SYAKHRUDDINNEWS.COM — Rabu kembali hadir membawa denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti. Dari ufuk timur hingga barat bumi, jutaan pasang mata hari ini tertuju ke Padang Arafah, tempat manusia berkumpul dalam hamparan putih yang agung dan hening. Tak ada lagi sekat antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan rakyat jelata. Semua melebur dalam pakaian ihram yang sederhana, menadahkan tangan seraya melantunkan tasbih dan tahmid, memuji kebesaran Ilahi Rabbi yang mempertemukan manusia dalam satu panggilan suci. Di sana, air mata jatuh bukan karena dunia, melainkan karena harapan akan ampunan dan keberkahan hidup yang lebih bermakna.
Dari tanah suci itu pula, gema spiritual Idul Adha mulai merambat ke lorong-lorong kampung di tanah air. Di halaman masjid, di sudut pasar hewan, hingga di rumah-rumah sederhana, orang-orang mulai menyiapkan kurban dengan penuh keikhlasan. Hari-hari Tasyrik yang akan datang bukan sekadar penanda penyembelihan, melainkan momentum mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa berbagi kepada sesama. Aroma daging kurban, takbir yang bersahut-sahutan, dan senyum warga yang saling bertukar hidangan akan kembali menjadi mozaik indah kehidupan, bahwa kebahagiaan sejati kerap lahir dari ketulusan memberi.
Di tengah suasana penuh makna itu, perhatian bangsa juga tertuju pada puncak Peringatan Hari Lanjut Usia Indonesia yang akan berlangsung Jumat, 29 Mei 2026, dan dipusatkan di Nusa Tenggara Timur. Sebuah penghormatan bagi para lanjut usia yang telah menorehkan jejak pengabdian panjang bagi keluarga, masyarakat, dan negeri. Mereka adalah saksi perjalanan zaman. Rambut yang memutih menyimpan pengalaman, doa, dan keteguhan hidup yang tak ternilai harganya. Momentum ini menjadi pengingat bahwa menghormati orang tua sejatinya adalah menghargai akar kehidupan itu sendiri akar yang menjaga manusia tetap teguh meski zaman terus berubah.
Di Makassar, denyut dinamika organisasi kewartawanan pun tengah bergerak menuju hajatan besar. Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Selatan bersiap menggelar Konferensi PWI untuk memilih kepengurusan masa bakti 2026–2031 di Graha Pena Makassar. Sebuah momentum penting bagi insan pers untuk menentukan arah organisasi di tengah derasnya arus informasi dan tantangan zaman. Sebab di tangan para wartawan, suara rakyat, denyut daerah, dan wajah demokrasi terus dijaga agar tetap hidup dan menyala.
Dan seperti biasa, kehidupan akan terus berjalan dalam irama yang kadang lirih, kadang riuh. Ada yang sedang berangkat menuju tanah suci, ada yang menunggu kepulangan orang tercinta, ada pula yang menyiapkan kurban dengan penuh syukur di halaman rumah sederhana. Semua menjadi serpihan kisah yang saling menyempurnakan, menghadirkan pelajaran bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa jauh melangkah, melainkan seberapa tulus hati berbagi dan bersujud kepada-Nya.
Berikut pantun pembuka untuk Mozaik Kehidupan edisi Rabu, 27 Mei 2026:
Berangkat haji menuju Arafah
Memakai ihram putih berseri
Takbir menggema penuh berkah
Mozaik hadir menemani pagi
Di tengah persiapan konferensi organisasi yang mulai menghangat, Pengurus PWI Pusat melalui Ketua Umum Ahmad Munir bersama Wakil Ketua Bidang Organisasi Joko Tetuko Latif resmi menetapkan Amrullah Basri dan Suwardi Thahir memenuhi syarat sebagai bakal calon Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031. Penetapan tersebut dilakukan setelah melalui proses verifikasi administrasi sesuai ketentuan organisasi yang berlaku di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia.
Sementara itu, untuk bakal calon Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel, dua nama yang dinyatakan memenuhi persyaratan yakni Dr. H. Dahlan Abubakar, M.Hum dan Abd. Jurlan, S.Ag., M.Pd. Tahapan ini menjadi bagian penting menuju Konferensi Provinsi PWI Sulsel yang akan digelar Selasa, 2 Juni 2026, di Gedung Fajar Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo Makassar. Dari forum itulah arah baru organisasi kewartawanan Sulawesi Selatan lima tahun ke depan akan ditentukan.
Sementara itu, ribuan kilometer dari tanah air, hamparan Padang Arafah hari ini dipenuhi jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia yang mulai memadati tenda-tenda wukuf sejak pagi waktu Arab Saudi. Lautan pakaian ihram putih tampak menyatu di bawah langit gurun yang terik, menghadirkan suasana haru sekaligus khusyuk menjelang puncak ibadah haji 1447 Hijriah.
Satu per satu jamaah turun dari bus dengan wajah letih namun penuh syukur, seraya melafalkan talbiyah dan doa-doa yang menggema di antara bukit-bukit Arafah. Jamaah Indonesia mulai menempati markaz-markaz yang telah disiapkan, sementara petugas terus mengatur arus kedatangan agar tidak terjadi kepadatan berlebih.
Namun di balik kekhusyukan itu, cuaca ekstrem menjadi tantangan besar tahun ini. Suhu di kawasan Arafah dilaporkan berada pada kisaran 43 hingga 47 derajat Celsius dengan udara kering dan angin panas yang sesekali membawa debu gurun. Otoritas Arab Saudi bersama petugas haji internasional terus mengingatkan jamaah untuk memperbanyak minum air, mengurangi aktivitas di luar tenda, serta menggunakan payung guna menghindari dehidrasi dan heatstroke.
Meski panas menyengat, suasana spiritual di Padang Arafah tetap terasa begitu mendalam. Jutaan manusia larut dalam doa, zikir, dan permohonan ampun, seolah seluruh perbedaan dunia luruh di tanah suci itu. Dan pada saat yang hampir bersamaan, langit Makkah kembali menghadirkan sebuah fenomena yang menggetarkan hati umat Islam di berbagai penjuru bumi.
Fenomena matahari tepat berada di atas Ka’bah kembali terjadi bertepatan dengan momentum wukuf di Padang Arafah, sebuah peristiwa astronomi yang selalu dinanti umat Islam di berbagai penjuru dunia. Saat itu, bayangan benda yang tegak lurus akan mengarah tepat berlawanan dengan posisi Ka’bah, sehingga banyak dimanfaatkan kaum muslimin untuk meluruskan arah kiblat secara akurat.
Peristiwa ini bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan juga menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam, seolah menghubungkan langit Makkah dengan hati umat Islam di seluruh penjuru bumi. Saat gema talbiyah berkumandang di Arafah, umat Islam di tanah air pun ikut merasakan getaran yang sama, menatap Ka’bah melalui arah cahaya matahari yang tepat berada di atas Baitullah.
Di tengah suasana religius yang menyelimuti banyak ruang kehidupan hari ini, perhatian publik di tanah air juga tertuju pada geliat pembangunan infrastruktur nasional. Salah satunya datang dari Bandara Kertajati yang kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menggulirkan wacana menjadikannya pusat perawatan dan perbaikan pesawat angkut berat C-130 Hercules atau maintenance, repair and overhaul (MRO) untuk kawasan Asia.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut lahan Kertajati sangat memadai untuk pengembangan bengkel pesawat militer dan sipil, sekaligus menghidupkan kembali denyut bandara yang selama ini kerap disebut sepi aktivitas penerbangan. Wacana itu muncul setelah adanya tawaran kerja sama strategis dari Amerika Serikat kepada pemerintah Indonesia terkait pembangunan pusat pemeliharaan Hercules di Asia.
Pemerintah menilai Kertajati memiliki landasan panjang, kawasan luas, dan posisi strategis untuk menopang industri aviasi serta logistik nasional. Namun di balik optimisme itu, publik juga ramai memperdebatkan arah masa depan bandara tersebut.
Di media sosial dan forum daring, muncul sindiran bahwa bandara yang dahulu dibangun megah untuk penumpang kini justru akan lebih sibuk sebagai “bengkel Hercules”. Meski demikian, pemerintah menegaskan proyek tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan kajian lintas kementerian.
Sampai di sini jumpa kita pada edisi hari ini. Semoga gema takbir yang berkumandang membawa kedamaian di hati kita semua, menghadirkan keikhlasan sebagaimana makna pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keteguhan iman Nabi Ismail AS. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faizin. Semoga setiap langkah pengabdian dan setiap doa yang terucap menjadi jalan keberkahan bagi keluarga, sahabat, dan negeri yang kita cintai.
Sebagai penutup, kami hadirkan sebuah pantun untuk Anda.
Daging kurban sudah dibagi,
Harum gulai semerbak terasa.
Hari kemenangan telah menghampiri,
Mari sucikan hati penuh cinta.
Salam Santun : Syakhruddin Tagana



