SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali berjumpa di pertengahan pekan Rabu, 15 April 2026. Hari yang berjalan tanpa gegap gempita, tanpa pula janji jeda yang segera tiba. Rabu adalah ruang sunyi di antara riuhnya awal dan akhir pekan, tempat banyak orang diam-diam mengukur sisa tenaga dan harapan.
Di hari seperti ini, kita sering tidak sedang baik-baik saja. Pekerjaan menumpuk, pikiran berserak, dan kabar dari luar tak selalu membawa ketenangan. Namun anehnya, kita tetap bangun pagi, tetap melangkah, tetap menjalani peran masing-masing seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menjaga kita untuk terus berdiri.
Di sudut-sudut kehidupan, kisah tentang ketahanan hadir tanpa banyak suara. Guru yang tetap mengajar sepenuh hati meski kesejahteraan belum sepenuhnya berpihak. Relawan yang terus bergerak membantu sesama tanpa menimbang lelah. Orang tua yang menyembunyikan kegelisahan di balik senyum, demi memastikan anak-anaknya merasa aman. Mereka mungkin tak tampil di panggung, tetapi justru merekalah penyangga kehidupan yang sesungguhnya.
Rabu mengajarkan satu hal sederhana: hidup bukan semata tentang berlari kencang, tetapi tentang tidak berhenti tentang kesediaan melangkah, meski pelan. Sebab dalam langkah kecil itulah harapan dirawat dan masa depan perlahan dibentuk.
Barangkali kita tak selalu mampu mengubah keadaan secara besar dan seketika. Namun kita selalu punya pilihan untuk menjaga hati tetap hidup melalui syukur yang sederhana, doa yang lirih, serta kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tak terlihat, tetapi terasa. Maka jika hari ini terasa berat, itu bukan tanda bahwa kita lemah. Bisa jadi itu justru bukti bahwa kita sedang berjuang.
Dan selama kita masih melangkah, sekecil apa pun langkah itu, sesungguhnya kita masih berada di jalur yang benar. Rabu ini mungkin tampak biasa, tetapi bagi mereka yang bertahan, hari ini adalah kemenangan kecil atas lelah, atas ragu, dan atas keinginan untuk menyerah.
Rabu indah tak banyak kata,
Ia datang tanpa gemuruh suara.
Di balik lelah yang kita rasa,
Ada harapan yang terus menyala.
Langit Makassar pagi itu seakan merestui pertemuan penuh makna di Lantai II Hotel Dalton, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 16. Selasa, 14 April 2026, para lanjut usia dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu suasana yang hangat, akrab, dan sarat nilai kebersamaan.
Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Halalbihalal, bukan sekadar seremonial, melainkan ruang untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh waktu, dengan tema: “Merajut Silaturahmi, Menguatkan Kebersamaan Lansia yang Sehat, Bahagia, Bermakna, dan Berdaya Guna.”
Di tengah ruangan yang tertata rapi, wajah-wajah penuh pengalaman tampak berseri. Senyum, sapa, dan jabat tangan menjadi bahasa yang tak memerlukan terjemahan.
Ketua panitia, Siswantoro Nurhadi akrab disapa Wawan menyampaikan bahwa pemilihan hotel sebagai lokasi kegiatan adalah bentuk kepedulian, agar para lansia merasa nyaman, dihargai, dan dimuliakan, terlebih dengan hadirnya anggota baru, Ibu Fidya dari Sendik BRI Makassar.
Kehadiran pembina LLI Sulsel, Dr. Abdul Hayat Gani, M.Si, menambah kekhidmatan. Acara diawali dengan Indonesia Raya, dilanjutkan Mars Lanjut Usia oleh Maria Balawala, lalu lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Yusuf Malli yang menghadirkan suasana hening dan reflektif.
Hikmah Halalbihalal yang disampaikan Dr. Rusli Razak, M.Si, Hj. Andi Yunita Irwan Pabokori, M.Si, dan Drs. H. Syakhruddin DN, M.Si mengalir ringan namun sarat makna.
Dalam sambutannya, Abdul Hayat Gani menegaskan pentingnya perhatian tidak hanya pada aspek fisik lansia, tetapi juga kondisi psikologis mereka. “Lansia bukan hanya membutuhkan perhatian fisik, tetapi juga ketenangan jiwa,” ujarnya.
Kebersamaan pun ditutup dengan foto bersama—momen sederhana yang menyimpan cerita tentang persahabatan, penghormatan, dan harapan.
Kegiatan dilengkapi dengan pengundian arisan bulanan serta perayaan ulang tahun anggota yang lahir di bulan Maret dan April, dengan kebahagiaan khusus dirasakan Dra. St. Amirah Sambe, M.Si yang bertepatan merayakan hari lahirnya.
Usai kegiatan di Hotel Dalton, langkah tak benar-benar berhenti. Perjalanan berlanjut menuju Kampus Bermartabat Universitas Islam Negeri Alauddin, tempat peran kembali diemban sebagai narasumber dalam kegiatan keprotokoleran dan master of ceremony, berdampingan dengan Andi Yunita Irwan Pabokori.
Sebuah kolaborasi yang tak sekadar berbagi panggung, tetapi juga berbagi energi dan tanggung jawab. Di balik ritme yang tampak rapi, kelelahan perlahan mengendap, tenaga terkuras, fokus diuji, dan waktu terasa berjalan lebih cepat.
Bahkan di sela kesibukan itu, Mozaik Kehidupan nyaris terlewatkan. Namun seperti komitmen yang telah terpatri, Mozaik bukan sekadar tulisan, ia adalah denyut refleksi yang harus tetap hidup.
Ketegangan geopolitik kembali menguat ketika China melontarkan kecaman keras terhadap langkah Amerika Serikat yang memblokade jalur vital perdagangan energi dunia di Selat Hormuz. Kebijakan tersebut dinilai sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang berpotensi memperburuk stabilitas global.
Pembatasan lalu lintas kapal menuju dan dari pelabuhan Iran dipandang mengancam kepentingan internasional, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur ini.
China, sebagai salah satu importir utama, mendesak semua pihak menahan diri dan mengedepankan diplomasi, seraya memperingatkan bahwa eskalasi hanya akan memperdalam krisis dan mengguncang perekonomian global yang telah rapuh.
Dinamika politik di Sulawesi Selatan memasuki fase reflektif bagi Partai Golkar. Hasil Pemilu 2024 memunculkan sinyal penurunan dominasi yang selama ini begitu kuat.
Pengamat politik Hasrullah menilai kekalahan di sejumlah titik strategis bukan sekadar hasil kontestasi biasa, melainkan indikator awal melemahnya daya tekan mesin politik Golkar. Basis suara yang dahulu solid kini mulai terfragmentasi, sementara regenerasi kader belum sepenuhnya menjawab dinamika pemilih yang kian berubah.
Ia pun mengingatkan bahwa hasil tersebut adalah “alarm bahaya” menuju 2029. Tanpa konsolidasi internal yang kuat, pembenahan strategi, dan kemampuan membaca arah politik yang lebih adaptif, Golkar berisiko semakin tertinggal.
Momentum ini semestinya menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruhbukan hanya pada struktur organisasi, tetapi juga pada pendekatan komunikasi politik yang lebih relevan dengan generasi pemilih baru.
Sampai di sini dahulu jumpa kita hari ini. Esok waktu akan kembali mempertemukan kita dalam nuansa yang berbeda, namun dengan semangat pagi yang tetap menyala. Sebelum berpisah, izinkan pantun penutup mengalun sederhana ;
Banyak berjalan banyak dilihat,
Banyak singgah menambah cerita
Jika usia masih memberi kesempatan
Esok kita bersua dalam kisah yang lebih bermakna
Salam hormat :Syakhruddin Tagana


Seyogyanya begitu tahu Amerika dan Israel menyerang Iran duluan, negara Indonesia langsung keluar dari Board Of Peace (BOP) sebagai konsekuensi logis posisi indonesia sebagai anggota Non Blok !