SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang kami hormati,
Pagi ini Makassar terbangun dalam balutan hujan dan angin yang sesekali mengeras, seakan alam sedang menguji seberapa teguh niat manusia untuk tetap melangkah.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, cuaca tak pernah benar-benar mampu membungkam ikhtiar. Dari serpihan peristiwa yang berserak, kami kembali merangkainya, menjadi kisah tentang pilihan, kehilangan, keteguhan, dan harapan.
Di Gunung Bulusaraung, Pangkep, tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar masih menyisakan duka mendalam. Di balik kabar pilu itu, terselip kisah yang membuat orang terdiam sejenak: Franky D. Tanamal, seorang teknisi pesawat, selamat bukan karena keahlian atau perhitungan teknis, melainkan karena sebuah keputusan sederhana.
Namanya tercatat dalam manifes awal penerbangan. Namun pagi itu, Franky memilih izin tidak terbang, karena ada pelayanan ibadah di gereja.
“Ia izin tidak ikut terbang karena ada pelayanan ibadah,” ujar seorang rekannya lirih, menyebut keselamatan Franky sebagai anugerah Tuhan. Sebuah pilihan yang tampak biasa, tetapi mengubah seluruh jalan hidup.
Pesawat itu membawa tujuh kru. Proses pencarian pun berlangsung berat: tebing curam, jurang ratusan meter, kabut tebal, dan medan yang seolah menolak disentuh. Hingga Senin, dua korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan manusia yang dijemput dengan keberanian dan pengorbanan.
Prajurit Kodam XIV/Hasanuddin, tim SAR gabungan, dan warga lokal, termasuk para pencari madu menembus hutan dan bebatuan. Di sana, kemanusiaan bekerja tanpa banyak kata, tanpa menunggu tepuk tangan.
Sementara itu, jauh dari sunyi pegunungan, kegelisahan tumbuh pelan di ruang-ruang kelas. Di Bandung, seorang guru honorer, Vira Fiolita Ayuwanda, menyuarakan keresahan yang mewakili banyak suara lain.
Kebijakan batas usia P3K membuat pengabdian puluhan tahun para guru senior terancam berhenti. Bagi Vira, ini bukan semata soal status atau angka usia, melainkan tentang ilmu yang seharusnya diwariskan, dan pengalaman yang masih layak menjadi lentera bagi generasi berikutnya.
Di kota besar, keresahan mengambil rupa lain. Jakarta bergulat dengan ancaman penyalahgunaan narkotika, menyusul ratusan pelajar yang terpapar obat keras sepanjang tahun lalu.
Di waktu yang sama, denyut politik nasional kembali terasa, sebuah organisasi masyarakat bertransformasi menjadi partai politik, dan nama lama kembali disebut, seolah mengingatkan bahwa demokrasi selalu menyimpan babak lanjutan.
Namun di antara hiruk-pikuk itu, ada kisah yang paling sunyi sekaligus paling menggetarkan: penantian seorang anak selama 32 tahun. Mohamad Zainuddin akhirnya menemukan ibunya di sebuah dusun di Cilacap.
Berbekal secarik denah dan uluran tangan netizen, perjalanan hidup yang terputus sejak usia tujuh tahun itu menemukan muaranya. Tangis pecah di halaman rumah sederhana. Seorang ibu renta memeluk anak yang lama hilang. Di sana, waktu seperti berhenti sejenak, memberi ruang bagi rindu yang akhirnya pulang.
Di ranah ekonomi, data terbaru menunjukkan ringgit Malaysia menguat sebagai mata uang terkuat di Asia awal tahun ini, sementara rupiah berada di jajaran terbawah.
Angka-angka itu mencerminkan arus modal, kebijakan, dan kepercayaan yang tak selalu berjalan seimbang. Namun di balik statistik, kehidupan tetap berjalan dan rakyatlah yang paling dulu merasakan getarnya.
Dan pagi kemarin, di Kantor Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, harapan kembali disusun dengan rapi. Dalam rapat sederhana namun penuh makna, Ir. H. Zainuddin ditetapkan sebagai Ketua Shelter Warga, didampingi Drs. H. Syakhruddin DN, M.Si sebagai sekretaris, dan Darmawati, SE sebagai bendahara.
Pergantian kepengurusan bukan sekadar susunan nama, melainkan komitmen bersama untuk menghadirkan ruang aman yang benar-benar hidup bagi warga. Achmad Bahari melangkah mundur dengan lapang dada, meninggalkan jejak pengabdian yang patut dikenang.
Demikianlah mozaik hari ini. Dari gunung yang sunyi, kelas yang gelisah, kota yang resah, hingga pelukan ibu yang lama dinanti, hidup terus bergerak. Dan kita belajar memaknainya, satu kisah demi satu kisah.
Semangat pagi, semoga hari ini, kita tetap menemukan alasan untuk peduli (sdn)
Salam hangat : Syakhruddin Tagana

Waspadalah … Waspadalah … Waspadalah