkali sebungkus nasi hari ini sedang mengajarkan kita bahwa martabat tidak pernah ditentukan oleh kursi.
Di Bantaeng; Ada Api Aspirasi, Jangan Sampai Membakar Diri; Aksi menyampaikan aspirasi di depan Kantor PLN ULP Bantaeng, Senin 14 September 2026, berujung insiden memilukan.
Dua mahasiswa HMI Cabang Bantaeng dilaporkan mengalami luka bakar ketika massa hendak membakar ban bekas yang sebelumnya telah disiram bahan bakar.
Situasi memanas setelah terjadi tarik-menarik ban antara mahasiswa dan aparat, hingga api tiba-tiba berkobar. Salah seorang korban,
Ferdiansyah Sambo, dilaporkan mengalami luka bakar sekitar 30 persen dan mendapat perawatan di RSUD Prof. Dr. H. Anwar Makkatutu Bantaeng.
Mozaik Kehidupan mencatat satu pesan pahit dari jalanan Bantaeng: keberanian menyuarakan keresahan adalah bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi keselamatan manusia tetap harus berada di garis terdepan.
Kritik boleh keras, tuntutan boleh lantang, namun api jangan sampai menjadi bumerang bagi mereka yang sedang memperjuangkan aspirasi.
Sebab, ketika asap demonstrasi menghilang, yang tersisa bukan hanya tuntutan yang belum terjawab, tetapi juga luka yang harus dipikul oleh seorang anak.
Sebuah keluarga, dan masa depan seorang mahasiswa. Aspirasi mestinya menerangi jalan perubahan bukan membakar mereka yang sedang berjalan di atasnya.
Demikianlah Mozaik Kehidupan hari ini. Sebuah catatan kecil dari perjalanan panjang kehidupan, yang mencoba merekam peristiwa bukan sekadar sebagai berita, tetapi sebagai cermin bagi kita semua.
Sebab di balik setiap kejadian selalu ada pesan, di balik setiap kabar selalu ada hikmah, dan di balik setiap perjalanan manusia selalu ada jejak yang pantas dikenang.
Kita mungkin tidak mampu mengubah semua keadaan, tetapi kita masih bisa memilih untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
Semoga apa yang tersaji dalam MoKa hari ini dapat menjadi bahan renungan, menambah wawasan, sekaligus menguatkan langkah kita untuk terus menebar kebaikan.
Karena pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa panjang usia, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang mampu kita tinggalkan.
Sahabat pembaca, terima kasih telah meluangkan waktu untuk singgah di ruang kecil Mozaik Kehidupan.
Jika ada kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Jika ada pesan yang menyentuh hati, semoga menjadi bekal untuk melangkah lebih baik.
Kita bertemu kembali pada episode berikutnya, dengan kisah yang berbeda, tetapi semangat yang sama: menulis kehidupan, merawat kenangan, dan menghadirkan makna.
Pantun penutup: Burung pipit terbang ke awan, Hinggap sejenak di pohon jati. Salam hangat untuk para sahabat, Mozaik Kehidupan, dari hati ke hati.
Salam MoKa.Tetap sehat, tetap semangat, dan teruslah menjadi bagian dari kehidupan yang menghadirkan manfaat bagi sesama.