SYAKHRUDDINEWS.COM – Sahabat pembaca Mozaik Kehidupan yang budiman, pagi ini kami kembali menyapa Anda, di antara kepulan uap kopi dan layar gawai yang tak pernah benar-benar tidur. Di negeri seluas Nusantara, kabar datang silih berganti: sebagian sempat kita simak, sebagian lain terlewat begitu saja.
Dari serpihan itulah Mozaik Kehidupan mencoba hadir, menyulam makna, merawat empati, dan mengajak kita sejenak menunduk, membaca hidup dengan hati.
Di tengah hiruk-pikuk kabar duka, harapan sederhana tetap kita pelihara: tentang keluarga yang hangat, orang tua yang dirawat penuh cinta, dan rumah yang tetap menjadi pelukan terakhir, bukan panti jompo yang sunyi. Dari sanalah kisah hari ini bermula.
Di kaki Gunung Bulusaraung, seorang pemuda bernama Arman melangkah dengan tekad yang tak biasa. Warga Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep itu dipercaya memimpin tim utama evakuasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.
Bukan karena pangkat, bukan pula gelar, melainkan karena gunung itu telah menyatu dengan denyut nadinya. Jalur-jalur terjal Bulusaraung adalah jalan hidup yang ia kenal seperti garis tangan sendiri.
Di pundaknya, harapan banyak orang dititipkan: semoga langkahnya menuntun tim menemukan mereka yang masih terbaring di lembah sunyi, di balik kabut dan jurang curam.
Di lereng terjal Bulusaraung, tim SAR gabungan menemukan jenazah seorang perempuan dalam kondisi utuh, masih mengenakan name tag. Ia ditemukan Senin, 19 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 Wita, tertahan di batang pohon di tepi jurang.
Lokasinya berada sekitar 500 meter dari puncak, lebih tinggi dari posisi kepala pesawat. Medan ekstrem memaksa semua bergerak dengan sabar. Evakuasi pun menunggu kelengkapan alat, sebab keselamatan penolong adalah amanah yang tak boleh ditukar dengan tergesa.
Malam Selasa, 20 Januari 2026, RS Bhayangkara Makassar diselimuti keheningan yang berat. Sebuah ambulans TNI tiba pukul 22.28 Wita, membawa jenazah pramugari, korban pertama yang berhasil dievakuasi.
Prosesi serah terima di hadapan tim DVI berlangsung tanpa suara. Tangis pecah tanpa kepastian nama. Di ruang tunggu, waktu seolah melambat, menunggu jawaban atas kehilangan yang tak terelakkan.
Di sisi lain, negara berupaya hadir. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengalokasikan dana kebencanaan Rp2,5 miliar untuk menopang seluruh rangkaian pencarian: logistik, operasional, hingga dukungan teknis di medan ekstrem.
Tim kebencanaan dan kesehatan disiagakan, ambulans berjajar. Sebab dalam setiap operasi penyelamatan, nyawa petugas pun harus dijaga.
BMKG kemudian memaparkan analisis cuaca. Secara umum, kondisi bandara masih memenuhi syarat operasional. Namun di sepanjang rute Yogyakarta–Makassar, terpantau awan cumulonimbus tebal membentang luas dari Jawa hingga Sulawesi.
Angin barat berembus sekitar 10 knot pada ketinggian 5.000 kaki, masih dalam batas aman. Alam, sekali lagi, mengingatkan: ia selalu menyimpan sisi yang tak sepenuhnya bisa dijinakkan.
Dari Lombok, niat tulus menyeberangi lautan. Agam Rinjani, pemandu gunung yang pernah viral saat mengevakuasi pendaki Brasil dari jurang 600 meter, menyatakan kesiapan membantu operasi SAR di Bulusaraung. Dengan perlengkapan rappelling dan doa yang menyertai, ia menuliskan niatnya di media sosial.
Dukungan pun mengalir bahkan dari Brasil. Bahasa berbeda, makna sama: kemanusiaan tak mengenal batas negara. Upaya pencarian terus diperkuat. Anjing pelacak K9 akhirnya diturunkan, setelah beberapa hari tertunda akibat cuaca ekstrem. Dari udara, Helikopter Puma milik TNI menyisir wilayah perbatasan Maros–Pangkep. Di darat dan di langit, harapan bergerak bersama.
Semoga mereka yang masih dicari segera ditemukan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan menerima takdir, setenang Gunung Bulusaraung, yang menjadi saksi bisu pengabdian manusia.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana



Semoga apa yang di rencanakan oleh merak Allah yg menentukan dan segera mendapat titik terang
Mantap dan tetap semangat