SYAKHRUDDINNEWS.COM – Kamis kembali menyapa. Matahari belum tinggi, tetapi dunia seakan sudah lebih dulu panas. Di Timur Tengah, konflik Iran–Israel dan keterlibatan Amerika Serikat terus menjadi perhatian dunia. Dampaknya tidak berhenti di medan perang.
Gangguan terhadap jalur energi dan ketidakpastian harga minyak ikut merembet ke berbagai negara. Di Makassar, gema persoalan itu terasa dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat: antrean BBM yang panjang.
Pemerintah Sulawesi Selatan menerapkan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM bersubsidi sejak 13 September hingga 20 September sebagai salah satu upaya mengurai antrean.
Pertamina juga menyatakan menambah pasokan dan memperpanjang jam operasional SPBU.
Kamis mengajarkan satu hal: panas tidak selalu datang dari matahari. Ada panas perang, panas ekonomi, panas jalanan, bahkan panas hati ketika harus berlama-lama menunggu BBM.
Hari ini, Kamis 17 September 2026, Makassar sendiri masih berada dalam suasana cuaca yang cukup menyengat.
Prakiraan BMKG menunjukkan kondisi cerah hingga cerah berawan dengan suhu yang dapat mencapai sekitar 34°C, sementara sejumlah wilayah Sulawesi Selatan juga mendapat peringatan terkait udara panas dan angin kencang.
Maka, di tengah dunia yang sedang bergejolak, kita membutuhkan kepala yang tetap dingin: tidak mudah terpancing, tidak menambah kegaduhan, dan tetap saling menjaga.
Sebab perang yang jauh dapat memengaruhi harga energi, tetapi kedamaian di lingkungan sendiri tetap menjadi tanggung jawab kita bersama.
Tanggal 17 September juga memiliki catatan penting dalam sejarah dunia. Pada 17 September 1787, para delegasi Konvensi Konstitusi Amerika Serikat menandatangani rancangan Konstitusi di Philadelphia.
Tanggal itu kemudian diperingati sebagai Constitution Day and Citizenship Day. Sejarah tersebut menyimpan pelajaran sederhana tetapi dalam:
Sebuah bangsa membutuhkan aturan, kesepakatan, dan penghormatan terhadap hak serta kewajiban agar kehidupan bersama tidak berubah menjadi pertarungan tanpa akhir.
Kamis 17 September 2026 jangan hanya dibaca sebagai pergantian angka pada kalender. Ia adalah pengingat bahwa manusia pernah berperang, pernah berdamai, pernah mengalami kelangkaan, dan pernah menemukan jalan keluar melalui kesepakatan.
Di Makassar, kita mungkin sedang berdiri dalam antrean BBM; di belahan dunia lain, manusia sedang berhadapan dengan dentuman senjata.
Tetapi pesan yang sama tetap berlaku: jangan biarkan panas keadaan membuat hati kita ikut terbakar.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda : Matahari terasa menyengat, Antrean BBM masih terlihat. Walau dunia sedang bergejolak hebat,
Moka akan tetap terbit
Di tengah luka Gaza yang belum juga mengering, suara penolakan terhadap pemindahan paksa warga Palestina kembali mengemuka.
Presiden Prabowo Subianto bersama para pemimpin BRICS menegaskan penolakan terhadap segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza.
Dalam pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di sela KTT BRICS di New Delhi, 12 September 2026, keduanya juga menyerukan penyelesaian yang adil melalui solusi dua negara dan berdirinya Palestina yang merdeka.
Bagi Gaza, rumah bukan sekadar bangunan yang bisa ditinggalkan ketika perang datang. Di sanalah sejarah, keluarga, makam leluhur dan harapan sebuah bangsa bertaut.
Sikap Indonesia yang konsisten mendukung perdamaian, bantuan kemanusiaan, serta hak rakyat Palestina untuk menentukan masa depannya kembali menjadi pesan penting di panggung dunia.
Sebab, perdamaian sejati bukan memindahkan manusia dari tanah kelahirannya, melainkan menghentikan kekerasan dan memberi mereka kesempatan untuk hidup aman di tanah sendiri.
Sementara itu,. Selasa, 15 September 2026, Aula Asta Cita Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan menjadi tempat rapat koordinasi persiapan kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Hadir Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, para kepala daerah, serta jajaran kepala dinas sosial se-Sulsel.
Namun di balik meja rapat dan deretan pejabat, terselip pertanyaan sederhana: ketika Presiden datang, apa yang benar-benar dirasakan rakyat?
Sebab kunjungan kepala negara bukan sekadar protokoler dan seremoni penyambutan, melainkan momentum untuk memastikan pelayanan publik, pendidikan, perlindungan sosial, keamanan, dan kebutuhan masyarakat mendapat perhatian nyata.
Appi menegaskan kesiapan Pemkot Makassar bersinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi, termasuk mendukung rencana peresmian Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan pada Oktober mendatang.
Sebab Presiden datang bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk melihat; bukan sekadar disambut, tetapi mendengar denyut kehidupan rakyat.
Bagi masyarakat kecil, pembangunan bukan angka dalam laporan, melainkan anak yang bisa bersekolah, keluarga yang terlindungi, dan warga yang merasakan negara hadir saat dibutuhkan.
Semoga koordinasi ini tidak berhenti sebagai catatan rapat, tetapi menjelma kerja nyata. Karena sejarah bukan hanya mencatat siapa yang berdiri menyambut Presiden, melainkan seberapa jauh kehadiran negara menyentuh kehidupan rakyat.
Disisi lain, kasus Serda Ahmad Muzammil Farisa, prajurit TNI AU, meninggal dunia dalam peristiwa yang kini menjadi sorotan setelah Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Udara menetapkan empat prajurit sebagai tersangka.
Berdasarkan keterangan Danpuspomau Marsda TNI Daan Sulfi pada 16 September 2026, rangkaian kejadian bermula dari persoalan antara senior dan junior.
Pada Rabu malam, 9 September, sekitar pukul 23.05 WIB, Serda JM diduga memukul Serda Ahmad tiga kali di bagian dada. Setelah pukulan ketiga, korban jatuh, lemas, kemudian tidak sadarkan diri.
Tragedi ini menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar tentang batas antara pembinaan, senioritas, dan kekerasan dalam lingkungan militer. Serda Ahmad akhirnya dinyatakan meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit.
Empat tersangka yang telah ditetapkan masing-masing berinisial Serda MTS, Serda MAD, Serda JM, dan Serda AH.
Kasus ini kini ditangani melalui proses hukum militer untuk mengungkap secara utu rangkaian peristiwa serta pertanggungjawaban masing-masing pihak.
Sekarang tentang Penyu Raja Ampat, Terhenti di Bandara Makassar; Raja Ampat punya laut yang indah, tetapi keindahan itu bukan untuk diburu sesuka hati.
Seorang WNA asal China berinisial WS, yang disebut sebagai instruktur selam, diamankan petugas Imigrasi Makassar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Senin 14 September 2026, saat diduga hendak terbang menuju Kuala Lumpur.
Ia diduga memburu dan menombak penyu belimbing di perairan Piaynemo, Raja Ampat, satwa yang dilindungi di Indonesia. Dugaan itu mencuat setelah rekaman aktivitas spearfishing beredar di media sosial.
Makassar menjadi titik di mana perjalanan itu terhenti. Permohonan pencegahan dari Pemerintah Kabupaten Raja Ampat segera ditindaklanjuti Imigrasi, sehingga WS diamankan sebelum meninggalkan Indonesia.
Kini prosesnya berlanjut untuk pemeriksaan lebih jauh di Sorong. Kisah ini mengingatkan kita: laut bukan sekadar tempat menikmati keindahan, tetapi rumah bagi makhluk hidup yang harus dijaga.
Penyu boleh berenang melintasi samudera, tetapi ketika manusia menjadikan satwa dilindungi sebagai sasaran buruan, hukum pun akhirnya ikut berlayar—mengejar sampai ke pintu keberangkatan.
Sahabat pembaca MoKa yang saya hormati, setiap perjumpaan selalu memiliki awal dan akhir.
Demikian pula Mozaik Kehidupan hari ini, yang kembali menyusun serpihan peristiwa menjadi catatan kecil tentang kehidupan, agar apa yang kita lihat, dengar dan rasakan, tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
Terima kasih atas waktu, perhatian, dan kesetiaan Sahabat mengikuti setiap goresan kata dalam MoKa.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi bahan renungan, membuka jendela pikiran, dan menghadirkan sedikit makna di tengah riuhnya kehidupan.
Kita tutup lembaran hari ini, tetapi kisah kehidupan akan terus berjalan. Sampai jumpa kembali dalam Mozaik Kehidupan esok hari.
Ke pasar pagi membeli pepaya, Singgah sebentar di tepi taman. Terima kasih Sahabat semua, Sampai berjumpa di tulisan kemudian.